Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dilema Tukang Tembak Thermo Gun: Kemakan Hoaks atau Tidak, Sama-sama Susah

Rafie Mohammad oleh Rafie Mohammad
25 Juli 2020
A A
Dilema Tukang Tembak Thermo Gun_ Kemakan Hoaks atau Tidak, Sama-sama Susah MOJOK.CO

Dilema Tukang Tembak Thermo Gun_ Kemakan Hoaks atau Tidak, Sama-sama Susah MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti lazimnya tiap Jumat siang, saya dan adik saya melenggang ke masjid dekat rumah untuk salat Jumat. Sudah lazim juga melihat saf yang berjarak dan ritual “tembakan” thermo gun sebelum masuk masjid.

Saya sudah terbiasa menyorongkan dahi untuk dicek suhunya. Namun, kali ini tak seperti biasanya, saya malah ra digagas oleh bapak-bapak tukang tembaknya. Alih-alih mengacungkan thermo gun ke dahi, beliau malah mengarahkannya ke lengan saya. Saya dan adik saya cuma nyengir dan bisik-bisik saja.

“Efek broadcast wasap nih!”

Yap, belakangan ini lagi-lagi grup WA menjadi biang kasak-kusuk tak akurat di masyarakat, khususnya bapak-bapak. Kali ini, broadcast hoaks yang beredar adalah kabar bahwa thermo gun memancarkan radiasi laser yang berbahaya bagi otak sehingga harusnya tidak diarahkan ke dahi.

Sudah banyak beredar klarifikasi dari hoaks ini. Misalnya dari situs web Kompas, Detik, dan Klikdokter, yang sayangnya penyebaran informasinya tidak seintensif hoaksnya (mungkin karena judulnya kurang bombastis).

Faktanya, thermo gun medis sama sekali nggak ada laser-lasernya. Pengukuran suhu dilakukan dengan infrared yang sebenarnya sama-sama radiasi elektromagnetik, tetapi menurut standar kesehatan pancaran radiasi yang dikeluarkan relatif rendah sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan otak.

Malah, thermo gun medis harusnya memang ditembakkan ke dahi (atau telinga). Soalnya, di bagian tubuh tersebut terdapat arteri temporal yang jika diukur suhunya dengan thermo gun maka hasilnya relatif akurat. Jika ditembakkan ke bagian tubuh lain yang tidak ada arteri temporalnya, bisa-bisa suhu yang diukur (makin) tidak akurat.

By the way, thermo gun memang ada yang pakai laser, yaitu yang digunakan untuk industri (thermo gun industri dan medis berbeda ya!). Akan tetapi, lasernya tidak digunakan sebagai pengukur suhu, tetapi hanya membantu membidik saja macam laser pointer untuk presentasi itu, lho. Jadi, radiasi dari lasernya hanya sepoi-sepoi saja begitu.

Baca Juga:

Dosa Orang yang Sering Nyampah di Grup WA, Memang Pantas Di-kick

Hoaks Gereja Setan Suka Darah dan Ritual Sex: Halusinasi yang Direplikasi dan Dimonetisasi. Yang Cerita Halu, yang Percaya Ngablu!

Sebagai catatan, laser low power ini memang dapat berefek negatif jika diarahkan ke mata karena dapat merusak retina. Tak heran, laser pembidik ini hanya digunakan di industri, bukan medis. Meski begitu, efek ini muncul karena retina mata memang sangat sensitif, berbeda dengan kulit yang tebal dan tidak sensitif, macam kulit koruptor yang kebal caci maki khalayak ramai.

Terus, kalau misal bapak-bapak tukang tembaknya tahu fakta itu (atau malah saya atau Anda yang jadi bapak-bapaknya), apakah bakal menembakkan thermo gun ke dahi? Yaaaa belum tentu juga sih, xixixi.

Masalahnya, persoalan tembak-ke-dahi-atau-tidak ini ternyata bukan hanya problem kesehatan saja. Ada konteks sosial budaya yang juga terkandung di dalamnya. Clickbait sekali kan? “TERNYATA THERMO GUN TIDAK HANYA UNTUK KESEHATAN SAJA!! FAKTA NO 5 BIKIN KAGET”, wadidaw~

Kalau menemui orang kayak bapak-bapak tukang tembak thermo gun tadi, jangan buru-buru menuding beliau termakan hoaks ya (meski kayaknya iya, sih). Siapa tahu beliau sudah paham, tetapi terpaksa tetap melakukan hal itu karena tuntutan masyarakat.

