Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan: Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut

Lindu Ariansyah oleh Lindu Ariansyah
20 Januari 2023
A A
Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut Terminal Mojok

Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut (Buku Mojok)

Share on FacebookShare on Twitter

Judul: Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan
Penulis: Awi Chin
Penerbit: Buku Mojok
Tebal: 228 halaman
Tahun Terbit: 2022

Semestinya kematian adalah hal yang maklum dan niscaya dalam hidup. Namun, itu bisa menjadi indah bahkan mengerikan begitu dibenturkan dengan bagaimana kematian itu “semestinya” terjadi. Mengapa kita menyayangkan kematian seorang berbudi baik dan merutuk hidup seorang bajingan yang tak kunjung berakhir? Apa hak manusia menuntut ideal di hadapan sang maut? Toh, sama-sama ujung dari hidup.

Ajal pasti bertemu. Itu sudah suratan. Namun, kematian bukan sekadar halaman pemungkas dari lembaran kehidupan. Ia hadir guna menandaskan betapa maut dan hidup saling bertaut.

Buku Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan ini hadir mencoba mengurai kelindan tersebut. Kumcer yang terdiri dari 16 kisah ini akan membawa pembaca kepada suasana yang senyap dan pengap. Hampir setiap cerita di dalamnya menggandeng maut sebagai bayang-bayang nyata yang setia menemani.

Bau anyir dalam setiap kisahnya seperti menusuk mata dengan imaji-imaji menyeramkan yang gamblang. Deskripsi peristiwa dari satu cerita ke cerita lainnya mengilustrasikan hal-hal nanar yang tak bisa diamini oleh akal sehat manusia. Maka wajar apabila di awal buku, Awi Chin selaku penulis memberi peringatan bahwa cerita-cerita dalam bukunya ini bisa mengganggu pikiran bagi pembaca yang memiliki problem kesehatan mental yang kurang stabil dan tidak siap membaca baris demi baris kekejaman yang digambarkan secara eksplisit.

Membaca kalimat per kalimat dalam Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan ini seperti merapalkan mantra-mantra kematian. “Kematian” adalah “nyawa” dari buku ini. Ia diobral, dikais, dan dipilin sebegitu rupa terus-menerus hingga gulungan cerita usai bersamaan menutup buku.

Namun, “mati” di sini bukan saja melulu tentang maut. Mati-mati yang lain juga ikut dipersoalkan dalam buku setebal 228 halaman ini. Matinya nalar, naluri, dan nurani kemanusiaan turut menghiasi setiap dinding ceritanya. Tak heran bila cerpen-cerpen dalam buku ini juga sedikit menyinggung perihal sosial, sejarah, moralitas, dan tradisi yang lekat dengan kehidupan kita.

Penyesalan abadi sepasang kekasih remaja yang melakukan aborsi, ambisi buta seorang pengayau, enumerator penyu yang dipenjara karena totalitasnya, dan legenda Tragedi Mandor hanya segelintir kisah pilu mengiris hati yang akan kamu dapati dari Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan. Betapa nyawa dan hak hidup manusia bisa begitu murah dan mudah direnggut oleh sesamanya hanya demi kepicikan dan nafsu keserakahan yang semu.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Tak hanya itu, harga hidup seseorang juga ternyata ditentukan dari identitas yang melekat pada dirinya. Itu digambarkan begitu ironis, tapi amat sukar dibantah realitasnya. Sejarah sudah banyak mencatat kengerian semacam itu dan masih terus bertambah daftarnya hingga hari ini.

Kisah pasutri Tionghoa Aliong-Amoy dalam cerpen berjudul Elegi Sekeping Pagi, misalnya. Nelangsa kaum minoritas yang hidup dalam perundungan menampar kita seolah-olah level kebajikan manusia bisa ditentukan berdasarkan etnis semata. Betapa kejamnya sebuah fitnah itu dan betapa keji orang-orang yang mengamininya dan melahirkan stigma karenanya kemudian.

Selain itu, ada juga cerita-cerita yang mengangkat tentang isu lingkungan. Pembakaran hutan demi tambang ataupun penggusuran hutan adat demi pembukaan lahan sawit yang dianggap lebih prospektif, eksistensi flora dan fauna endemik yang tidak lagi diperhatikan, sampai kerusakan ekosistem laut yang begitu memprihatinkan dibahas di sini.

Karena banyak mengambil latar tempat di Kalimantan, kita pun akan akrab dengan deskripsi yang melekat dengan hal ihwal lokalitasnya. Penggambaran Sungai Kapuas, cerita-cerita lokal yang legendaris, dan bahasa daerah yang khas menjadi nyala warna sepanjang membalik halaman demi halaman. Kalau kamu orang Kalimantan, khususnya Kalbar, mungkin akan mengalir saja ketika membaca cerpen satu ke cerpen selanjutnya. Namun, buat kamu yang belum akrab atau bahkan baru mengenal bahasa dan dialek khasnya, tentu perlu adaptasi lebih untuk mencernanya. Tapi, itu juga bagus, bisa jadi wawasan baru.

Dari segi penulisan, sebagian besar cerpen dalam Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan menggunakan sudut pandang orang pertama, dan di antaranya dituliskan secara bergantian menurut perspektif dua tokoh yang berbeda. Ditambah, ada beberapa cerita menggunakan alur waktu maju-mundur. Maka dari itu, perlu kecermatan lebih guna mengimajinasikannya, baik dari segi sudut pandang penceritaan maupun kronik cerita.

