Informasi
ADVERTISEMENT

4 hal yang bikin saya bersyukur telah meninggalkan Jogja dan memilih menetap di Tegal

4 hal yang bikin saya bersyukur telah meninggalkan Jogja dan memilih menetap di Tegal Mojok.co

#3 Biaya hidup di Tegal lebih bersahabat

Seorang teman bercerita pusing hidup di Jogja, seakan-akan mimpinya untuk punya rumah sendiri terhalang oleh karyawan gaji imut (karjimut). Memang sudah menjadi rahasia umum harga properti di Jogja memang sudah tidak masuk akal. Begitu pula dengan menjamurnya tempat makan instagramable, kafe kekinian dan tempat makan pinggir sawah yang siap menguras isi dompet.

Sedangkan saya di Tegal masih bisa beli rumah walapun harus KPR. Untuk urusan makan masih ada nasi ponggol Rp5.000-an yang bisa mengganjal perut di tanggal tua. Bukan berarti semua di Tegal murah-murah ya. Harga kebutuhan pokok juga sama terus melambung tinggi. Namun, apabila dibandingkan dengan Jogja, saya rasa biaya hidup sehari-hari di Tegal masih sedikit lebih bersahabat.

#4 Kehidupan sosial di Tegal lebih terasa

Tinggal di lingkungan NU membuat saya lebih aktif di acara-acara hari besar Islam seperti pemasangan obor menjelang maulid nabi, rebo pungkasan hingga hadroh sebelum pengajian yang menjadi hiburan tersendiri. Walaupun terkesan sangat sederhana, acara-acara seperti ini bisa mempererat hubungan silaturahmi dengan para tetangga yang semakin sulit kita temukan di perkotaan.

Mungkin karena lingkungan di Tegal juga belum begitu perkotaan seperti tempat tinggal saya di Jogja ya, jadi kebiasan seperti di atas jadi lebih terjaga. Namun, pengalaman bertahun-tahun tinggal di tanah perantauan ini membuat saya bersyukur berani keluar dari Jogja dan memutuskan tinggal di Tegal. 

Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat bagi saya untuk menetap di Kota Tegal. Perlahan-lahan saya semakin cinta dengan kota ini. Jogja merupakan tempat dimana saya lahir dan tumbuh dewasa, namun Tegal menjadi kota kedua yang semakin susah untuk ditinggalkan.

Penulis: Arief Nur Hidayat
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 28 Agustus 2026 oleh .

Arief Nur Hidayat

Seorang buruh pabrik yang menemukan kemerdekaannya di balik mata pena. Di sela deru mesin dan rutinitas yang presisi, ia merawat jiwanya dengan kecanduan menulis, sembari sesekali merayakan kegembiraan kecil melalui barisan jersey