Informasi
ADVERTISEMENT

Menjadi pejuang LDR Sumenep-Yogyakarta itu mengerikan, beratnya minta ampun

Menjadi pejuang LDR Sumenep Yogyakarta itu mengerikan, beratnya minta ampun

Membangun hubungan LDR adalah perjuangan yang begitu berat. Ada hati yang sedang menanggung rindu, tapi tak bisa segera bertemu. Ada kepala yang berat dengan beban kehidupan, tapi tak bisa bersandar pada bahunya. Serta, ada air mata yang ingin jatuh, tapi tak bisa dihapus oleh tangannya. Beban berat itu semakin terasa jika menjadi pejuang LDR dari Sumenep.

Bukan karena orang Sumenep tidak bisa menjaga kesetiaan, masalah setia jangan ragukan orang Sumenep. Masalah bagi pejuang LDR dari Sumenep ada pada masalah jarak dan uang. 

Masalah jarak  tidak terlalu signifikan bagi pejuang LDR yang ada di Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Soalnya tiga wilayah Madura tersebut tidak terlalu berada di ujung sehingga waktu perjalanannya tidak semelelahkan dari Sumenep. Dengan jarak yang tidak sejauh Sumenep, maka biaya transportasi yang harus dibayarkan juga tidak mahal. Misalnya saja dari Bangkalan ke Surabaya naik bus, bisa hanya mengeluarkan uang Rp5 ribu. 

Sebagai orang Sumenep yang menjalani LDR, terkadang saya merasa ingin hidup di salah satu dari tiga kabupaten tadi. Kebetulan kekasih saya berasal dari Mojokerto dan sedang menempuh pendidikan magister di Yogyakarta. Dari sana, saya baru merasakan bagaimana merepotkannya letak Sumenep, yang berada di paling ujung timur Pulau Madura. 

Sebelum LDR Sumenep Jogja

Sebelum menjalani LDR, saya merasa lokasi Sumenep yang berada di paling ujung timur Pulau Madura adalah keberkahan. Dengan berada paling ujung, membuat lalu lintas di Sumenep tidak ramai sehingga nggak berisik.

Namun, semua berubah ketika untuk bisa bertemu dengan kekasih di Yogyakarta, saya harus menempuh perjalanan selama 10 jam. Perjalanan 10 jam bukan menjadi persoalan bagi orang yang punya fisik tulang besi, tapi beda cerita kalau fisiknya jompo. 

Punggung saya kalau sudah duduk lebih dari 1 jam akan terasa nyeri dan kaki akan terasa kesemutan. Makanya kalau sudah menempuh perjalanan jarak jauh, saya tak punya energi,  buat  bangun dari kasur saja terasa sulit. Maksud hati ingin berjumpa kekasih dengan segala adegan romantisnya, malah buyar. 

Pernah ketika saya harus terpaksa menjumpai kekasih di Surabaya karena ada rindu yang tak bisa dipaksa, tapi untuk sampai ke Yogyakarta ada fisik yang tak bisa dipaksa. Waktu di Surabaya, kekasih saya minta untuk jalan-jalan ke Tunjungan, kulineran ke Surabaya Barat, dan menikmati danau Unesa Lidah Wetan. Tiga lokasi tadi jaraknya berjauhan. 

Apa yang terjadi? Semua rencana yang disusun tidak ada yang terealisasi. Sebab, saya yang sudah menempuh perjalanan Sumenep–Surabaya dengan waktu 5 jam lebih, merasa tidak ada energi. Akhirnya, hanya memutuskan untuk mampir makan di dekat tempat saya menginap. 

Sumenep nggak sebegitu menyebalkan kalau transportasinya nyaman

Sebenarnya, jarak jauh Sumenep tidak akan terasa signifikan kalau didukung oleh sarana transportasi yang nyaman. Sayangnya, hingga sekarang belum ada jalan tol berdiri di Madura. Padahal, keberadaan jalan tol bisa membantu memangkas waktu perjalanan. 

