Cara Media Memberitakan Kasus Reynhard Sinaga Memang Bikin Kesal

Artikel

Aliurridha

Setelah terbongkarnya kasus pemerkosaan yang dilakukan Reynhard Sinaga, media Indonesia ramai-ramai ikut memberitakan kasus yang dianggap pemerkosaan terburuk di dunia. Media-media Indonesia justru tidak memfokuskan berita kepada kasus pemerkosaan yang dilakukan Reynhard yang dalam persidangan telah terbukti melakukan pemerkosaan terhadap 48 pria dalam 159 kasus pemerkosaan. Namun, justru memfokuskan pada kehidupan pribadi sang pelaku dan hal-hal yang yang sama sekali tidak berhubungan dengan kasus tersebut.

Apa yang dilakukan media Indonesia sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan media luar dalam memberitakan kasus ini. Media Indonesia terutama media click bait bukannya fokus memberitakan kasus pemerkosaan, tapi malah fokus pada kehidupan pribadi pelaku. Judul-judul berita seperti Melihat Lebih Dekat Rumah Mewah Reynhard Sinaga di Depok mewarnai varian unik dari cara media Indonesia memberitakan kasus pemerkosaan. Apa pentingnya publik tahu kemewahan rumah Reynhard Sinaga?

Tribunnews memang sudah terkenal paling pinter membuat judul click bait yang sama sekali tidak berhubungan dengan isi berita. Namun semakin ke sini media ini bahkan tidak hanya membuat judul yang tidak berhubungan dengan isi bahkan membuat berita yang tidak ada hubungan dengan kasus seperti memberitakan kemewahan rumah Reynhard yang sama sekali tidak ada urusannya dengan pemerkosaan yang ia lakukan.

Banyak yang kesal dengan Tribunnews karena cara dia yang membuat berita seolah menjilat pantat Search Engine Optimization (SEO) Google. Media seperti Tribunnews dkk memang sering kali memberikan berita yang memang tidak layak untuk dibaca, sebaliknya ia lebih fokus pada bagaimana mendapatkan kunjungan sebanyak mungkin. Bahkan mantan Pemred Tribunnews pernah mengatakan bahwa jurnalis sekarang menulis bukan untuk dibaca manusia tapi untuk memuaskan kriteria yang diinginkan mesin.

Baca Juga:  'Nggak Enakan' Orang Indonesia sepertinya Perlu Dikasih Batas

Selain Tribunnews media lain penghamba click bait bahkan ada yang sampai membahas foto selfie ganteng Reynhard Sinaga. KapanLagi.com bahkan terang-terangan membuat judul 11 Foto Selfie Ganteng Reynhard Sinaga yang bukan hanya sama sekali tidak ada hubungan dengan kasus, tapi tidak ada nilai informasinya sama sekali. Meski KapanLagi.com sudah menghapus berita tersebut setelah saya cek barusan namun masih banyak media lain yang ikut-ikutan gaya seperti itu.

Begitulah jadinya jika semua media berkiblat pada Tribunnews dan secara berjamaah menjilat pantat mesin pencari Google. Demi pundi-pundi yang masuk ke kas perusahaan, media-media ini lebih fokus pada bagaimana mendapatkan perhatian mesin pencari daripada menulis dengan baik. Wajar saja itu lebih mudah dilakukan karena menulis dengan baik butuh riset dan investigasi yang cukup, tidak hanya bermodal judul yang click bait.

Apa yang dilakukan Tribunnews sepertinya sangat berguna karena pada tahun 2019, ia pernah menjadi website peringkat satu dikunjungi di Indonesia menurut Alexa.com. Saya tidak tahu sekarang tapi saya rasa setidaknya ia selalu masuk 5 website peringkat paling atas di Indonesia.

Saat itu saya sedang melakukan riset terhadap bagaimana sikap media arus utama dalam memberitakan penolakan gerakan #2019gantipresiden. Oleh karena itu, saya mencari media mana yang menduduki peringkat pertama menurut Alexa.com dan saya terkejut ketika mengetahui bahwa Tribunnews merupakan website paling banyak dikunjungi. Akhirnya saya menyadari mengapa banyak media besar seperti Detik, Kompas, Okezone, dan bahkan Tempo ikut-ikutan menggunakan multiple pages ala Tribunnews.

Ketika mencari bahan untuk menulis tentang Reynhard ini lewat mesin pencari Google, saya diarahkan ke beberapa media seperti Tribunnews beserta hamba-hambanya. Karena penasaran mengapa ia bisa mendapat halaman pertama dari mesin pencari, saya membukanya. Saya sempat membaca beberapa komentar dari netizen julid Indonesia yang marah-marah karena gaya berita seperti yang dilakukan media-media ini.

Baca Juga:  Dominasi Kuntilanak dan Bukti Kurangnya Referensi Sineas Indonesia Terhadap Hantu Lokal

Membaca komentar-komentar netizen yang marah-marah itu rasanya saya ingin berteriak, kalau kamu sudah tahu artikelnya ngawur ya sudah jangan ditambah komentar lagi. Itu sama saja kamu ikut memberikan sumbangan gratis ke media-media itu untuk semakin berjaya dengan meningkatkan engagement dan membuatnya semakin dicintai mesin pencari.

Dari sana saya mulai memahami bahwa memang sudah sewajarnya media-media seperti Tribunnews berjaya di Indonesia. Bagaimana tidak? Yang kesel banyak, tapi bukannya mengacuhkannya malah terus melakukan klik pada artikel multiple pages yang sangat tidak ramah pada fakir kuota. Sudah terjebak dengan judul malah ikut membantu meningkatkan engagement dengan berkomentar marah-marah. Mau ikut berkomentar tapi ah sudahlah, mending dijadikan konten tulisan di Mojok saja.

BACA JUGA Cara Media di Indonesia Melihat Reynhard Sinaga dan 250 Juta ‘Hakim’ di Indonesia atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
16


Komentar

Comments are closed.