ADVERTISEMENT

Cerita mahasiswa penglaju Boyolali-Solo, jalanan tidak terduga adalah musuh sehari-hari

Cerita mahasiswa penglaju Boyolali Solo, jalanan tidak terduga adalah musuh sehari-hari Mojok.co

Menjadi mahasiswa mengajarkan saya banyak hal. Tidak hanya pengetahuan di ruang kelas, tapi juga banyak pelajaran hidup lain. Terlebih bagi mahasiswa yang nglaju Boyolali ke Solo seperti saya. Pelajaran hidupnya berkali-kali lipat.

Saya tinggal di Boyolali dan kuliah di Solo. Sekilas, jarak tersebut mungkin tidak terdengar terlalu jauh. Apalagi bagi orang yang terbiasa bepergian antarkota. Namun, jarak yang terlihat dekat di peta bisa terasa berbeda ketika harus ditempuh secara rutin demi mengejar jam masuk kuliah.

ADVERTISEMENT

Sejak menjadi mahasiswa, urusan berangkat bukan sekadar menentukan kapan harus bangun. Ada waktu bersiap, perkiraan perjalanan, dan kemungkinan jalanan lebih ramai daripada biasanya. Semuanya perlu diperhitungkan agar tidak sampai di kampus ketika perkuliahan sudah dimulai.

Masalahnya, jalan raya tidak pernah berjanji akan mengikuti jadwal yang kita susun.

Selisih sepuluh menit, jalanan Boyolali ke Solo bisa beda cerita

Kalau rumah dan kampus berada di lokasi yang berbeda, waktu keberangkatan menjadi bagian penting dari rutinitas. Berangkat pukul enam pagi, misalnya, tentu berbeda perhitungannya dengan baru meninggalkan rumah sepuluh menit kemudian.

Perjalanan yang biasanya terasa cukup bisa menjadi lebih lama ketika kendaraan mulai ramai. Akibatnya, waktu yang semula diperkirakan aman mendadak terasa mepet.

Di sinilah kemampuan mengatur waktu benar-benar diuji. Kita harus memperhitungkan bukan hanya berapa lama perjalanan dalam kondisi lancar, tetapi juga menyediakan waktu cadangan jika keadaan tidak sesuai perkiraan.

Tentu saja, bukan berarti semua keterlambatan bisa menyalahkan jalanan. Ada kalanya kita sendiri kurang disiplin mempersiapkan diri. Alarm sudah berbunyi, tetapi kasur terasa lebih meyakinkan daripada kewajiban kuliah.

Akan tetapi, ketika persiapan sudah dilakukan dan perjalanan tetap lebih lama dari perkiraan, kita belajar bahwa disiplin saja tidak selalu cukup. Perencanaan juga harus realistis.

Bagi mahasiswa yang tinggal di Boyolali dan kuliah di Solo, mengatur waktu berarti memikirkan perjalanan sebagai bagian dari kegiatan kuliah itu sendiri. Waktu untuk bersiap dan berangkat tidak bisa dianggap sebagai urusan kecil yang baru dipikirkan setelah semuanya selesai.

ADVERTISEMENT

Sebab, terlambat meninggalkan rumah bukan hanya mengurangi waktu perjalanan yang tersedia. Hal itu juga bisa membuat sepanjang perjalanan dipenuhi pikiran tentang jam masuk, dosen, dan kemungkinan terlambat.

Belum sampai kampus, pikiran sudah lebih dulu mengikuti perkuliahan.

Tidak ngekos bukan berarti tidak punya hitungan

Mungkin anyak yang bertanya, kenapa nggak ngekos? Asal tahu saja, in this economy, bersama keluarga memang lebih untung karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa kamar. Tinggal di rumah bisa mengurangi beberapa pengeluaran dan membuat seseorang tetap dekat dengan keluarga.

Sebaliknya, mahasiswa yang ngekos mungkin akan lebih hemat waktu. Namun, ada uang dan tanggung jawab yang mengikuti.  Mereka perlu mengatur pengeluaran, mengurus kebutuhan sehari-hari, dan menjalani kehidupan jauh dari rumah.

Jadi, tidak perlu buru-buru menentukan siapa yang lebih mandiri atau siapa yang hidupnya lebih mudah. Setiap pilihan mempunyai konsekuensi.

Bagi mahasiswa komuter, perjalanan menjadi bagian dari konsekuensi tersebut. Ada waktu yang harus disediakan setiap hari, bahkan sebelum kegiatan akademik benar-benar dimulai.

Perjalanan Boyolali–Solo mengajarkan saya bahwa tepat waktu bukan sekadar perkara bangun lebih pagi. Ada perencanaan, kebiasaan, dan kemampuan memperkirakan keadaan yang perlu dilatih.

Kita memang tidak bisa mengatur seluruh kondisi jalan. Namun, kita masih bisa mengatur jam keberangkatan, menyiapkan kebutuhan sejak malam sebelumnya, dan menyediakan waktu cadangan agar tidak selalu terburu-buru.

Hal-hal tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, justru kebiasaan kecil seperti itulah yang membantu kehidupan kuliah berjalan lebih teratur.

Perjalanan panjang ini menyadarkan saya, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang apa yang dipelajari di ruang kelas. Ada juga pelajaran yang datang dari perjalanan menuju kampus, termasuk memahami bahwa rencana yang baik tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan yang tidak terduga.

Penulis: Az Zahra Deviana Ramadhani
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Lupakan Magelang, Purwokerto, dan Salatiga, daerah slow living terbaik adalah Boyolali dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2026 oleh .

Az Zahra Deviana Ramadhani

Mahasiswa D4 Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surakarta yang tertarik pada isu sehari-hari dan cerita-cerita di sekitar.