Jombang dan Depok, dua daerah yang kalau diperhatikan sekilas, tak memiliki kesamaan. Sebab yang satu ada di Jawa Timur, satunya lagi di Jawa Barat. Letak geografis yang terpisah jauh membuat kedua daerah ini kayak gak punya titik temu dalam kesamaan. Sebagai orang yang beberapa kali mampir ke 2 daerah ini, awalnya saya pun meyakini hal itu.
Budaya dan kehidupan sosial masyarakat yang kontras serta status kedaerahan yang berbeda (satunya kabupaten, satunya kota), membuat kedua daerah ini seolah punya peradaban yang tak bisa disamakan satu sama lain.
Tapi, belakangan, saya menyadari ada beberapa hal yang menjadi benang merah antara Jombang dan Depok. Benang merah tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa Jombang sejatinya adalah versi Jawa Timurnya Depok.
Paradoks antara branding dan realitas di masyarakat
Kita semua tahu kalau Depok ini termasuk salah satu Kota Penyangga. Jadi budaya modern pasti sudah melekat di lingkungan masyarakatnya. Nah persoalannya, branding daerah modern dan urbannya ini nggak membuatnya lepas dari unsur mistis dan konyol. Deretan fenomena aneh sering muncul dari kota satu ini, mulai dari kemunculan kolor ijo, keranda terbang, babi ngepet, sampai yang paling menghebohkan dan dijadikan candaan adalah kemunculan UFO.
Bahkan sempat ada berita yang mengklaim kalau Imam Mahdi itu munculnya di Depok.
Deretan keanehan itu menyebar dengan narasi yang tentu ditambah-tambahkan dan seolah seperti beneran gitu. Sehingga jadi viral.
Sama halnya dengan di Jombang. Daerah ini adalah cerminan religiusitas karena brandingnya yang jadi salah satu kota santri. Pondok besar seperti Tebuireng dan Tambak Beras, ada di Jombang. Tapi ironisnya, daerah ini secara bersamaan menyuburkan kepercayaan mistis yang mengarah pada hal yang musyrik gitu. Mohon maaf nih, fenomena Batu Ponari adalah salah satu contoh dari tindakan tak masuk akal orang-orang Jombang yang meramaikan sesuatu yang mengoyak nalar.
Maksud saya, kok bisa percaya dengan khasiat dari batu yang dipegang oleh anak kecil. Apa nggak musyrik ya?
Jombang religius, tapi…
Selain itu, di Jombang juga ada makam terkenal yaitu Makam Medeleg yang jadi simbol pesugihan. Makam ini dipercaya angker tapi jadi tempat yang ramai dikunjungi karena dianggap membawa berkah. Kan nggak nyambung, angker tapi dianggap berkah?
Loh bukannya tingkat religiusitas itu bisa saja berbanding lurus dengan kepercayaan dengan hal-hal gaib? Yah iman kepada hal gaib itu nggak salah, yang salah adalah membuatnya hiperbolis sampe menepikan peran Tuhan. Lihat daerah macam ramai santri Rembang, Pati, atau Kendal? Nggak ada tuh viral nyeleneh mistis yang berlebihan.
Jadi agak absurd aja gitu, di satu sisi daerah ini dipenuhi oleh keramaian santri yang bershalawat, berdzikir, dan beribadah, sehingga nampak agamis, tapi di sisi lain ada yang malamnya ke makam ngasih sesaji. Apalagi pas zaman viralnya ponari.
Apa yang saya uraikan di atas memberikan gambaran bagaimana Depok dan Jombang sama-sama menyimpan paradoks keanehan berbau takhayul. Satunya brandingnya kota penyangga yang modern (bahkan ada UI di sana), tapi nyatanya masih sempat-sempatnya ngurusin babi ngepet dan UFO. Yang satunya lagi punya citra agamis dan spiritualis, tapi di sisi lain masyarakatnya masih terbuai dengan hal-hal mistis yang aneh.