Jika Anda (dan saya) ada di posisi si bapak, mungkin kita akan melakukan hal yang sama. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya seperti ini:

Bayangkan saja, setelah tersebarnya isu itu ke grup WA, Anda tetap konsisten bertugas mengukur suhu orang-orang dengan tembakan ke dahi seperti biasanya. Lalu datang seorang bapak-bapak paruh baya, sebut saja Pak Jono (mohon maap bagi yang merasa namanya Jono). Dengan cekatan, Anda mengacungkan ke dahi Pak Jono, yang langsung ditepisnya sambil kaget.

“Heh ngawur ya kamu!” Teriak Pak Jono.

Anda (atau saya) membalas sambil kebingungan, “Lho, kenapa Pak?”

“Mau ngerusak otak saya ya!”

“Hah? Apa hubungannya Pak?”

“Lha itu termometernya pakai laser yang radiasinya bisa merusak otak!”

“Ini aman kok Pak…”

“Gimana to ini kok ndak paham? Sudah banyak infonya yang beredar di grup-grup WA itu!”

“Pak, alat ini kan pakainya infrared bukan laser, Insyaallah aman…”

“Itu infonya dari ahli-ahli lho! Yang ngeshare Pak Camat lulusan S2! Kamu nggak usah sok pinter ya!”

Jika sudah bertemu orang yang teguh pendirian seperti itu, kemungkinannya hanya dua. Kalau bukan mengalah, ya baku hantam. Dilema, kan?

Mau keukeuh mengukur di dahi, kok ya macam cari perkara. Mau diam dan manut saja, jadinya malah melestarikan kebodohan ketidaktahuan.

Masalah ini akan cukup merepotkan, terutama jika Anda berhadapan dengan orang yang lebih senior atau berpengaruh. Tidak hanya repot berargumen, bisa jadi Anda menghadapi argumentum ad hominem seperti “tidak sopan”, “melawan orang tua”, “anak kayak kamu tahu apa”, dan semacamnya.

Belum lagi jika perdebatan thermo gun itu terjadi di keramaian, bisa-bisa jadi tontonan, bahan gosip, bahkan dicibir orang. Lebih jauh lagi, kabar burung yang menyebar mulut ke mulut bisa berubah-ubah bunyinya. Tahu-tahu, Anda dituduh jadi pembunuh, agen BIN, atau antek aseng.

Oleh sebab itu, saran saya, sebaiknya tidak perlu terlalu ambil pusing jika berhadapan dengan orang-orang seperti ini, lebih baik mengalah saja. Ada pengecualian jika orang yang dihadapi cukup bisa mendengarkan kata-kata Anda, atau Anda memang sedang gabut dan cari kesibukan dengan debat kusir. Satu hal lagi, hindari job jadi tukang tembak thermo gun!

BACA JUGA Sesempurna-sempurnanya Innova Diesel, Tetap Ada Bagian Menyebalkannya dan ulasan otomotif Rafie Mohammad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Juli 2020 oleh

Tags: hoakshoaks grup WApandemi coronathermo gun
Rafie Mohammad

Rafie Mohammad

ArtikelTerkait

solidaritas rakyat

Solidaritas Rakyat Bantu Rakyat Bikin Pengin Nanya Emang Pemerintahnya ke Mana?

23 April 2020
Lomba Cipta Lagu Corona dan Lelahnya Kita dengan Semua Omong Kosong Ini terminal mojok.co

Lomba Cipta Lagu Corona dan Lelahnya Kita dengan Semua Omong Kosong Ini

28 September 2020
Membandingkan Tiga Merek Sabun Cuci Tangan Harga Sepuluh Ribuan, Mana yang Terbaik? terminal mojok.co

Membandingkan Tiga Merek Sabun Cuci Tangan Harga Sepuluh Ribuan, Mana yang Terbaik?

26 November 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas?

9 Mei 2020
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga

23 Mei 2020
tattoo artist

Sambatan Mas Pacar yang Seorang Tattoo Artist di Tengah Pandemi

17 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.