Derita Orang yang Nggak Bisa Berenang: Diejek dan Beraninya Bermain Air di Kolam Cetek

Artikel

Seto Wicaksono

Sebagai seseorang yang tidak jago berenang—lebih tepatnya tidak bisa—saya sering kali mendapat ejekan dari teman-teman ketika menolak ajakan pergi ke kolam renang. Mereka selalu bisa menebak alasan utama saya tidak ikut, yakni karena tidak bisa berenang. Alasan tersebut hampir selalu dijadikan bahan bercandaan.

“Hahaha, udah besar masih aja belum bisa renang. Makanya belajar dong!”

Awalnya saya merasa biasa saja dan tidak menanggapi secara serius ejekan tersebut. Tapi, ternyata semakin lama rasanya bikin mangkel juga. Mau melawan ejekan tersebut tapi ya kenyataannya memang seperti itu. Jadi, rasanya tidak ada celah bagi saya untuk membela diri sendiri. Akhirnya, saya hanya bisa pasrah mendengar celotehan tersebut terus-menerus, khususnya pada saat ada rencana untuk pergi berenang.

Tidak hanya satu-dua kali saya diejek hanya karena tidak bisa renang. Sewaktu SMP, saya ingat betul bagaimana dengan lantangnya banyak teman bilang bahwa saya cupu (culun), hanya karena tidak bisa renang saat ada ujian mata pelajaran olahraga. Kala itu, meski tidak bisa renang, saya tetap ikut turun di kolam yang memiliki kedalaman 1,3 meter. Alhasil, saya hanya berjalan di dalam air (di pinggiran kolam) sambil memegang sisi kolam. Di saat yang bersamaan, saya dicemooh oleh banyak teman, “Wooo, nggak bisa renang, wooo!” Perkataan itu masih membekas hingga sekarang.

Pada waktu itu saya sempat berpikir, memang apa yang salah sih dengan orang yang tidak bisa renang? Kemudian jika memang bisa berenang, apakah harus membuat pengumuman agar orang lain tahu, lalu membanggakan diri sambil mengejek orang lain? Kenapa nggak menawarkan bantuan untuk belajar renang aja, sih?

Saya sendiri tidak pasrah begitu saja. Setelah sering diejek, akhirnya saya memutuskan untuk belajar renang. Untuk permulaan, saya mulai dari kolan yang cetek, tentu saja di kedalaman 50 cm terlebih dulu. Meski terkesan memalukan dan tidak berguna, saya coba mengambang di kolam tersebut sambil mengepakkan kaki. Tetap tidak mudah memang, tapi lebih baik dibanding tidak berusaha sama sekali. Setelah beberapa kali mencoba, ternyata berenang masih terasa sulit bagi saya. Hehehe.

Baca Juga:  Menanggapi Artikel Memiliki Teman yang Mengaku LGBT: Menjadi LGBT Bukanlah Sesuatu yang Kami Pilih

Karena tidak kunjung bisa, selama SMP jika ada tes berenang saya hanya ikut ke kolam tanpa berenang. Sebagai gantinya, saya selalu diminta untuk mengerjakan soal dari guru olahraga. Beliau bilang, sebagai tes pengganti karena saya tidak ikut materi atau ujian berenang.

Kebiasaan untuk tidak ikut berenang saat ada ujian olahraga pun berlanjut hingga SMA. Beruntung, ketika SMA guru olahraga saya memang tidak mewajibkan semua siswa untuk ikut berenang—apalagi bagi mereka yang tidak bisa. Namun, syaratnya harus tetap datang dan masuk ke tempat berenang dan memerhatikan juga mengerjakan soal yang diberikan.

Pada akhirnya, saat ini saya merasakan sendiri imbas dari malas belajar renang. Jika sedang berlibur ke pantai, di saat yang lain dengan luwesnya bermain di antara ombak yang cukup tinggi, saya hanya berani bermain di pesisir pantai sambil bermain ombak tanpa memiliki keberanian untuk mencoba berenang sedikit ke tengah. Bahkan ketika berkunjung ke suatu kolam renang, saya hanya berdiri di kolam yang memiliki kedalaman maksimal 1,5 meter. Lebih tepatnya hanya bermain air atau perosotan.

Dan kini, saya mulai berpikir, sepertinya pemikiran tentang tidak perlu bisa berenang itu terlalu naif, nyatanya saya harus tetap belajar berenang sampai bisa. Bukan untuk gaya-gayaan, paling tidak sekadar bisa. Mau bagaimanapun, berenang akan menjadi salah satu kemampuan yang dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Selain itu, agar tidak mendapat ejekan dari beberapa teman juga, sih. Wqwqwq.

Setidaknya, dengan bisa berenang, jika suatu hari saya diajak ke kolam renang, yang saya lakukan bukan hanya bermain air dan perosotan saja, tapi juga berenang sebagaimana mestinya. Namun, mungkin akan terasa sangat terlambat karena semisal saya sudah bisa renang, teman-teman yang lain sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Lha, ngapain juga masih mengejek saya yang tidak bisa berenang. Selain masanya sudah lewat, mungkin juga mereka sudah tidak antusias menyaksikan pembuktian saya kalau pun kelak sudah bisa berenang.

Baca Juga:  Sudah Tahu Renang Nggak Bisa Bikin Hamil, tapi kok Masih Diberitakan?

BACA JUGA Jika Dilakukan dengan Benar, Berenang Saat Haid Nggak Akan Bikin Onar atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
9


Komentar

Comments are closed.