Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Benarkah Bangsa Indonesia Pemalas?

Jamal oleh Jamal
2 Juli 2019
A A
pemalas

pemalas

Share on FacebookShare on Twitter

Kata ‘malas’ bila kita tinjau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) termasuk dalam kata sifat (adjektif) yang berarti tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Seperti dalam kalimat “Orang yang malas itu lebih senang mengemis daripada bekerja”. Adapun kata ‘pemalas’ maknanya adalah orang yang suka malas atau yang bersifat malas.

Saya pribadi kaget sekaligus miris ketika melihat fakta informasi dari channel youtube yang bernama ‘Dent Bagoezt’, dia mengungkapkan sebuah survey yang membuktikan bahwa Indonesia adalah negara paling malas di dunia. Kok bisa begitu? Marilah kita bedah informasinya.

Sebuah berita yang dilansir dari situs ‘Theculturetrip.com’ telah melakukan studi dengan sampel lebih dari 700.000 orang, berasal dari 111 negara,  menghasilkan rata-rata langkah kaki yang diambil setiap harinya mengejutkan Indonesia. Ternyata langkah kaki yang paling sedikit jumlahnya adalah negara kita.

Menurut Scott Delp sebagai peneliti dari Stanford University, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak langkah kaki orang-orang di dunia dalam sehari. Selain itu, infromasi ini akan dijadikan informasi yang sangat penting bagi dunia kesehatan.

Penelitian ini menggunakan teknologi canggih smartphone yang mendeteksi langkah kaki manusia dalam aktivitas seharian penuh.

Penemuan ini akhirnya menyajikan hasil mana negara yang aktif bergerak dan mana negara yang malas bergerak. China menduduki peringkat negara paling aktif di dunia. Jumlah rata-rata 6.880 langkah per-hari penduduknya berhasil meraih peringkat pertama.

Sementara negara paling malas bergerak dipegang oleh orang-orang Indonesia dengan jumlah rata-rata 3.513 langkah per-hari. Jumlah ini berarti 2x lipat lebih sedikit dibandingkan dengan china. Pantas saja berdasarkan pandangan umum, orang-orang China dikenal rajin bekerja ya? Bahkan beberapa perusahaan besar dan tokoh-tokoh bangunan atau bengkel di kota-kota besar adalah beretnis China.

Sementara peringkat kedua paling malas dibawah Indonesia adalah Arab Saudi dan disusul negara tetangga Malaysia. Satu fakta yang menjadi alasannya adalah obesitas. Para peneliti mengatakan bahwa orang Indonesia kebanyakan malas bergerak dan sangat suka makan. Akibatnya, banyak orang di negara kita mengalami obesitas.

Baca Juga:

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

Apa pun Kejahatan di Surabaya, Orang Madura Selalu Dijadikan Kambing Hitam

Selain itu, dari sisi budaya ternyata tolak ukur kekayaan di Indonesia itu dari obesitasnya. Artinya semakin gemuk orang, dianggap semakin kaya (makmur). Mungkin ada benarnya sih, pasalnya teman saya ada yang gagal mendapatkan beasiswa bantuan dari sekolah, hanya gara-gara dia berbadan gemuk. Menurut pihak sekolah, tidak mungkin orang yang gemuk itu miskin. Pastilah gemuk sama dengan kaya. Meskipun kenyatannya tidak selalu demikian.

Dari sisi gaya hidup betransportasi, orang Indonesia lebih suka mengendarai sepeda motor ketimbang berjalan kaki. Kendatipun dekat jarak tujuannya. Inilah hasil riset yang dilakukan oleh lembaga tersebut di atas. Semoga hal ini membuat kita semakin introspeksi diri dan mau berbenah ke arah yang lebih baik.

Bagaimana pendapat saya?

Menurut saya ada benarnya sih. Coba deh, kita mesti sadar punya kebiasaan buruk tidak disiplin waktu. Kita mengenal istilah ‘jam karet’. Dari acara dengan wilayah sekecil RT sampai tingkat negara pasti ada terlambatnya. Saya pribadi jika mengadakan acara, pasti harus bilang satu jam sebelumnya, supaya untuk mengantisipasi ngaretnya itu. Iya, mungkin ada yang beralasan macet, tapi seharusnya sudah bisa diprediksi sebelumnya, kan?

