Desa Jangkar Bangkalan: desa paling anomali di Madura saat musim kemarau, tapi bikin desa lain cemburu

Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi

Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi (unsplash.com)

Saya pernah berpendapat bahwa Desa Jangkar Bangkalan adalah desa paling nyaman di Madura. Sejauh ini, rasanya belum ada yang berhasil menyangkal pendapat saya tersebut. Bahkan makin lama, dan makin jauh direnungkan, semakin banyak bukti kalau dasa saya ini memang patut menyandang predikat sebagai desa ternyaman.

Terbaru, ketika musim kemarau datang seperti saat ini, ada perbedaan mencolok yang terjadi di desa saya dengan daerah lain di dunia, khususnya di Madura. Hehehe. Kalau kita perhatikan, di wilayah-wilayah lain ada yang embun paginya sampai jadi es karena saking dinginnya. Sementara di belahan bumi lain, ada yang sampai disemprot-semprot air saking panasnya.

Nah, di Desa Jangkar Tanah Merah tidak ada fenomena seperti itu. Pas malam, suhu dingin tidak mengganggu anak-anak yang main layangan. Pas siang, panas matahari juga tidak mengganggu aktivitas orang-orang. Tapi bukan itu saja yang membuat desa ini berbeda, ada hal lain yang membuatnya terlihat bak anomali saat musim kemarau. Nah, berikut saya jelaskan!

Musim kemarau malah jadi pertanda musim buah-buahan

Alasan utama yang membuat desa ini anomali yakni musim kemarau lebih sering mendatangkan keberkahan bagi masyarakat desa ini. Biasanya kan, musim kemarau kerap membuat tanaman mati karena curah hujan yang rendah, di Desa Jangkar Tanah Merah malah sebaliknya. Saat kemarau, banyak tanaman malah muncul dengan sisi terbaiknya. Maksud saya mereka mulai berbunga, dan tahap akhirnya desa ini memasuki musim buah-buahan. Keren sekali bukan!

Misalnya musim kemarau sekarang ini, banyak tanaman di desa saya yang malah mulai berbunga. Mulai dari mangga, melinjo, jambu mente, sampai rambutan, semua berbunga bersamaan. Saya yakin, bentar lagi pohon durian samping rumah saya juga akan berbunga. Pun seperti biasa, musim buah ini akan bertahan sampai berbulan-bulan secara bergantian.

Ya sebetulnya ini bukan anomali sih, sebab memang saat musim kemarau, sinar matahari secara maksimal membantu metabolisme tumbuhan. Makanya, di desa yang tanahnya subur seperti di desa saya, musim kemarau malah bikin tanaman makin sehat.

Oiya, dan lagi, karena tidak ada hujan, hasil buahnya juga akan lebih melimpah sebab tidak ada gangguan yang bikin bunganya luntur. Hayo, dengan demikian, desa mana yang tidak iri sama Desa Jangkar. 

Desa Jangkar tidak pernah kekeringan

Selanjutnya, selain buah-buahan yang melimpah, agaknya Desa Jangkar Bangkalan juga dianugerahi cadangan air yang tak ada habisnya. Biasanya, ketika musim kemarau panjang terjadi di Madura, beberapa desa banyak yang sampai terjadi kekeringan. Sumur-sumur sampai habis airnya. Bahkan, masyarakat harus mendatangkan tangki air, entah dengan membeli atau bantuan dari pemerintah.

Nah, saya sedikit heran, hal ini agaknya tidak pernah terjadi di Desa Jangkar. Seberapa lama pun kemarau terjadi di desa ini, air tidak sulit untuk didapat. Meskipun akhirnya air tak bisa disalurkan dengan paralon, desa ini punya sumur cadangan yang airnya tak pernah habis meski kemarau panjang. Tapi ini sangat jarang sekali.

Yah, mungkin ini pula yang membuat desa saya ini menjadi sangat subur. Cadangan air di dalam tanahnya cukup melimpah.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Anomali yang patut disyukuri

Yang saya jelaskan di atas hanyalah beberapa anomali dari Desa Jangkar Bangkalan. Tapi meskipun anomali, hal itulah yang sebetulnya sering kali bikin desa lain iri pada desa saya  ini. Misalnya, kalau sudah musim buah, teman-teman saya dari desa sebelah sering kali memaksa ingin berkunjung ke rumah. Tujuannya tidak ada yang lain selain ngincer durian atau rambutan di halaman rumah saya. Wkwkwk.

Saya yakin, hal ini tidak dirasakan oleh saya saja, tapi semua masyarakat di Desa Jangkar. Maka dari itu, patutlah kita bersyukur bisa tinggal di desa yang tanahnya sangat subur ini. Kalau kita bisa mengelola dan memanfaatkan anugerah ini dengan baik tentu kehidupan masyarakat kita akan lebih makmur.

Ya, demikian penjelasan dari saya betapa anomalinya Desa Jangkar Bangkalan. Saya pribadi berharap semoga tanah ini bisa tetap terus kita jaga, terutama kesuburannya. Tak ada dalam pikiran saya muncul harapan mengubah wilayah ini jadi kawasan kota. Ya masa, tanah sebagus ini mau diganti beton dan aspal, kan eman, kdo!

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version