Batang, sebuah kabupaten di jalur pantura yang bisa dibilang nggak lebih terkenal dari Alas Roban. Yah jalur mistis itu terletak di Kabupaten Batang, dan banyak orang yang nggak tahu soal itu. Meski sering dilewati, Kabupaten Batang ini jarang dipedulikan orang. Jalurnya lurus, penuh dengan hutan yang dilalui oleh tronton.
Kalau dari timur, memasuki kabupaten ini rasa-rasanya sepi dan membosankan sehingga ingin cepat-cepat sampai di Pekalongan. Oleh karena itu, Kabupaten ini pun mendapatkan label daerah yang sepi, sunyi, dan mistis (karena ada Alas rOban). Rasanya kayak nggak punya alasan mendasar gitu untuk berhenti di Kabupaten ini.
Apalagi semenjak ada Toll. Ya sudah, Batang ini benar-benar kayak gapura di gang masuk kampung yang kelihatan jelas tapi nggak dianggap
Kepadatan yang adalah pokoknya
Label tersebut sebetulnya wajar. Selain karena dipenuhi hutan, kepadatan penduduk di Batang juga bisa dibilang renggang dan lengang. Badan Pusat Statistik mencatat kepadatan penduduk Batang tahun 2024 sekitar 978 jiwa/km². Sementara tetangga dekat seperti Kabupaten Kendal disebut memiliki kepadatan tahun 2024 sekitar 1.068 jiwa/km. Lalu Kabupaten Pekalongan ada di angka sekitar 1.218,72 jiwa/km² pada 2024. Mungkin berbeda sedikit dengan Kendal, tapi suasananya terasa berbeda.
Kendal, meski agak renggang tapi dia nggak lengang. Sebab jalur utamanya dipenuhi pemukiman. Sementara Batang, ya seperti yang saya bilang sebelumnya. Lebih banyak hutan. Beberapa pusat keramaiannya hanya nampak di alun-alun kota yang nempel dengan pekalongan (sisi barat), dan kawasan industri terpadu batang yang berbatasan dengan Kendal (sisi timur).
Padahal, secara biaya hidup, kabuptan ini nggak mahal-mahal banget meski sudah mulai dimasuki beberapa perusahaan atau pabrik. Harga tanah pun bisa dibilang sedikit lebih rendah daripada di Kendal. Beberapa situs menyebut kalau harga tanah di batang masih di kisaran ± Rp300 ribu–Rp4 juta/m² dan ada yang menyebut “harga pasaran” sekitar Rp1,6 juta/m². Sementara di Kendal, rata-rata sudah sekitar Rp2,5 juta/m².
Tapi terlepas dari itu, kabupaten ini sebetulnya punya potensi untuk jadi lebih ramai. Beberapa strategi ini saya rasa bisa dipertimbangkan.
BACA JUGA: Kendal dan Batang, 2 Kabupaten yang Terjebak dalam Bayang-bayang Semarang dan Pekalongan
Harus ada titik magnet
Begini, masalah sepi dan sunyinya batang itu dikarenakan Batang belum punya banyak titik magnet yang membuat orang sengaja berhenti. Dan sebetulnya, titik magnet itu nggak harus selalu yang mewah atau aneh.
Pertama, bisa dengan membuat sentra bisnis UMKM dari produk asli Batang. Mungkin akan direspons, “Sentra seperti itu kan sudah ada, contoh di Limpung.” Masalahnya, Limpung dengan alun-alunnya itu terlalu masuk ke dalam sehingga nggak terjamah bagi mereka yang melewati pantura.
Dan saya rasa, durian jadi salah satu komoditas unggulan yang harusnya bisa dimanfaatkan. Sebab, Batang juga punya durian yang nggak kalah dari Kendal dan Pekalongan. Coba bayangkan, di area pantura Batang itu, ada satu sentra durian dari berbagai kecamatan. Itu bisa jadi daya tarik biar pengguna jalur pantura nggak hanya lewat, tapi juga berhenti.
