Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Cinta dan Benci pada Gunung Pangrango: Gunung yang Diabadikan Gie dalam Puisi Kini Menjadi Tempat yang Saya “Benci”

Karina Londy oleh Karina Londy
29 Maret 2025
A A
Cinta dan Benci pada Gunung Pangrango: Gunung yang Diabadikan Gie dalam Puisi Kini Menjadi Tempat yang Saya "Benci"

Cinta dan Benci pada Gunung Pangrango: Gunung yang Diabadikan Gie dalam Puisi Kini Menjadi Tempat yang Saya "Benci" (Ivan Samudra via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Puluhan tahun lalu, Soe Hok Gie menulis puisi berjudul “Mandalawangi Pangrango”. Padang edelweis bernama Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango itu memang istimewa baginya. Keistimewaan itu dia curahkan dalam bait-bait puisi yang salah satunya berbunyi “Aku cinta padamu Pangrango yang dingin dan sepi”.

Bertahun-tahun telah lewat sejak puisi itu digubah, Pangrango pun telah banyak berubah. Makanya saya, sebagai junior sekampusnya Gie, ingin memperbarui bait tersebut menjadi seperti ini: Aku cinta padamu Pangrango, tapi aku benci kondisimu saat ini!

Dulu Gie mungkin bisa betul-betul mendapat ketenangan dengan menyepi ke Pangrango. Tapi kini, cukup absurd untuk menganggap bahwa Gunung Pangrango serta saudaranya, Gunung Gede, sebagai sumber ketenangan yang ultimate. Pendaki jaman sekarang perlu persiapan mental yang ekstra untuk menghadapi Gede Pangrango. Dan saya bukan bicara tentang mental untuk menerjang medan pendakian yang terjal ataupun jalur yang ekstrem. Bukan itu.

Lepas Lebaran tahun ini, TNGGP akan membuka kembali akses pendakian setelah ditutup sementara mulai dari 25 Desember lalu. Nah, jika kamu ada niat untuk jadi salah satu pendaki pertama yang ke Gede Pangrango dalam tahun ini, maka kamu mesti siap mental untuk menghadapi kondisi yang seperti ini.

Ujian kesabaran dalam perjalanan ke kaki gunung

Ini dia masalah pertama yang akan kamu temui: macet menuju ke kaki gunung. Jalanan dari Jakarta ke Puncak, Bogor pada musim liburan selalu padat total. Apalagi libur Lebaran nanti. Rombongan keluarga Jabodetabek yang nggak mudik kemungkinan besar akan (lagi-lagi) memilih berpelesir ke Puncak, Bogor, atau sekitarnya.

Sementara dari Jakarta menuju ke dua jalur pendakian resmi Gunung Gede Pangrango, yaitu Cibodas dan Gunung Putri, ya mesti lewat Jalan Raya Puncak-Cianjur itu. Belum lagi kalau menghitung macet di Jalan Raya Bogor atau tol Jagorawi. Fix sih, udah capek duluan.

Macet di jalur pendakian Gunung Pangrango

Sesampainya di kaki gunung setelah bermacet-macetan, kamu pasti berharap akhirnya tiba di tempat yang jauh dari keramaian. Kamu pikir, akhirnya sudah makin dekat dengan suasana dingin dan sepi itu. Kenyataannya, dingin sih iya. Tapi sepi? Belum tentu.

Di sekitar basecamp Cibodas terdapat banyak atraksi alam bagi non-pendaki. Seperti kebun raya dan berbagai spot kemping ceria yang seringkali ramai pengunjung. Di satu sisi, kamu bersyukur masih banyak keluarga yang menghargai waktu di alam. Jadi daripada misuh melihat orang lain menikmati liburannya, bagaimana kalau kamu skip Cibodas dan naik lewat Gunung Putri aja?

Baca Juga:

Dear Senior UKM Mapala, Kenapa sih Kalian Begitu Toxic?

5 Rekomendasi Gunung di Jawa Barat untuk Pendaki Pemula

Mungkin begitu pikirmu. Tapi kamu akan menyadari ternyata naik lewat Gunung Putri pun bukan ide yang terlalu bagus ketika kamu menemui kemacetan di jalurnya. Ya, di jalur pendakian gunung bisa macet dan terbentuk antrean juga. Gara-gara saking ramainya orang yang mencari sepi.

Sudah sampai tempat berkemah tetap nggak boleh lengah

Mau gimana lagi, kamu sudah kadung ada di tengah jalur. Kamu meneruskan langkah (secara pelan, karena antrean di depanmu panjang) ke Alun-Alun Suryakencana untuk berkemah.

