Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dasar Snob, Beda Cara Minum Kopi Aja Jadi Masalah

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
2 Januari 2020
A A
Dasar Snob, Beda Cara Minum Kopi Aja Jadi Masalah

Dasar Snob, Beda Cara Minum Kopi Aja Jadi Masalah

Share on FacebookShare on Twitter

Saat ini, ngopi bukan lagi hal yang biasa bagi kebanyakan orang. Ngopi, sudah menjadi sesuatu yang istimewa, bahkan tren di kalangan anak muda kekinian. Meski bukan pecinta kopi, sesekali saya meminum kopi untuk merasakan manfaat kafein yang terdapat di dalamnya, khususnya pada siang hari, tepatnya sesaat setelah waktu istirahat di kantor. Sekira pukul 13.00 adalah waktu di mana mata inginnya terpejam sementara, ngantuk. Padahal, ada tugas yang harus dikerjakan. Itu kenapa, ngopi adalah pilihan terbaik bagi saya—mungkin juga bagi orang lain—agar mata tetap melek.

Saya tidak mematok pada satu merek kopi, selama bisa membuat mata melek, ya diminum saja. Mau yang sachet, botol kemasan, atau memesan di kedai kopi terdekat dengan segala promo dan cashback yang ada pun tidak masalah. Khusus untuk yang terakhir, saya hanya membeli sesekali saja, karena jika sampai konsumsi setiap hari dan tanpa promo, harganya ya lumayan juga. Hehehe.

Meskipun begitu, ada beberapa teman yang entah kenapa mengelompokan kopi berdasarkan mereknya. Apa nggak bikin mangkel? Pasalnya, teman saya masih saja mengolok teman yang lain dengan berkata, “ya ampun, masih aja minum kopi sachet. Kopi susu kekinian, dong”. Hadeeeh.

Memang, es kopi susu saat ini menjadi primadona. Tapi, jangan mentang-mentang jadi penikmat satu varian kopi kekinian, lalu seakan mempermasalahkan penikmat kopi yang lain, dong. Lagipula, kan nggak semua orang harus menikmati kopi dengan merek juga varian rasa yang sama.

Selain mempermasalahkan merek dan varian kopi, teman yang lain bahkan sempat mengomentari cara saya ketika minum kopi. Biasanya, setelah kopi dirasa hangat, saya langsung seruput begitu saja. Jika digambarkan, kurang lebih sama seperti ketika minum air mineral. Menurut teman saya, menikmati kopi itu tidak demikian. Ada cara lain seperti dihirup dulu, lalu diseruput secara perlahan hingga habis. Karena hal tersebut, giliran teman saya yang mangkel kepada saya. Hehehe.

Saya pikir, urusan minum kopi aja kok ya jadi ribet, sih. Padahal kan tinggal minum aja. Meski saya juga paham, cara minum kopi tiap orang pasti berbeda. Ada yang langsung diminum di gelas, memakai sedotan, bahkan Kakek saya terbiasa minum kopi dengan cara memindahkan terlebih dulu dari gelas ke alas (tatakan) gelas kaca, baru diseruput. Baginya, hal tersebut merupakan cara terbaik dalam menikmati kopi. Namun, cara seperti ini semakin terlihat jarang digunakan.

Dan untuk beberapa teman saya, pemilihan juga minum kopi harus menggunakan filosofi ini-itu. Entah kenapa kok ya saat ini yang berhubungan dengan kopi harus sefilosofis itu. Dikaitkan dengan senja, melankolis, dan lain sebagainya. Ketika saya menyeruput kopi dengan beberapa teman, sepertinya tidak semerepotkan itu. Cukup datang ke warkop langganan, pesan kopi hitam atau kopi susu sesuai selera, kemudian ngobrol sambil makan gorengan atau indomie sampai bosan. Soal waktu? Nggak perlu nunggu senja. Mau pagi, siang, atau malam, seru-seru aja, kok, meski tanpa filosofi.

Tren ngopi juga semakin meningkat seiring banyaknya kedai kopi baru yang bermunculan. Di satu sisi tentu bagus, karena semakin banyak pegiat usaha yang bermunculan dengan segala ciri khas rasanya. Ditambah lokasi yang terbilang edgy sekaligus instagram-able, yang membuat banyak orang betah mampir sekaligus dijadikan tempat untuk foto-foto. Di sisi lain, pegiat usaha kedai kopi juga harus berhadapan dengan tantangan sekaligus kenyataan akan persaingan di dunia kopi semakin ketat. Dari sisi pelanggan, tidak sedikit pula yang mencoba es kopi kekinian karena penasaran.

Baca Juga:

Kasta Kopi Minimarket dari yang Paling Enak sampai Skip Aja daripada Kecewa

Pengalaman Mencoba Kopi Circle K: Awalnya Meremehkan karena Kopi Minimarket, Malah Terkesan karena Rasanya Enak

Jika dahulu kopi lebih lekat dengan pria, kini, banyak wanita yang juga menjadikan kopi sebagai minuman favorit, bagaimana cara minumnya, nggak perlu dipermasalahkan, lah. Namun, soal pemilihan harga juga rasa kembali lagi kepada diri masing-masing. Nggak ada salahnya kok menikmati kopi starbucks, ngopi di café atau kedai kopi pinggiran juga nggak masalah. Ngopi di warkop? Lebih nikmat lagi. Apalagi jika tidak ada prasangka maupun batasan saat menyeruput kopi di tiap tegukannya.

Saya sendiri, lebih menyukai kopi susu yang dibuat sendiri atau di warkop. Tinggal seduh kopi hitam dengan air panas, lalu dicampur susu kental manis vanila dan Diaduk. Kemudian diminum selagi hangat dengan cara saya sendiri. Hasilnya? Kenikmatan yang hakiki.

BACA JUGA Dear Es Kopi Susu: Kamu Enak Sih, Tapi… atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2020 oleh

Tags: coffee snobes kopi susuKopi Kekiniankopi sachetminum kopi
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Caffino Bold Dark Cappuccino, Kopi Sachet Terbaik yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

Caffino Bold Dark Cappuccino, Kopi Sachet Terbaik yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

7 Januari 2025
Surat Terbuka untuk Water Snob: Biasa Aja, Bos, Nggak Usah Jadi si Paling Sehat

Surat Terbuka untuk Water Snob: Biasa Aja, Bos, Nggak Usah Jadi si Paling Sehat

30 September 2022
Menghitung Waktu Ideal Nongkrong di Coffee Shop jika Memesan Es Teh Seharga 15 Ribu

Menghitung Waktu Ideal Nongkrong di Coffee Shop jika Memesan Es Teh Seharga 15 Ribu

18 Desember 2023
5 Kopi Sachet yang Bikin Saya Kapok Mencicipinya: Rasanya Aneh, Manisnya Kebangetan

5 Kopi Sachet yang Bikin Saya Kapok Mencicipinya: Rasanya Aneh, Manisnya Kebangetan

26 Februari 2025
Janji Jiwa, Raja Kopi Kekinian yang Mulai Ditinggalkan karena Tak Lagi Konsisten

Janji Jiwa, Raja Kopi Kekinian yang Mulai Ditinggalkan karena Tak Lagi Konsisten

10 Juni 2025
kopi mama

Mama, Kopi Memang Pahit

9 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.