Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar (unsplash.com)

Dalam peta besar Jawa Timur, nama “Dau” mungkin sering terlewatkan. Orang lebih kenal “Batu” dengan apel dan dinginnya, atau “Malang” dengan kampus dan baksonya. Padahal, Dau adalah sang penyambung lidah—eh, penyambung aspal—antara keduanya, Batu dan Malang. Ia adalah kecamatan yang posisinya sangat “strategis” dalam tanda kutip yang paling tebal.

Menjadi warga Dau itu rasanya seperti anak tengah di keluarga besar. Kakak sulungnya (Kota Malang) sibuk dengan urusan pendidikan dan bisnis. Adik bungsunya (Kota Batu) sibuk bersolek menyambut tamu wisatawan. Lantas, si anak tengah ini kebagian apa?

Kebagian riwehnya.

Dau adalah buffer zone atau zona penyangga yang nasibnya unik. Dau tidak sesejuk Batu, tapi tidak sepanas Malang. Di sini ada banyak kos-kosan mahasiswa, tapi juga banyak vila tipis-tipis. Identitas kami abu-abu. Dan yang paling terasa: kami adalah “keset welcome” bagi jutaan manusia yang lalu-lalang setiap akhir pekan.

Sengkaling: ujian kesabaran level dewa

Siapa pun yang pernah ke Batu lewat jalur bawah (bukan lewat Karangploso), pasti kenal dengan Sengkaling. Wilayah di Dau ini adalah bottleneck legendaris.

Bagi wisatawan, macet di Sengkaling mungkin cuma bagian kecil dari cerita liburan. “Ah, macet dikit nggak ngaruh, bentar lagi sampai Jatim Park,” pikir mereka.

Tapi bagi kami warga lokal, macet di Sengkaling adalah rutinitas yang menguji iman. Setiap Jumat sore sampai Minggu malam, jalan raya ini berubah menjadi lautan merah lampu rem mobil.

Bayangkan, warga Dau Malang cuma mau keluar beli terang bulan atau beli obat ke apotek yang jaraknya 500 meter, tapi butuh waktu tempuh setara perjalanan umrah (oke, ini lebay, tapi rasanya begitu). Motor kami harus menyelip di antara bus pariwisata raksasa yang body-nya memakan hampir separuh badan jalan.

Kami tidak menyalahkan siapa-siapa. Namanya juga jalan umum, milik bersama. Tapi mbok ya, kadang kami ingin merasakan jalanan lengang seperti di masa lalu, saat Batu belum semacet Jakarta saat jam pulang kantor.

Baca juga: Mati Tua di Jalanan Kota Malang.

Dilema jalan tikus di wilayah Dau Malang dan Google Maps

Karena jalan utama macet, fenomena berikutnya yang kami hadapi adalah serbuan kendaraan ke jalan-jalan alternatif.

Berkat teknologi canggih bernama Google Maps, jalan-jalan kampung di wilayah Dau Malang yang dulunya tenang, kini mendadak jadi jalur sutra pariwisata. Tiba-tiba saja, depan rumah kami yang biasanya cuma dilewati tukang bakso, sekarang dilewati iring-iringan mobil plat L, W, AG, hingga B.

Masalahnya, jalan kampung kami ini lebarnya pas-pasan. Didesain untuk guyub rukun antar-tetangga, bukan untuk offroad mobil-mobil SUV besar.

Seringkali terjadi momen canggung (awkward moment) ketika dua mobil wisatawan berpapasan di jalan sempit. Maju kena, mundur kena. Sopirnya saling tatap, bingung siapa yang harus ngalah. Akhirnya macet total sampai ke ujung gang.

Kami warga lokal Dau Malang? Ya cuma bisa senyum simpul sambil nunggu di pinggir pagar. Mau marah kok ya tamu, nggak marah kok ya menghalangi jalan pulang. Akhirnya kami cuma bisa mengelus dada dan memaklumi, “Mungkin mereka kesasar dipandu Mbah Google.”

Identitas yang tertukar

Nasib unik lainnya jadi warga Dau Malang adalah sering mengalami krisis identitas saat ditanya orang luar.

“Mas rumahnya mana?” “Dau, Mbak.” “Dau itu mana? Batu ya?” “Bukan, Kabupaten Malang.” “Oh, coret-coretannya Kota Malang?” “Ya… bisa dibilang begitu.”

Dau itu unik. Secara administratif ikut kabupaten. Tapi suasananya di beberapa titik sudah sangat kota karena banyaknya perumahan dan kos mahasiswa. Tapi di titik lain, masih sangat desa dengan hamparan kebun jeruk.

Kadang kami merasa bangga disebut warga Batu karena udaranya masih dapat “sisa-sisa” dinginnya. Tapi kadang kami juga merasa jadi warga Malang karena aktivitas kami lebih banyak ke arah kota (belanja, kerja, kuliah).

Posisi nanggung inilah yang membuat Dau sering terlupakan dalam pembicaraan soal destinasi. Orang taunya “Malang” atau “Batu”. Dau cuma dianggap “jalan lewat”. Padahal di sini banyak hidden gem warung kopi yang pemandangannya nggak kalah syahdu, lho.

Baca juga: Kecamatan Dau, Terlalu “Kota” untuk Disebut Kabupaten Malang.

Ekonomi lintasan

Kalau bicara soal dampak ekonomi, ya pasti ada cipratannya. Minimarket di sepanjang jalan Dau Malangselalu ramai. Pom bensin antreannya mengular. Tukang tambal ban laris manis.

Akan tetapi mayoritas wisatawan itu target utamanya tetap Batu. Mereka cuma numpang lewat di Dau. Mereka buang gas buang (emisi) di sini, tapi buang uangnya di sana.

Kami jadi penonton setia parade kemewahan mobil-mobil yang lewat. Melihat wajah-wajah ceria keluarga yang mau liburan, sementara kami masih pakai kaos oblong dan sarung, duduk di poskamling sambil mikir, “Kapan ya jalan depan rumah sepi lagi?”

Jadi warga Dau Malang harus berdamai dengan keadaan

Pada akhirnya, kami warga Dau adalah manusia-manusia yang paling adaptif. Kami sudah hafal jam berapa harus keluar rumah agar tidak terjebak macet. Bahkan kami sudah tahu jalan tikus mana yang belum terjamah Google Maps (masih ada, dan akan kami rahasiakan!).

Kami belajar berbagi ruang. Kami sadar bahwa keramaian ini adalah tanda bahwa daerah sekitar kami maju. Kalau Batu ramai, Malang ramai, ya wajar kalau Dau kena imbasnya.

Anggap saja ini seni bertetangga dengan dua kota raksasa. Kadang berisik, kadang sumpek, tapi tetap ngangenin.

Buat para wisatawan yang budiman, silakan lewat Dau. Kami dengan tangan terbuka mempersilakan (asal jangan ngebut-ngebut di jalan kampung, ya). Nikmati pemandangan kebun jeruk kami sekilas dari jendela mobil kalian.

Kami mungkin cuma wilayah “kejepit”, tapi tanpa Dau, kalian nggak bakal bisa sampai ke Batu dengan cepat (walau macet juga sih).

Jadi, selamat datang di Dau Malang. Nikmati macetnya, rasakan sensasinya, dan tolong… kalau papasan di gang sempit, senyum sedikit ya, jangan cemberut terus. Kita sama-sama mau pulang, kok.

Penulis: Roh Widiono
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Cafe di Dau Malang Bukan Tempat yang Menyenangkan untuk Nongkrong karena Isinya Hanya Polusi Suara.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version