Jika Pangrango punya Mandalawangi, maka Gede punya Suryakencana. Keduanya sama-sama menjadi tempat berkemah favorit pendaki. Ketika menyiapkan kemah dan bergerak di sekitaran kemah, saya cuma mau berpesan satu hal. Perhatikan dimana kakimu akan melangkah karena bisa saja kamu menginjak tinja pendaki lain.

Memang semua orang se-Jabodetabek kalau pengen nyoba naik gunung ya ke Gede Pangrango. Jadi tentunya banyak orang dengan bekal ilmu pendakian mendekati nol yang menyambangi tempat ini. Padahal menimbun tinja sendiri tuh nggak mesti jadi jenius lho, cukup jadi beradab aja. Dan kenapa sih ada aja orang yang nongkrongnya kurang masuk ke semak-semak?!?

Asli deh, semua pendaki mesti dites dulu perihal “how to take a dump in the jungle”. Kalau lulus, baru boleh naik gunung.

Terlalu banyak sampah di Gunung Pangrango

Ngomongin eek, saya pernah membaca pengalaman mendaki Gunung Pangrango dari seseorang yang cepirit di jalur hingga mengotori celananya. Dia pun ganti celana kemudian mengubur celananya yang kotor. Lah, dikira tanah bisa nelen celana polyester kali?

Celana kotor ya dibersihkan dong, bukan ditinggal di gunung biar jadi sampah purba di masa depan. Dan pengalaman ini dibukukan lho. Kok dia bangga sih, daripada malu? Bukan malu cepirit ya, itu sih manusiawi. Malu ninggalin sampah segede itu maksudnya.

Soalnya istilah sampah purba ini benar adanya. Dalam salah satu aksi bersih-bersih Gede Pangrango, ada relawan yang pernah menemukan sampah botol plastik dari tahun 1992. Pemberitaan menyebutnya “sampah purba”. Pada aksi bersih-bersih Gede Pangrango tahun 2050 nanti, mungkin akan ditemukan celana “plastik” itu bersama sekian ton sampah lainnya. Kita lihat saja nanti.

Kompleksitas benci tapi rindu

Tapi dibanding semua hal di atas, yang paling saya benci adalah satu fakta ini. Bahwa terlepas dari bencinya saya sama kondisi menyedihkan Gede Pangrango, kamu akan tetap menemukan saya di sana pada April nanti.

Habis mau gimana lagi? Saya sudah terlanjur mewarisi romantisme Gie terhadap Gede Pangrango. Saya juga terlanjur pernah merasakan Gede Pangrango ketika sedang sepi pengunjung. Pada celah-celah keramaian itu saya jadi menyadari, ternyata Gie masih benar. Pangrango, dalam dingin dan sepinya, memang begitu memikat, begitu membuat rindu.

Jadi, sampai bertemu di Gede Pangrango. Mendakilah dengan bijak dan jangan jadi tantangan mental tambahan bagi pendaki lainnya ya!

Penulis: Karina Londy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sejarah Gunung Gede Pangrango dan Makhluk Gaib Pengganggu Pendaki

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2025 oleh

Tags: gunung gedegunung pangrangosoe hok gie
Karina Londy

Karina Londy

Lulusan komunikasi yang bekerja di industri penerbangan. Fotografer dan pegiat olahraga alam bebas. Pengelola taman baca swadaya di Jakarta Timur.

ArtikelTerkait

Mari Berandai-andai jika Soe Hok Gie Hidup di Zaman Sekarang terminal mojok.co

Mari Berandai-andai jika Soe Hok Gie Hidup di Zaman Sekarang

22 Agustus 2021
Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau (Unsplash.com)

Guru (dan Dosen) Bukan Dewa yang Selalu Benar dan Murid Bukan Kerbau

3 Oktober 2022
5 Rekomendasi Gunung di Jawa Barat untuk Pendaki Pemula

5 Rekomendasi Gunung di Jawa Barat untuk Pendaki Pemula

27 September 2023
Soe Hok Gie dan Mohammad Roem saja Setuju dengan Perpeloncoan Ospek terminal mojok.co

Soe Hok Gie dan Mohammad Roem Saja Setuju dengan Perpeloncoan Ospek

22 September 2020
Dear Senior UKM Mapala, Kenapa Sih Kalian Begitu Toxic?

Dear Senior UKM Mapala, Kenapa sih Kalian Begitu Toxic?

13 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.