Dua tema lain yang cukup menarik dalam buku ini adalah tentang agama dan cinta. Kisah Yusuf yang memutuskan menjadi mualaf dan diusir oleh sang papa, pengakuan dosa sepasang “kekasih terlarang”, dan nestapa pendaki muda yang bunuh diri di “tangga surga” adalah cerita-cerita yang bisa kita refleksikan bersama.

Benarkah agama yang selama ini kita imani adalah pilihan kita sendiri, ataukah itu merupakan warisan orang tua? Lalu, bisakah kita berlapang dada dengan keputusan beragama orang-orang terdekat kita meskipun kelak harus rela berbagi surga yang tak sama?

Semua orang ingin masuk surga, tetapi kebanyakan dari mereka takut pada kematian. Namun, ungkapan tersebut sepertinya tidak lagi berlaku bagi orang yang tidak lagi memiliki ketertarikan dengan dunia ini. Tokoh bernama Nehemia dalam cerpen kesembilan di buku ini adalah salah satunya.

Nehemia adalah seorang penggembala kerbau yang jatuh hati kepada putri tuannya, Lai Bunga. Sayangnya, perbedaan kasta antara dirinya yang seorang Kaunan dan kekasihnya yang adalah seorang Tandirerung, membuat jalinan kasih mereka tak direstui. Kesedihan Nehemia semakin larut ketika mendapati Lai Bunga memutuskan gantung diri di Pohon Tarra daripada harus hidup bersama laki-laki lain yang tidak dicintainya.

Tetapi, adakah cinta yang sehidup semati itu sesungguhnya? Bagi Nehemia, ia mengamininya dengan menyusul sang kekasih ke alam yang baru. Mungkin, hanya dalam kematian, cinta mereka bisa semurni air mata. Tiada lagi kesedihan, tiada lagi perkabungan. Dan barangkali, kematian memang lebih ramah dalam menerima nirmala cinta, alih-alih kehidupan yang sarat akan sekat dan syarat.

Meski penuh kegetiran, buku Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan ini ditutup dengan “manis” dengan cerpen terakhir yang berjudul sama dengan judul buku. Adalah guratan penuh haru seorang laki-laki yang ditinggal mati istri tercintanya dan mesti membesarkan si buah hati seorang diri.

Cintanya kepada sang istri begitu dalam. Tidak ada yang bisa mengalahkan kuatnya perasaan itu selain kerinduannya yang sering kali datang tiba-tiba dan membuatnya tercekat setengah mati. Tetapi, oh, Maha Besar Tuhan dengan segala kuasa-Nya. Kematian satu orang bisa berarti kehidupan bagi yang lainnya. Karena, ya, hidup ini mungkin memang fana, tetapi ia sadar bahwa rasa cintalah yang membuatnya kuat. Bukankah keberanian untuk tetap menjalani hidup sudah cukup berarti untuk menegaskan keberanian menghadapi mati yang sewaktu-waktu menghampiri?

Tidak akan ada hidup tanpa adanya mati, dan begitupun sebaliknya. Keduanya saling bertaut dan silang-menyilang memberi arti satu sama lain.

Toh, hidup sudah sebentar, mengapa buru-buru?

Penulis: Lindu Ariansyah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Perjalanan Penuh Makna dan Misteri Bersama Oskar Belajar Pergi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2023 oleh

Tags: Awi ChinBiarkan Kematian Merayakan KehidupanBuku Mojokkumcerkumpulan cerpenreview buku
Lindu Ariansyah

Lindu Ariansyah

Membawa bisingnya Jakarta di dalam darah, namun meninggalkan potongan hati yang retak di sudut Magelang. Seorang pengembara rasa yang kini merangkai kembali maknanya lewat kata-kata.

ArtikelTerkait

Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa: Teman Berbagi Luka Masa Kecil terminal mojok.co

Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa: Teman Berbagi Luka Masa Kecil

2 Desember 2021
Bearish dan Bullish, Novel Bisnis Digital dengan Genre Misteri Terminal Mojok

Bearish dan Bullish, Novel Unik Gabungkan Tema Bisnis Digital dan Genre Misteri

1 Oktober 2022
Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan untuk Berbagi Beban Kehidupan Terminal Mojok

Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan dan Berbagi Beban Kehidupan

30 Juni 2022
Sebelum Harimu Bersamanya oleh Lya Fahmi: Persiapan Pernikahan Bukan Cuma Cinta dan Uang

Sebelum Harimu Bersamanya oleh Lya Fahmi: Persiapan Pernikahan Bukan Cuma Cinta dan Uang

22 Agustus 2023
Membaca Salah Satu Buku yang Dibaca Suga BTS, 'Reinventing Your Life' terminal mojok.co

Membaca Salah Satu Buku yang Dibaca Suga BTS, ‘Reinventing Your Life’

10 Januari 2021
5 Kumpulan Cerpen yang Sayang Dilewatkan

5 Buku Kumpulan Cerpen yang Sayang Dilewatkan

17 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

27 Januari 2026
Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

27 Januari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

30 Januari 2026
Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal MOJOK.CO

Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal

28 Januari 2026
Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang (Foto milik Hammam Izzudin)

Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang karena Fenomena Ndeso Itu Mewah Tidak Bisa Ditiru

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.