Informasi
ADVERTISEMENT

Dear penyelenggara, Kota Bandung itu nggak cocok untuk event lari, tolong jangan dipaksakan

Dear penyelenggara, Kota Bandung itu nggak cocok untuk event lari, tolong jangan dipaksakan Mojok.co

Setahun ke belakang ada banyak event lari digelar di Kota Bandung. Terakhir ada Pocari Sweat Run 2026 yang menuai pro dan kontra dari warga. Sekalipun waktu start lari sudah dimajukan dan menghapus kategori full marathon demi meminimalisir hambatan lalu lintas, acara ini masih saja kena semprot warga. 

Dari luar, Pocari Sweat Run 2026 memang terlihat sukses. Katanya, acara ini mampu menghadirkan suasana Bandung yang estetik, khususnya bagi pelari dari luar kota Bandung. Namun, warga Bandung masih ada yang kontra atau tidak setuju dengan acara ini, mungkin juga acara-acara lari sebelumnya dan yang akan datang.  

Menurut warlok, Bandung tidak cocok untuk event lari

Sulit dimungkiri, event lari skala besar memang dapat mendatangkan manfaat ekonomi. Bayangkan saja, setidaknya 16.000 pelari hadir di Bandung demi mengikuti Pocari Sweat Run 2026 atau acara lain dengan skala serupa. Estimasi keuntungan dari acara ini bisa mencapai Rp89 miliar. 

Mereka yang pro terhadap event lari menyayangkan warlok yang kontra karena tidak bisa melihat manfaat ekonomi ini. Sementara, mereka yang kontra lebih menekankan betapa mengganggu acara ini terhadap mobilitas warga di akhir pekan. 

Selain itu, mereka yang kontra melihat jalanan Bandung itu nggak cocok untuk aktivitas lari. Sebagai warlok Bandung yang hapal di luar kepala kondisi kota ini dan suka lari, saya setuju dengan pendapat itu. Menurut referensi dari Shiliang Su (2026), lingkungan atau wilayah yang disukai atau cocok untuk pelari itu seharusnya punya lingkungan yang punya konsentrasi taman dan ruang terbuka hijau yang memadai. 

Selain itu, kawasannya juga tidak boleh terlalu padat, baik itu dari segi populasi maupun kepadatan bangunan. Termasuk, punya trotoar yang layak, lebar jalan yang memadai. Dan, yang paling penting nggak banyak persimpangan jalan acak.

Di Bandung sendiri gimana? Jujur, trotoar rusak dan jalanan sempit masih menjadi musuh utama saya ketika berlari.

Pelari biasanya bisa milih mau lari di trotoar atau di pinggir jalan. Nah, kalau di Bandung nggak bisa tuh. Lari di trotoar udah kayak latihan ninja warrior, ada obstacles tiang listrik, tumpukan paving block, dan asap dari bakaran sampah. 

Kalau lari di pinggir jalan lebih menantang lagi. Latihan lari zig-zag di jalanan bolong, waswas kena serempet motor, belum lagi mobil yang parkir di pinggir jalan. 

Warlok wajar untuk mengeluh

Warga Bandung yang setiap hari harus menghadapi sejuta problematika sangat dimaklumi buat ngeluh. Mau berangkat kerja macet, pulang kerja kemaleman banyak begal, lampu penerangan jalan minim, weekend mau refreshing macet lagi gara-gara event lari. 

Sebenarnya tidak ada yang salah mengadakan event lari di Bandung, tapi saya sarankan jangan di tengah kota. Masih banyak daerah di Bandung yang tidak terlalu padat dan bukan pusat mobilisasi warga.

Bagaimanapun juga semua warga berhak untuk mendapatkan kenyamanan yang sama. Entah itu, para pekerja, pedagang, pengusaha, ataupun turis sekalipun. Semua berhak mendapatkan kota yang nyaman.

Penulis: Mochammad Malik Fajar
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Mochammad Malik Fajar

Kontributor aktif media opini dan satir.