Beberapa hari ini, jagat media sosial sedang panas-panasnya dengan seruan boikot terhadap Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemicunya? Aksi demonstrasi mahasiswa yang kemarin sempat menggeruduk acara diskusi pejabat pemerintah. Padahal, kalau mau jujur, reaksi tersebut merupakan bentuk akumulasi kekecewaan atas berbagai kebijakan nasional yang belakangan memang terasa merugikan rakyat.
Menariknya, di tengah keriuhan ajakan boikot yang sangat politis itu, banyak alumni dan warganet justru menanggapinya dengan tawa skeptis. Bagi mereka, seruan memboikot UGM terdengar seperti lelucon yang kurang riset. Sebagai salah seorang lulusannya, saya pun sepakat.
Pasalnya, menembus seleksi masuk UGM itu bukan perkara gampang yang bisa diterobos semua orang. Nggak perlu angkuh memboikot pun, seseorang belum tentu bisa tersaring jadi mahasiswa di sana. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang sok-sokan bilang boikot UGM, tentu kedengarannya sangat nggak masuk akal. Apalagi kalau melihat proses panjang dan standar akademis ketat yang sudah teruji puluhan tahun di sana.
Mengaitkan kualitas pendidikan dengan drama politik sesaat? Ya, jelas logika sesat.
Seni bertahan hidup di UGM itu adalah dengan menjadi pembelajar mandiri yang ekstrem
Kalau ada orang bilang kuliah itu cuma soal datang dan mendengar penjelasan dosen, artinya dia belum pernah menjejakkan kaki di ruang kelas kampus UGM. Soalnya, dosen cenderung menganggap mahasiswa sudah selesai dengan literasi dasar sebelum masuk kelas. Ruang kelas bukanlah tempat untuk mencatat ocehan dosen, melainkan wadah bertukar pikiran.
Jangan harap bakal disuapi teori, apalagi disodori ringkasan materi. Justru, mahasiswa dituntut buat lihai membedah artikel jurnal dan menyusun argumen yang berbobot. Singkatnya, kemandirian belajar bukan lagi sekadar pilihan, tapi harga mati. Jangan pernah nekat masuk kelas kalau pisau analisis belum diasah. Sebab, itu sama artinya dengan menggadaikan jiwa.
Secara kognitif, lingkungan UGM memang menuntut fleksibilitas mental tingkat dewa. Buat mereka yang terbiasa diberi instruksi kaku atau selalu menggantungkan diri pada arahan dosen, bersiaplah mengalami culture shock akademis. Kalau kapasitas belajar mandiri belum matang, rasa cemas saat kuliah bakal jadi makanan sehari-hari. Ujung-ujungnya, peluang mengulang mata kuliah di semester depan pun terbuka lebar.
Bukan cuma soal IPK, ruang kelas UGM menuntut adaptasi budaya dan sosial mahasiswa
Apa yang orang sebut dengan budaya Jogja, nyatanya terjadi juga di setiap ruang perkuliahan kampus UGM. Katanya, Jogja itu kota yang tenang dan punya vibes lambat. Di sisi lain, Jogja dikenal pula sebagai kota ambisius kalau sudah urusan persaingan intelektual. Nah, UGM adalah refleksi mini dari Kota Pelajar ini.
Kuliah di UGM bukan cuma perkara mengejar nilai di atas kertas. Mahasiswa dituntut punya pemikiran yang kritis, tapi harus tetap membumi saat menyampaikannya. Kedengarannya memang kontradiktif. Tapi, begitulah budaya Jawa-sentris yang kental di sini. Menjadi mahasiswa itu kudu sopan, tapi argumennya tetap harus tajam menyayat.
Tipe mahasiswa yang kaku dan nggak punya kelenturan sosial untuk menyeimbangkan etika pergaulan dengan logika yang kritis, siap-siap saja tergilas. Menavigasi ekosistem akademis UGM itu memang butuh keahlian khusus. Mahasiswa harus pintar membaca situasi agar tetap bisa bertahan di tengah lingkungan yang alon-alon kelakon tapi juga ambisius nggak ketulungan.
Risiko impostor syndrome, musuh senyap yang paling mematikan
Ada penyakit klasik yang rawan menjangkiti mahasiswa UGM sejak masa orientasi. Perasaan hanya beruntung bisa masuk UGM dan nggak layak berkuliah di sini, kerap kali menghantui. Wajar saja, masuk UGM ibarat memanggul ekspektasi sebagai agen perubahan, bukan sekadar cari ijazah buat melamar kerja.
Masalahnya, kampus ini adalah magnet bagi individu-individu cemerlang dari seluruh penjuru negeri. Beban mentalnya? Jangan ditanya, bisa bikin sesak kalau nggak pandai mengelola.
Di UGM, usaha setengah hati nggak akan membuat seseorang bersinar. Banyak mahasiswa yang di SMA mereka dulu selalu jadi juara, begitu masuk UGM terlihat medioker saja. Yang lebih parah, beberapa malah langsung kena mental karena mendapati teman-teman seangkatannya jauh lebih jago dan berprestasi.
Lingkungan yang kompetitif ini memang memacu adrenalin dan bisa jadi motivasi. Tapi sisi gelapnya, timbul krisis identitas yang berpotensi membuat minder. Percayalah, fenomena merasa nggak kompeten ini tumbuh subur di setiap sudut kampus. Makanya, punya kematangan emosional dan self-esteem yang baja itu wajib hukumnya biar nggak terserang depresi.
Sejatinya, publik sah-sah saja nggak sepakat dengan sikap politik mahasiswa UGM. Namun, seruan boikot terhadap kualitas akademik sebuah institusi pendidikan adalah langkah yang terburu-buru dan justru kontraproduktif. Mungkin, ini harusnya jadi kesempatan masyarakat untuk belajar memisahkan dinamika politik yang bersifat sementara dengan esensi pendidikan yang semestinya tetap terjaga.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Saya Gagal Kuliah di UGM, dan setelah 13 Tahun, Penyesalan Tersebut Tetap Ada
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
