Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Acara TV

Bisa-bisanya, GTV Tampilkan Konten Pelecehan Seksual di Program Acaranya!

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
10 Juli 2021
A A
Bisa-bisanya, GTV Tampilkan Konten Pelecehan Seksual di Program Acaranya! terminal mojok.co

Bisa-bisanya, GTV Tampilkan Konten Pelecehan Seksual di Program Acaranya! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Jagat Twitter lagi-lagi dihebohkan oleh perkara pelecehan seksual untuk entah kesekian kalinya. Bedanya yang kali ini pelecehan seksual tersebut tampil di media broadcast audio visual yang bisa ditonton oleh siapa pun. Tak hanya itu, cuplikan kontennya bahkan diunggah di platform media sosial TV tersebut dengan caption yang minim empati. Akun Twitter @khaliskha_cr membagikan temuan tersebut lengkap dengan perspektif yang mendukung korban.

https://twitter.com/khalisha_cr/status/1413190706798026754?s=19

Kronologinya kira-kira seperti ini, seorang entertainer perempuan sedang melaksanakan syuting untuk program stasiun TV kita sebut saja GTV. Syuting tersebut dilakukan dengan setting lokasi yang melibatkan perkumpulan khalayak. Tiba-tiba di tengah perkumpulan tersebut ada seorang laki-laki yang mendekat kepada entertainer perempuan ini dan memegang bagian tubuhnya. Spontan perempuan tersebut berteriak dan menyatakan amarah dan rasa tidak setuju pada perlakuan pelaku.

Namun, yang aneh adalah kerumunan masyarakat yang ada di lokasi justru mencemooh dan meledek korban. Ditampilkan pula salah seorang pria berseragam polisi yang tampak menghalau kekesalan korban kepada pelaku. Iya, kalian tidak salah baca, polisi tersebut menghalau korban saat menyatakan kemarahan kepada pelaku. Meskipun akhirnya meminta maaf, pelaku menyatakan permintaan maaf dengan senyuman basa-basi khas orang Indonesia. Menyebalkan.

Penulis twit dan banyak netizen lain beramai-ramai menyatakan kekesalan terhadap pelaku, pria bersragam polisi, maupun stasiun TV yang menayangkan konten tersebut. Akan tetapi, yang tak kalah miris adalah komentar netizen di platform media sosial GTV yang ikut menyalahkan korban. Kalimat-kalimat seperti, “Salah sendiri bajunya.” Atau, “Kucing kalau dikasih ikan asin ya pasti nyamperin,” dan lain sebagainya banyak sekali dilontarkan. Tak jarang, akun yang melontarkan kalimat tersebut adalah akun-akun milik sesama perempuan.

Kalau kita ingat, kejadian ini bukanlah kali pertama konten pelecehan seksual ditampilkan terbuka di ruang broadcasting untuk publik. Sebelumnya, ada sinetron Indosiar yang menampilkan marital rape kepada anak di bawah umur yang setelah ramai-ramai diprotes oleh netizen, pemain digantikan dengan cara yang cukup irasional. Lalu, kira-kira munculnya konten demikian beserta pemaklumannya bisa kita lihat sebagai apa, sih?

Pertama, kita dapat melihat secara jelas gambaran sensitivitas kreator yang bekerja untuk menghasilkan konten tersebut terhadap pelecehan seksual. Tidak mungkin ada konten untuk media sebesar GTV ataupun Indosiar yang lolos tayang tanpa proses diskusi. Mereka pasti perlu memperhitungkan segala hal yang akan dikerjakan mulai dari biaya yang harus dikeluarkan, perkiraan pendapatan, rating, alur acara, dan lain sebagainya.

Pun misalkan pelecehan seksual yang ditampilkan oleh GTV tersebut di luar perencanaan, masih ada kesempatan untuk memilih apakah akan ditayangkan atau tidak. Ternyata, mereka memilih menayangkan dan bahkan mendaur ulang konten pelecehan seksual tersebut untuk media sosial mereka. Itu artinya, mereka masih bisa berkompromi terhadap konten pelecehan seksual tersebut sehingga ia lolos tayang. Entah keuntungan, traffict, dan yang lainnya. Atau bahkan kemungkinan terparahnya, dalam satu tim yang terlibat, tidak ada yang menganggap konten pelecehan seksual sebagai masalah sehingga tidak ada yang perlu dikompromikan lagi.

