Informasi
ADVERTISEMENT

Mahasiswa tidak usah merasa penting, Jatinangor akan baik-baik saja tanpa kehadiran kalian

Membayangkan betapa menyenangkan Jatinangor tanpa ITB, Unpad, dan IPDN Mojok.co

​Ada satu penyakit yang sering menjangkiti mahasiswa di Jatinangor: merasa dirinya penting. Bukan penting secara akademik, melainkan merasa Jatinangor tidak bisa hidup tanpa kita. Begitu libur semester dan mahasiswa mudik, media sosial mendadak penuh keluhan tentang Jatinangor yang sepi. 

Keluhannya dramatis. Seolah-olah sepinya Jatinangor pantas jadi tragedi nasional. Padahal, Jatinangor tidak sedang kehilangan kehidupannya, daerah ini hanya sedang kehilangan konsumen.

Entah bagaimana bayangan banyak orang terhadap daerah ini sebelum menjadi seperti sekarang. Barang kali, para mahasiswa ini merasa, tanpa mereka Jatinagor bukanlah apa-apa. Padahal, sebelum para mahasiswa datang membawa jas almamater, KTM, totebag organisasi, dan motor knalpot bising, Jatinangor baik-baik saja. 

Daerah yang baik-baik saja

Jatinangor sudah punya kehidupan jauh sebelum kampus-kampus dan ribuan mahasiswa ini berdiri. Ada masyarakat yang bertani, berdagang, dan membangun ruang sosialnya sendiri. Kehadiran kampus lalu mengubah segalanya, tanah bernilai mahal, rumah warga berubah jadi kos-kosan, dan jalanan padat. Kita menyebutnya “pembangunan”, padahal itu cuma alih fungsi ruang hidup.

​Mari beri imajinasi sedikit. Bayangkan suatu pagi Jatinangor tanpa aktivitas kampus. Tidak ada ribuan motor memenuhi jalan, tidak ada yang menyeberang sembarangan sambil melihat layar ponsel, dan tidak ada kemacetan horor. Jalanan lengang, udara segar, sampah berkurang. Daerah ini terasa lebih tenang, hijau, dan manusiawi. 

Memang usaha lokal kehilangan sebagian konsumen, tetapi kehidupan sebuah wilayah jauh lebih luas dari sekadar dompet mahasiswa. Jatinangor tidak mati saat kita pergi, dia cuma berhenti bekerja lembur melayani kita.

​Lucunya, mahasiswa punya kemampuan ajaib menganggap konsumsi sebagai aksi kepahlawanan. Beli nasi goreng merasa membantu ekonomi lokal, beli kopi bikin captionsupport local business”. 

Padahal itu cuma beli makan, bukan program pemulihan ekonomi nasional. Kehadiran mahasiswa memang memutar uang, tetapi juga merusak struktur sosial-ekonomi. Warga yang dulu punya lahan, kini bergeser jadi pengelola kos atau pekerja jasa. Jadi, kalimat yang lebih jujur bukan “mahasiswa menghidupkan Jatinangor”, melainkan “mahasiswa mengubah cara Jatinangor bekerja.”

“Dosa” pada Jatinangor

​Tentu saja, dosa ini tidak bisa sepenuhnya ditimpakan ke bahu mahasiswa. Ada aktor yang jauh lebih permanen: institusi kampus. Unpad, ITB, dan IPDN mendatangkan puluhan ribu manusia tiap tahun beserta dampak lingkungan yang menyertainya. Celakanya, kampus-kampus ini punya ribuan dosen, peneliti, dan laboratorium. 

Masalah Jatinangor, mulai dari banjir, macet, sampai sampah selalu diteliti. Namun, setelah masuk jurnal, apa kelanjutannya? Jangan sampai daerah ini hanya dijadikan laboratorium raksasa tempat kampus mengambil data, sementara warganya tetap menderita. Kampus harus bertanggung jawab secara nyata atas ruang hidup di sekitarnya.

​Keberadaan kampus memang memberikan rezeki bagi sebagian warga lewat kos-kosan dan warung. Namun, masalahnya ada pada sudut pandang kita. Kita terlalu mudah merasa sebagai penyelamat hanya karena bahwa telah memberi “kehidupan”.

​Itu mengapa, sudah saatnya mahasiswa menurunkan ego. Jatinangor bukan milik mahasiswa atau halaman belakang kampus semata. Ia adalah rumah bagi warga lokal yang sudah ada jauh sebelum kita datang. Kita datang untuk belajar, bukan untuk mengajari warga cara bertahan hidup di tengah kemacetan dan kenaikan harga tanah yang tak pernah mereka minta.

​Jadi, ketika libur semester tiba dan jalanan mendadak lengang, tak perlu bikin unggahan sentimental. Jalan yang sepi bukan berarti kota mati, dan kosan yang kosong bukan berarti Jatinangor kehilangan identitas. Jangan-jangan, yang selama ini kita sebut “Jatinangor hidup” hanyalah Jatinangor yang sedang sibuk melayani kita. Dan, saat kita pulang kampung, Jatinangor bukannya mati, ia cuma akhirnya punya waktu untuk bernapas.

Penulis: Irpan Maulana Arip
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 September 2026 oleh .

Irpan Maulana Arip

Kontributor aktif media opini dan satir.