Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Betapa Menyebalkannya Budaya Injak Sepatu Saat Ada yang Pakai Sepatu Baru

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
4 Maret 2020
A A
Deddy Corbuzier, Vans, Ventela: Tentang ATM dan Mimikri demi Konten terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Suatu ketika, saya pergi ke kantor memakai sepatu yang baru saja saya beli. Sepatu kulit yang memang sudah lama saya idam-idamkan. Wajar begitu bisa membelinya dari uang tabungan sendiri, saya senang bukan main. Dan sehari berselang setelah membeli, saya langsung menggunakan sepatu tersebut ke kantor dengan hati-hati. Namanya juga sepatu baru, pakainya masih disayang-sayang. Biar awet.

Begitu tiba di kantor, beberapa teman yang menyadari bahwa sepatu yang saya pakai baru, mereka langsung berkata, “Ciee.. Sepatu baru, nih?” Perkataan tersebut bikin saya salah tingkah. Mau jawab iya tapi ada rada sungkan dan khawatir dibilang sombong, tapi kalau saya bilang bukan sepatu baru, pasti percuma karena mereka tidak akan percaya dan menganggap saya berbohong. Jadi, pada akhirnya saya putuskan untuk berkata apa adanya.

“Iya, sepatu baru, nih. Baru beli kemarin. Bagus, kan?” Jawab saya sekalian pamer. Mereka mengiyakan apa yang saya katakan. Katanya, sepatu saya memang keren. Tapi, tak lama berselang, tanpa diduga dan ketika saya lengah, beberapa teman langsung datang menghampiri saya dan menginjak sepatu baru saya sambil berteriak, “CIEE SEPATU BARU, KENALAN DONG!” Betul-betul random tingkah mereka dan satu yang pasti, bedebah betul. Bikin saya kaget sekaligus sepatu baru saya jadi terlihat kotor. Sudah pasti ini mengurangi kegagahan sepatu barunya.

Tingkah laku seperti itu memang tidak asing bagi saya. Dari SD hingga sekarang, saya masih dihadapkan dengan beberapa teman yang memiliki tingkah laku serupa. Menginjak sepatu baru yang dikenakan oleh seorang teman. Seakan sudah menjadi budaya untuk sebagian orang dan menjadi kesenangan tersendiri ketika melihat sepatu baru langsung kotor.

Nah, masalahnya, ketika saya tanya alasan beberapa—lebih tepatnya banyak—teman, mereka hanya bilang, “Ya, biar nggak keliatan baru banget aja sepatunya, mangkanya diinjek supaya kotor.” Lha, gimana, sih? Orang yang punya sepatu sudah jaga sepatunya baik-baik, orang lain kok malah seenaknya mengotori.

Tapi, sambil berlalu, saya pikir, ya sudahlah. Saya anggap itu bagian dari keisengan teman ke temannya yang lain. Namun, mereka juga harus sadar, nggak semua orang biasa aja atau terima dengan perlakuan seperti itu. Bisa aja kan, ada seseorang yang nggak terima sepatu barunya sampai kotor begitu? Kalau dia sampai marah, gimana? Jadi, mungkin harus dilihat terlebih dulu orangnya seperti apa dan bagaimana.

Makanya, untuk mengakali hal tersebut, agar tidak diinjak sampai kotor, saya sudah memiliki cara dan jawaban tersendiri ketika ditanya sepatu baru atau bukan.

Pertama, jawab aja sepatu ini pinjam punya teman. Terlepas dari percaya atau nggak, beberapa teman akan sungkan sekaligus segan untuk mengotori atau merusak kepunyaan yang bukan milik kita. Kedua, jawab aja ini sepatu lama yang baru atau jarang dipakai, jadi jarang keliatan kalau kita lagi pakai sepatu tersebut. Ketiga, dan ini yang sering saya lakukan, saya mengotori dan menginjak sepatu saya sendiri sampai terlihat sedikit kusam. Karena saya pikir, lebih baik dikotorin sama diri sendiri lah, dibanding sama orang lain yang bahkan bisa jauh lebih kotor nantinya.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Meskipun begitu, nggak semua teman kesal atau marah ketika sepatu barunya dikotori. Sebagian teman yang lain malah suka ketika sepatu barunya diinjak sampai kotor. Alasannya, mereka sendiri risih dengan sepatu yang masih baru dan terlihat kinclong. Untuk sebagian merek, belum lagi ada sensasi kaku gimana gitu. Jadi, biar sepatunya lemes dan nyaman digunakan, katanya. Apalagi untuk beberapa merek seperti Converse dan Vans. Banyak yang berpendapat, kedua sepatu dengan merek tersebut akan lebih terlihat keren jika agak kusam. Malah kalau bisa ada sedikit robekan.

Walau pada akhirnya, sepatu yang digunakan akan rusak dengan sendirinya, berbanding lurus dengan cara dan lamanya pemakaian, tapi nggak salah dong jika saya menjaganya sedari awal dibeli? Apalagi dibeli dengan uang yang ditabung sendiri. Butuh perjuangan tauk! Biar aja deh saya dibilang posesif sama barang kepunyaan, saya cuma kepengin jadi orang yang apik ketika menjaga barang. Syukur-syukur kalau barangnya awet dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama, kan.

BACA JUGA Membeli Sepatu Itu Nggak Selalu Mudah, Sering Rumitnya atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2020 oleh

Tags: ijek sepatusepatu baru
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.