Ditambah lagi perjalan dari Sumenep hingga Surabaya, penuh dengan titik kemacetan. Di Pamekasan, sering macet di area Pasar Keppo, di Sampang sering macet di area pasar Tanjung, apalagi Bangkalan ada tiga titik kemacetan: pasar Blega, pasar Galis, dan pasar Tanah Merah. Terus di Surabaya biasanya macet di area Kenjeran. Berbagai kemacetan yang terjadi, pada akhirnya membuat energi kian terkuras. 

Uang, uang, dan uang

Masalah jarak, begitu rumit bukan? Belum masalah kedua, yakni uang. Menjadi pejuang LDR dari Sumenep, tidak rumah pada aspek ekonomi. Urusan akomodasi saja sudah mahal. Perjalanan dari Sumenep–Surabaya dengan bus patas saja, harus merogoh uang Rp90 ribu. Jadi kalau PP Sumenep–Surabaya sudah menghabiskan uang Rp180 ribu. 

Sebenarnya kalau mau lebih murah, bisa diakalin dengan naik bus ekonomi. Tarif bus ekonomi hanya Rp60 ribu. Cuman kalau naik bus ekonomi Madura, hanya akan semakin menguras fisik, bahkan mental ikut kena. Soalnya kondisi busnya yang nauzubillah akan membuat duduk jadi tidak nyaman. Tidak jarang AC-nya sering bocor sehingga ingin marah bawaannya. Apalagi kalau sopirnya ugal-ugalan, rasa ingin marah semakin meronta-ronta. 

Kalau mau lebih nyaman sebenarnya bisa naik travel. Kalau naik travel akan dijemput dengan mobil dan jumlah penumpang tidak banyak. Enaknya lagi, dijemput di rumah dan diturunkan langsung di lokasi. Bahkan, ada juga travel yang menawarkan service makan. Hanya saja di balik kenyamanannya, ada dompet ekstra yang harus dibayarkan. Kebetulan teman saya pemilik travel, ia bilang tarif Sumenep–Surabaya Rp150 ribu. 

Jadi bisa dihitung sendiri, buat biaya transportasi PP LDR ke Surabaya saja sudah menghabiskan Rp180 ribu sampai Rp300 ribu. Itu kalau lokasi kekasihnya ada di Surabaya, gimana kalau masih jauh lokasinya dari Surabaya, tentu uang transportasinya bakalan membengkak. Masih belum biaya penginapan, makan, dan jalan-jalan. 

Totalan

Saya pernah mengakumulasikan biaya pertemuan dengan kekasih saya di Surabaya dari uang transportasi, makan, penginapan, dan jalan-jalan. Habisnya bisa Rp500 ribu untuk 1 hari. Masalahnya, rindu yang terlalu berat tidak hanya bisa dituntaskan dalam satu hari. 

Itu kalau di Surabaya, kalau misalkan ketemuannya di Yogyakarta, bakalan lebih ekstra harga yang harus dibayarkan untuk sebuah pertemuan. Pernah saya akumulasikan perjalanan dari Sumenep ke Yogyakarta, estimasi biaya transportasi, makan,  penginapan, dan jalan-jalan dalam 1 hari, bisa Rp700 ribu. Harga yang sukses bikin kepala pusing dengan melihat realitas gaji imut saya. 

Makanya, buat laki-laki dan perempuan yang LDR-an sama orang Sumenep, tapi ia jarang menemui kamu, jangan suka dimarahi. Barangkali ada fisik dan uang yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Ada pertimbangan untung-rugi di baliknya. Bukan berarti cinta kita instrumental, tapi kondisi yang membuatnya harus lebih rasional. 

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Lupakan Bangkalan, Lebih Baik ke Sumenep ketika Berwisata ke Madura

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 September 2026 oleh .

Akbar Mawlana

Alumni S1 Sosiologi dan sekarang menjadi pegiat literasi. Suka menulis isu sosial.