Lama tinggal di Semarang membuat saya cukup akrab dengan mobil elf merah-putih bernama feeder BRT Trans Semarang. Kehadiran transportasi publik ini jelas membantu mobilitas masyarakat, baik yang tinggal di pusat kota maupun kawasan pinggiran seperti Gunungpati, Mijen, atau Ngaliyan.
Dengan tarif mulai Rp1.000 hingga Rp4.000 sekali perjalanan, tergantung metode pembayaran dan kategori penumpang, feeder BRT bisa menjadi salah satu cara paling masuk akal untuk menghemat pengeluaran transportasi di tengah kenaikan Pertamax.
Namun ada satu hal yang belakangan membuat saya jengah sekaligus emosi ketika berpapasan dengan armada ini di jalan. Pengalaman terakhir terjadi saat saya pulang kerja bersama istri menuju kontrakan di kawasan Gunungpati. Di ruas Trangkil yang terkenal naik-turun dan penuh tikungan, sebuah feeder BRT tiba-tiba menyalip kendaraan di depannya dengan mengambil jalur berlawanan.
Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dipikirkan pengemudi saat melakukan manuver seperti itu? Jalan sempit, jarak pandang terbatas, tetapi keberanian menyalipnya seperti sedang berada di lintasan balap.
Yang lebih mengkhawatirkan, kejadian seperti ini bukan sekali saya temui. Berkali-kali saya melihat feeder BRT melaju ugal-ugalan, memepet kendaraan lain, bahkan mengambil risiko yang sebenarnya tidak perlu.
Feeder BRT padahal dibentuk untuk tidak mengejar setoran
Jika perilaku ugal-ugalan itu dilakukan oleh sopir angkot yang harus berebut penumpang, mungkin masih ada yang berusaha memaklumi. Logikanya, semakin banyak penumpang, semakin besar pula pendapatan yang dibawa pulang.
Masalahnya, sistem operasional BRT Trans Semarang tidak bekerja seperti itu. Pengemudi feeder tidak menerapkan sistem kejar setoran sebagaimana angkutan kota konvensional. Mereka dibayar menggunakan skema rupiah per kilometer yang telah ditentukan operator dan pemerintah daerah. Artinya, pendapatan mereka tidak bergantung pada banyaknya penumpang yang berhasil diangkut dalam sehari.
Kebijakan tersebut sebenarnya dirancang dengan tujuan yang baik. Pemerintah Kota Semarang ingin memastikan pengemudi fokus pada keselamatan, kepatuhan terhadap jadwal, dan kualitas pelayanan, bukan berlomba mencari penumpang sebanyak-banyaknya.
Kalau bukan karena setoran, lalu kenapa masih ngebut pak sopir?
BACA JUGA: Mengurai Benang Kusut Konsep BRT di Indonesia
Jadwal keberangkatan dan penjemputan bukan alasan untuk mengenyampingkan keselamatan
Perilaku sembrono di jalan kemungkinan disebabkan adanya tuntutan ketepatan waktu operasional. Sebab sebagai transportasi publik, feeder BRT memang dituntut hadir sesuai jadwal agar penumpang tidak terlalu lama menunggu.
Namun persoalannya, ketepatan waktu seharusnya tidak dicapai dengan mengorbankan keselamatan pengguna jalan lain. Tidak ada penumpang yang akan merasa diuntungkan jika armada datang lima menit lebih cepat tetapi membuat seluruh pengguna jalan waswas sepanjang perjalanan.
Lebih baik terlambat beberapa menit daripada menyebabkan kecelakaan yang dampaknya bisa berlangsung seumur hidup. Transportasi publik yang baik bukan hanya soal cepat, tetapi juga soal aman.
Membawa penumpang bukan membawa besek lumpia
Perlu disadari juga Pak Sopir Feeder BRT Semarang, bahwa ada perbedaan mendasar antara kendaraan logistik dan transportasi publik. Ketika seorang sopir feeder berada di balik kemudi, yang dibawanya bukan hanya besek lumpia, melainkan manusia.
Di dalam kendaraan itu ada pelajar yang hendak sekolah, pekerja yang pulang mencari nafkah, lansia, hingga ibu yang membawa anaknya. Setiap keputusan untuk menyalip sembarangan atau memacu kendaraan secara berlebihan bukan hanya mempertaruhkan keselamatan diri sendiri, tetapi juga keselamatan puluhan orang lain.
Keselamatan harus jadi ukuran utama pelayanan feeder BRT Semarang
Kehadiran layanan feeder BRT Trans Semarang tentu menjadi salah satu layanan publik yang layak diapresiasi. Tarifnya murah, jangkauannya semakin luas, dan membantu mobilitas ribuan warga setiap hari. Namun pelayanan transportasi publik tidak bisa hanya diukur dari jumlah armada atau banyaknya penumpang yang terangkut.
Keselamatan harus menjadi indikator utama yang diawasi secara serius. Operator dan pemerintah Kota Semarang perlu memastikan evaluasi terhadap perilaku mengemudi dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika kecelakaan sudah terlanjur terjadi.
Sebab, penumpang tidak membutuhkan sopir yang paling cepat sampai tujuan. Mereka hanya membutuhkan satu hal yaitu bisa berangkat dan pulang dengan selamat.
Jadi, untuk para driver feeder BRT Semarang, izinkan saya menyampaikan permintaan sederhana sebagai sesama pengguna jalan, cukup tidak usah balapan dan ugal-ugalan. Jalanan Semarang bukan sirkuit Mandalika. Pun tidak ada trofi yang menunggu di halte berikutnya.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Feeder BRT Semarang, Murahnya Bikin Ikhlas, Kurangnya Bikin Tertawa
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