Baca Juga:

Balada Perempuan Penghuni Jogja Selatan, Gerak Dikit Kena Catcalling Orang Aneh, Ketenangan Itu Hanya Hoaks!

Ada Bus Pink untuk Perempuan, tapi Kenapa Nggak Ada Transjakarta Khusus Laki-laki?

Kedua, ekspresi spontan khalayak yang cenderung mengolok-olok korban menggambarkan bahwa kita masih jauh dari harapan kesetaraan gender. Misalnya pun dalam kerumunan masyarakat itu ada yang mengerti, belajar, atau paham tentang kesetaraan gender, tetapi dalam ekspresi spontan yang terekam di kamera tidak ada yang berani berbuat apa-apa. Kecuali seorang laki-laki di akhir video yang berupaya mengungkapkan kemarahannya, tapi dihalau (lagi) oleh pria berseragam polisi tersebut.

Ketiga, aparat kita yang entah harus dengan cara apa lagi meggambarkan citra buruk mereka dalam menangani kasus pelecehan seksual. Sudah berapa kali kita dengar dan baca cerita korban yang berusaha melapor kepada aparat, tapi justru dirundung dengan pertanyaan-pertanyaan pemicu trauma. Sebagian lagi, bahkan ada yang dilecehkan oleh para “so called penegak hukum” itu.

Keempat, women support women yang masih jauh panggang dari api. Teori dan semangatnya kita dengar di mana-mana, tapi praktiknya jauh dari harapan. Jangankan pelecehan seksual, prestasi dan pencapaian sesama perempuan saja msaih kerap direndahkan oleh sesama perempuan. Rasa ingin selalu menjadi lebih baik diabnding perempuan lain, atau biasa kita kenal sebagai queen bee syndrom tampaknya lebih mendominasi dibandingkan empati kita terhadap sesama perempuan.

Makanya, ketika terjadi pelecehan seksual pun, ramai-ramai perempuan lain menuding korban sebagai pihak yang lalai dalam menjaga diri dan berpenampilan. “Tidak seperti aku atau kami yang sudah lebih baik dalam berpakaian sehingga tidak dimakan kucing seperti kamu.” Mungkin demikian yang ada dalam pikiran mereka ketika menulis komentar yang menjijikkan dan menyakitkan itu.

BACA JUGA Mengapa Korban Pelecehan Seksual Memilih Speak Up di Internet ketimbang Melapor? dan tulisan Fatimatuz Zahra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: GTVPelecehan SeksualPojok Tubir TerminalTV nasional
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

child sex tourism pelecehan anak mojok

Child Sex Tourism, Fenomena Bejat yang Luput dari Perhatian Media Indonesia

8 Agustus 2020
Nas Daily Dikecam Adalah Kabar Baik, Saatnya Kita Menuntut Etika dari para Influencer! terminal mojok.co

Nas Daily Dikecam Adalah Kabar Baik, Saatnya Kita Menuntut Etika dari para Influencer!

9 Agustus 2021
Kalau Angka Dislike YouTube Hilang, Memangnya Ada yang Senang_ terminal mojok

Kalau Angka Dislike YouTube Hilang, Memangnya Ada yang Senang?

7 Juni 2021

Mixed Feeling HRD Saat Mengetahui Ada Karyawan yang Ajukan Resign

2 Juni 2021
vaksinasi vaksin berbayar covid-19 Hoaks Vaksin Mengandung Virus Itu Wagunya Sampai Ubun-ubun terminal mojok.co

Acara Vaksinasi oleh Parpol, Tanda Skala Prioritas Negara yang Bobrok dan Jakartasentris

30 Juli 2021
Menertawakan Pelecehan Seksual yang Terjadi pada Laki-laki Itu Humor Ugal-ugalan terminal mojok.co

Pelecehan Seksual pada Laki-laki Jangan Ditertawakan, Humor kok Ugal-ugalan

16 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.