Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Bisa Belajar dari Rumah selama Masa Pandemi Itu Privilese Lho

Siti Halwah oleh Siti Halwah
29 April 2020
A A
belajar dari rumah wfh orang tua anak mojok.co wabah corona Sebetulnya Kuliah di Sekolah Kedinasan Bukanlah Hal yang Patut Dibanggakan

belajar dari rumah wfh orang tua anak mojok.co wabah corona Sebetulnya Kuliah di Sekolah Kedinasan Bukanlah Hal yang Patut Dibanggakan

Share on FacebookShare on Twitter

Dua minggu lalu budhe saya kebingungan saat membantu anaknya, yang sedang belajar dari rumah, mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tugas tersebut rupanya harus dikerjakan melalui Google Form yang otomatis memerlukan email. Menurut pengakuan Budhe, ia sudah mendaftarkan email anaknya ke pihak sekolah. Tapi, kok nggak bisa?

Jiwa sok tahu saya muncul dan mencoba membantu. Ternyata, Budhe saya sebenarnya belum punya email, makanya tugas anaknya nggak bisa dikerjakan. Lah kalo dipikir-pikir, Budhe saya bisa main Facebook selama ini pakai apa kalau nggak punya email?

Lain Budhe, lain juga cerita tentang tetangga saya. Anak tetangga saya mengadu pada saya dengan wajah penuh prihatin. Dia bilang, dia ketinggalan ujian. Emailnya eror dan nggak terhubung ke platform Google Classroom, sedangkan keluarganya nggak bisa bantu. Ia sudah minta tolong pada ayahnya yang ada di seberang pulau, namun juga nggak bisa. Alhasil, ia terpaksa ikut ujian susulan.

Dia juga bercerita bahwa sebagian besar teman-temannya juga terpaksa ikut ujian susulan sepertinya. Cuma, beda kasus. Jika ia nggak ikut ujian karena emailnya eror, maka sebagian besar temannya terpaksa nggak ikut ujian karena memang nggak punya ponsel pintar. Pihak sekolah dan para guru sudah mewanti-wanti untuk menyuruh mereka meminjam, namun tampaknya banyak yang belum mendapatkan pinjaman. Alhasil, mereka harus ikut ujian susulan.

Di masa-masa pandemi seperti ini, ketika pemerintah menyarankan untuk berada dari rumah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan imbauan untuk belajar dari rumah, hal tersebut tentu saja efektif hanya untuk sebagian orang—sebagian besar lainnya merasa kesulitan. Baik kesulitan gara-gara nggak tahu cara kerja teknologi ataupun karena memang nggak punya fasilitas sebagai sarana untuk belajar dari rumah.

Jangankan punya privilese untuk bisa ikut kelas face to face via Zoom seperti yang banyak diceritakan oleh orang-orang. Lah, laptop dan ponsel pintar saja banyak yang nggak punya. Alhasil, anak-anak seperti ini justru malah benar-benar libur dan sama sekali nggak belajar selama di rumahnya.

Mungkin Pak Nadiem juga menyadari kesulitan anak-anak tak berprivilese ini—atau minimal punya firasatlah, makanya beliau memberikan solusi yang cukup cemerlang dengan menganjurkan semua anak-anak untuk belajar melalui TVRI, saluran tivi milik negara. Sungguh, sebuah ide yang brilian sekali menurut pendapat banyak ahli.

Tapi, kira-kira Pak Nadim ini pernah survei sebelumnya nggak, ya, akan keterjangkauan siaran TVRI ke seluruh Indonesia? Ya kan, yang harusnya belajar di rumah aja bukan cuma siswa se-Jabodetabek toh, tapi juga siswa seluruh Indonesia termasuk di pelosok-pelosoknya.