Yah kalau Pekalongan punya Setono sebagai sentra batik, Batang punya sentra durian. Ini hanya contoh. Tentu nggak cuma durian tapi banyak produk atau hal lain yang bisa dipamerkan di jalur pantura yang serba hutan itu. Pada intinya, satu sentra atau kawasan yang punya daya tawar sehingga membuat orang ngeh ada sesuatu di Batang.
Kedua, perbanyak agenda-agenda semacam festival berkala. Bisa festival budaya, festival produk, atau festival kesenian. Biar orang punya alasan untuk menjadikan Batang sebagai tujuan, bukan cuma sebagai rest area.
Memang, beberapa waktu lalu, Batang sempat mulai menggelar Festival of Light (Lentera) di Alun Alun Batang mulai 27 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Ada juga festival Ekraf Batang, tapi kampanyenya kurang masif sehingga yang tahu hanya warga lingkup Batang dan sekitarnya.
Jadi bisa tetapkan 1 event tahunan sebagai puncak. Kemudian bikin saja 3-4 event berkala untuk mengisi sebelum menyambut festival puncak. Banyak hal kok yang bisa dijadikan festival. Contoh kayak kendal yang sudah menjadikan festival durian sebagai event tahunan.
Batang harus jual cerita
Ketiga adalah soal cerita, media, dan fasilitas. Batang itu punya potensi wisata yang nggak kalah sama tetangganya. Persoalannya hanya soal cerita dan narasinya kurang kuat di telinga warga luar. Kawasan hutan dan pantainya pun lumayan. Tinggal itu diceritakan dengan baik di media sosial. Di-branding agar orang tahu. Sisipkan cerita-cerita unik.
Contoh saja taman Djawatan Forest Banyuwangi. Dia cuma hutan kota yang isinya pohon trembesi. Tapi dia dipublikasikan bersamaan dengan sejarah dan cerita sehingga orang tertarik mengunjungi. Sampai jadi destinasi yang wajib di paket tour wisata.
Batang punya kebun teh, punya hutan pinus, tinggal diperbagus fasilitasnya. Sehingga banyak yang datang. Dinas pariwisata daripada kerjaannya nggak jelas, berdayakan jasa open trip yang bisa memandu siapapun yang ingin mengelilingi Batang. Kalau sudah ramai, baru dah tuh dikomersilkan. That’s simple.
BACA JUGA: Orang INFJ Jangan Tinggal di Perbatasan Batang dan Pekalongan kalau Mau Tetap Waras
Kawasan industri Batang siap jadi daya tarik
Keberadaan Kawasan Industri Terpadu Batang juga sudah menjadi daya tarik tersendiri. Kalau banyak investor masuk, tentu membuka banyak lapangan pekerjaan. Membuat Batang bisa jadi tujuan orang mencari kerja.
Tapi di sisi lain, keberadaan kawasan industri tersebut juga perlu menyadari soal tata ruang, transportasi lokal, ruang publik, dan strategi UMKM dari sekarang, Sebab kalau industri itu hidup, maka ramai truk lewat, ramai pekerja datang, ramai pembangunan perumahan, ramai warung dadakan, harga tanah pun jadi naik.
Pada kondisi itu, Batang akan dihadapkan pada dilema yang sering dihadapi oleh daerah lain. Tumbuh dengan ramai bersama dengan meningkatnya kualitas hidup warga, layanan publik, ruang aman, kegiatan budaya, dan ekonomi lokal. Atau ramai bersamaan dengan aktivitas pabrik yang menguntungkan pihak luar sementara warga lokal hanya kebagian debu dan peradaban yang bisa jadi tak lagi tenang.
Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kabupaten Batang Kastanya di Jawa Tengah Sudah Berbeda, dan Nggak Miskin seperti Kabupaten yang Lain
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















