Saya nggak pernah membayangkan kalau dulu sempat ikut tes CPNS selepas lulus SMA. Saya sendiri ikut karena banyak orang tua di lingkungan saya yakin kalau anak itu sukses kalau menyandang status PNS.
Maklum, bagi banyak orang tua di lingkungan saya, PNS adalah pekerjaan paling aman, gajinya tetap, masa depan jelas, dan hari tua terjamin. Saudara saya yang sudah jadi PNS pun berkali-kali meyakinkan saya untuk mengikuti jejaknya.
Tes CPNS yang bikin saya menderita
Setelah lulus SMA, saya memutuskan untuk menunda keinginan untuk kuliah. Alasannya simpel, karena saat itu saya merasa belum mampu dari segi biaya. Pada akhirnya, saya memilih untuk bekerja. Suka duka selama mencari pekerjaan pernah saya alami, bahkan hingga merasa putus asa.
Di tengah keputusasaan, saudara saya memberi tahu tentang pembukaan pendaftaran CPNS. Kabar tersebut memberikan secercah harapan dan mengembalikan semangat saya.
Anehnya, begitu tahu saya ikut daftar tes CPNS, beberapa teman malah berubah sikap. Ada yang bercanda sinis. Ada juga yang nuduh saya pasti punya orang dalam atau biasa disebut “ordal”. Seolah-olah orang biasa nggak mungkin bisa lolos tes CPNS tanpa bantuan orang dalam.
Saya berusaha untuk tidak peduli dan nekat mendaftar CPNS hingga lolos seleksi administrasi. Tetapi, saat hendak melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes SKD, saya malah sakit.
Saya tetap memaksakan diri untuk mengikuti tes tersebut. Alhasil, nilai tidak sesuai dengan harapan dan saya gugur karena nilai saya lebih rendah dari peserta lain. Saya terpaksa menerima kenyataan tersebut.
Awalnya saya kecewa dan sering ngedumel. Tapi, tiga tahun setelahnya saya bersyukur. Dari situ, saya belajar kalau penolakan tidak selamanya buruk. Ada beberapa alasan kenapa saya merasa bersyukur gagal lolos tes CPNS.
#1 Birokrasinya “njelimet” bikin saya bersyukur nggak lolos tes CPNS
Saya dulu mikir kalau jadi PNS itu mudah. Karier aman, gaji tetap, masa depan cerah, dan hari tua tenang.
Sampai akhirnya saya berubah pikiran ketika mendengar cerita saudara saya yang sudah jadi PNS. Katan dia, banyak sekali aturan yang membuat dirinya jadi lebih berhati-hati dalam bekerja.
Rumitnya aturan birokrasi, tekanan pemeriksaan, dan persoalan jam kerja bisa menyeret seseorang ke meja sidang. Makanya, saya jadi sadar bahwa pekerjaan yang terlihat aman, tetap menyimpan ketakutan yang tak terlihat.
Beberapa orang yang saya kenal juga membenarkan rasa syukur saya nggak lolos CPNS. Kata mereka, karier PNS nggak cocok untuk orang yang terbiasa dengan lingkungan kerja yang dinamis dan berorientasi pada target.
Ada beberapa penyebab lambatnya birokrasi di pemerintahan. Prosedur berjenjang yang butuh persetujuan banyak meja, ketakutan mengambil risiko karena takut menyalahi prosedur, dan pembagian tugas yang sangat spesifik membuat pegawai tidak mau membantu pekerjaan di luar porsi mereka.
#2 Permainan politik kantor, nggak cocok untuk orang yang lurus-lurus aja
Ini alasan kedua karier PNS nggak cocok buat orang yang niatnya cuma kerja, pulang, lalu nunggu gajian kayak saya. Memang, permainan seperti ini nggak cuma ada di lingkungan PNS. Di tempat kerja lain pun pasti ada.
Namun, di birokrasi, hal-hal seperti ini kadang terasa lebih rumit dan melelahkan. Apalagi buat orang yang nggak suka cari muka atau ikut arus politik kantor.
Dari cerita saudara, saya mulai menyadari kerja di birokrasi juga berhadapan dengan situasi yang tidak selalu nyaman secara moral. Ada momen ketika seseorang memilih ikut arus atau tetap memegang prinsipnya. Makanya, nggak lolos CPNS malah saya syukuri.
#3 Saat memilih berubah, Saya jadi tahu, ada yang diam-dam nggak suka sama saya
Mungkin terdengar lucu, tapi karena alasan ini saya justru bersyukur pernah ikut seleksi CPNS meskipun gagal. Nggak cuma jadi tahu alur dan deg-degannya sampai susah tidur selama seleksi. Saya jadi tahu dinamika pertemanan ketika memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Waktu itu, ketika teman dekat saya mengetahui bahwa saya hendak daftar CPNS. Respon dia terdengar biasa saja.
Tapi anehnya, saat di chat grup, dia mempermalukan saya. Dia menuduh saya mendaftar CPNS pakai orang dalam. Menurutnya, CPNS itu hanya untuk lulusan S1 atau jenjang yang lebih tinggi. Padahal, ada beberapa posisi yang memang menerima lulusan SMA.
Bahkan ada yang bercanda kalau suatu hari semisal saya menjadi PNS, saya akan korupsi. Walaupun awalnya merasa kesal, tapi terkadang saya maklum ketidaktahuan mereka.
Mereka menganggap lulusan SMA haram hukumnya daftar CPNS. Saya jadi sadar, ketika saya memutuskan untuk berubah, ada beberapa orang yang tidak suka dengan perubahan tersebut.
#4 Gagal tes CPNS malah bikin saya lebih menikmati masa muda
Dengan gagal CPNS, saya jadi punya kesempatan untuk menjelajahi, menikmati, dan membangun pengalaman seperti anak muda pada umumnya. Mulai dari ikut organisasi, magang, sampai part time sambil kuliah. Saya justru lebih menikmati proses itu untuk berkembang dan membangun pengalaman hidup.
Ternyata, jalur hidup yang berbeda membuat saya lebih bisa memahami diri sendiri. Selain itu, mata saya jadi terbuka. Bahwa lingkungan yang memaksa “aman” belum tentu memahami diri saya sepenuhnya. Kegagalan itu menyelamatkan saya dari hidup yang sebenarnya tidak saya inginkan sepenuh hati.
Penulis: Sonya Mawardani
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Jangan Keburu Jatuh Cinta sama PNS, Dunianya Tidak Semudah dan Semulus yang Kalian Kira
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