Kesamaan nasib Depok dan Jombang dari sisi sosial ekonomi
Selain kesamaan dari sisi keanehan yang mistis, Jombang dan Depok punya kesamaan nasib dari sisi sosial-ekonomi. Dua daerah ini kayak kembar beda provinsi. Depok misalnya, ini adalah gambaran tentang sebuah kota yang terjebak di tengah laju modernitas. Sebab, secara jarak memang dekat dengan ibu kota, tapi secara sosial dan ekonomi, belum selesai menata dirinya.
Rata-rata harga tanah di Depok sudah menembus Rp 10–12 juta/m² di area utama seperti Margonda, hampir menyamai pinggiran Jakarta Selatan. Tapi aksesnya begitu terbatas. Contohnya, kawasan sekitar Margonda yang dikelilingi apartemen tinggi (Taman Melati, Evenciio, Margonda Residence), tapi akses jalannya mirip gang kos-kosan, membuat macet permanen setiap jam pulang kerja. Bahkan ada kelakar kalau “Google Maps menyerah di Depok.” Sangking njlimetnya kota satu ini.
Selain itu, ketimpangan juga sangat terasa. Di belakang perumahan elite seperti Grand Depok City, bisa langsung terlihat kampung padat dengan rumah semi-permanen. Di sisi lain, ada kompleks perumahan dengan danau buatan dan taman Instagramable, tapi 200 meter dari situ ada gang dengan saluran air tersumbat dan kabel menjuntai seenaknya.
Jombang sendiri dengan brandingnya Kota Pesantren, belakangan terjebak sebagai daerah yang nanggung. Sebab, kalau melihat di luar lingkar area Tebuireng dan Tambakberas, akan terlihat wajah sebuah daerah yang terasa seperti proyek yang belum selesai. Ada banyak proyek setengah jadi yang terbengkalai, mulai dari jalanan yang tak tuntas diaspal dan gedung pelayanan publik baru setahun sudah dibongkar karena rusak.
Paling terkenal ya Proyek Mal Pelayanan Publik (MPP) di ruko Simpang Tiga Mojongapit yang harus direhab total pada 2025 dengan dana Rp14 miliar setelah sebelumnya mangkrak. Atau jalan lingkungan di Desa Mejoyolosari juga diselidiki karena diduga fiktif dan berpindah lokasi tanpa izin musrenbang.
Depok dan Jombang, keluarga yang terpisah
Kedua daerah ini menjumpai nasib yang sama, pembangunan yang nanggung. Depok dengan branding urbannya, tapi dalam proses kemajuannya melahirkan keanehan sosial, yaitu mall megah berdiri di atas fondasi gang becek, di mana di dalamnya warga elite dan buruh ojek terjebak macet yang sama. Gambaran bagaimana modernitas dan kekumuhan bertetangga.
Sementara Jombang adalah laboratorium sosial yang menjadi kota religius tapi anehnya terjebak di antara tradisi lama dan pembangunan yang tak rampung. “Kemajuan” datang dalam bentuk spanduk proyek, bukan hasilnya.
Pada akhirnya, Depok dan Jombang adalah gambaran bagaimana sebuah daerah bisa punya kesamaan di tengah perbedaan, yaitu tentang keanehan. Dua daerah yang sama-sama sibuk menguatkan citra diri sebagai kota modern dan agamis, tapi tanpa sadar tetap memelihara hal mistis, tahayul, dan konyol, dengan tetap terkungkung pada pembangunan sosial-ekonomi yang tak rampung.
Depok dan Jombang mungkin nggak punya hubungan darah. Tapi kalau keanehan itu genetik, dua kota ini jelas satu keluarga, cuma beda provinsi aja.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Setelah 3 Bulan Tinggal di Depok, Saya Sadar Ternyata Depok Itu Indah Jika Bisa Menikmatinya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