Baca Juga:

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Pasalnya, saluran TVRI di tv saya sinyalnya butek banget. Saya sih, awalnya mikir kalau hal ini mungkin cuma terjadi di tv rumah saya. Namun, hampir semua anak tetangga mengaku kalau saluran TVRI di rumah mereka juga jelek. Beberapa bahkan sama sekali nggak memiliki saluran TVRI di tv-nya, ada juga anak-anak yang memang nggak punya tv di rumahnya, jadi sama sekali nggak kenal dengan yang namanya TVRI. Haduh, gimana mau belajar kalo kenyataan yang dihadapi seperti ini ~

Mungkin satu-satunya penolong di masa pandemi untuk anak-anak tak berprivilese tersebut adalah sosok-sosok hero seperti Pak Avan Fathurrahman—seorang guru di SDN Batu Pulih, Sumenep, yang rela mendatangi rumah-rumah muridnya hanya untuk mengajar. Sebagian besar murid-muridnya yang nggak memiliki fasilitas seperti tv, ponsel pintar, dan laptop tentu akan kesulitan untuk belajar karena kekurangan materi dan bahan pelajaran. Makanya, beliau memilih untuk mengajar mereka satu per satu di rumahnya.

Pak Avan—yang baru-baru ini viral karena membagikan kisahnya di Facebook—rupanya sadar, meskipun tidak memiliki fasilitas memadai, anak-anak tetap harus belajar dan mendapatkan bimbingan dari para guru. Karena kalau hanya dibiarkan belajar sendiri di rumah, banyak dari mereka yang merasa kesulitan untuk memahami pelajaran.

Para orang tua di desa juga nggak bisa banyak membantu anaknya untuk belajar karena harus bekerja di ladang atau memang nggak paham sama mata pelajaran anak-anaknya. Makanya, Pak Avan merelakan dirinya menempuh perjalanan berkilo-kilometer hanya untuk menunaikan kewajibannya mengajar anak-anak didiknya.

Aksi Pak Avan ini tentu saja menginspirasi banyak para guru yang juga merasakan dilematis yang sama—ingin mengajar, tapi kondisi anak didiknya nggak memungkinkan untuk hal tersebut. Salah seorang senior saya yang berprofesi sebagai guru dan tinggal di perbatasan kota Surabaya juga tergerak untuk melakukan hal yang sama. karena beberapa siswanya ternyata juga nggak punya tv di rumahnya, sedangkan ponsel pintar dipakai oleh orang tuanya untuk bekerja mencari sesuap nasi.

Saya nggak tahu sampai kapan kondisi seperti ini akan berlangsung. Menurut saya, pemerintah perlu memikirkan solusi lain bagi masalah pendidikan anak-anak di pelosok selain mengandalkan sosok-sosok hero seperti Pak Avan. Kalau perlu, ajak saja diskusi para stafsus milenial untuk memikirkan para aset generasi bangsa di masa depan ini, daripada kerjanya cuma bikin blunder tiap hari.

BACA JUGA Kerja Jadi Sales yang Sering Bikin Mbatin “Gusti Paringono Kuat Atiku” dan tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2022 oleh

Tags: belajar dari rumahSekolahwabah corona
Siti Halwah

Siti Halwah

menulis untuk eksis

ArtikelTerkait

Ironi Profesi Guru: Mengajar Anak Orang Sampai Pintar, tapi Anak Sendiri Nggak Diperhatikan Mojok.co

Ironi Profesi Guru: Mengajar Anak Orang Sampai Pintar, tapi Anak Sendiri Nggak Diperhatikan

17 Mei 2024
4 Pengalaman Duka yang Dirasakan saat Rumah Dijadikan Tempat Nongkrong

Pengalaman Ngekos di Kamar Kos yang Tak Ada Jendela

23 Mei 2020
4 Model Pendidikan ala Ivan Illich yang Harus Dimiliki Sekolah MOJOK.CO

4 Model Pendidikan ala Ivan Illich yang Harus Dimiliki Sekolah

24 Juli 2020
mudik pandemi wabah corona protokol kesehatan di desa abai mojok.co

Mudik di Masa Pandemi: Lebih Horor Ketimbang Menetap di Jakarta

14 September 2020
5 Pengalaman Unik Saya sebagai Gen Z yang Bekerja sebagai Guru Mojok.co

5 Pengalaman Unik Saya sebagai Gen Z yang Bekerja sebagai Guru

28 Agustus 2024
Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  

Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  

21 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.