Saya juga pernah membaca sebuah penelitian dari PISA dan UNESCO bahwa orang Indonesia malas sekali membaca. Dari 63 negara, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dalam hal gemar membaca. Mungkin itu alasannya orang Indoneisa mudah diprovokasi dengan isu hoax dan murahan di dunia maya.

Bila kita perhatikan di bulan Ramadhan, ada kita kenal istilah ‘ngabuburit’ yang tidak lain artinya wasting time alias buang-buang waktu menunggu maghrib untuk berbuka puasa. Orang bule menyebutnya Killing Time. Ini saking tidak ada kerjaan atau bagaimana, saya kurang begitu paham. Realitanya ini sudah menjadi budaya yang mengakar di negeri kita.

Kalau kita berkeliling di kota-kota besar, pasti banyak akan kita temukan tempat tongkrongan dimana-mana. Dan rata-rata tempat itu ramai pengunjung. Apa yang dilakukan orang-orang disana? Macam-macam tentunya. Ada yang ngegame, ada yang hanya ngobrol, ada yang makan-makan, tapi sedikit yang melakukan pekerjaan produktif dan postif misalnya menulis, membaca, bekerja, atau rapat organisasi. Malah lebih banyak pekerjaan unfaedah.

Mungkin kita bisa mengukur seberapa malas diri kita sendiri? Ayo sebutkan seberapa lama waktu yang kita butuhkan dalam bermain gadget? Semakin lama kita mengunakannya semakin malaslah diri kita. Paling tidak itu menurut saya. Kecuali pekerjaannya memang ada di smartphone, itu beda lagi. Seperti orang yang bekerja sebagai driver ojek online atau yang jualan di online shop.

Ya, overall kita tidak terima kan! Jika kita dikatakan bangsa pemalas. Setuju atau tidak, itu hak anda. Meskipun ada fakta-fakta yang menunjukkan ke arah seperti itu. Mungkin kita bisa cari aman dengan mengatakan, ‘Ah, penelitian itu kan tidak bisa digeneralisir. Hanya menggunakan sebagain sampling, tidak seluruhnya. Jadi, kebenarannya tidak bisa valid sepenuhnya”.

Well, boleh saja kita berkata demikian. Namun, menurut saya kita ambil saja hikmahnya. Jadikan ini sebagai cermin untuk kita berkaca diri agar tidak menjadi pribadi pemalas dan bekerja dengan cinta.

Izinkan saya menutupnya dengan kata-kata mutiara (Al-Mahfudzhat) dari Arab

اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ

“Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermalas-malasan dan jangan pula lengah, karena penyesalan itu bagi orang yang bermalas-malasan.”

Terima kasih, semoga bermanfaat.

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: orang indonesiapemalasstereotip
Jamal

Jamal

ArtikelTerkait

Demi Menjaga Lingkungan, Apa Sebaiknya Kita Mandi Sehari Sehari Saja? teminal mojok.co

Betapa Sucinya Orang yang Suka Mandi dan Betapa Hinanya Orang yang Jarang Mandi

13 Agustus 2019
stereotip polisi baru

4 Stereotip yang Kerap Tersemat pada Polisi Baru

18 Oktober 2021
Berhenti Menganggap Gudang Garam Merah sebagai Rokok Dukun, Zaman Sudah Berganti

Berhenti Menganggap Gudang Garam Merah sebagai Rokok Dukun, Zaman Sudah Berganti

2 November 2023
stereotip orang batak tari tortor pesta batak toba mojok.co

3 Stereotip Orang Batak yang Kuterima selama Sekolah di Jawa

19 Juni 2020
Stereotip Orang-Orang Luar Lombok tentang Masyarakat Asli Lombok

Stereotip Orang-Orang tentang Masyarakat Asli Lombok

4 April 2020
5 Kebiasaan Buruk Orang Indonesia yang Bakal Hilang kalau Tinggal di Jepang Terminal Mojok

5 Kebiasaan Buruk Orang Indonesia yang Bakal Hilang kalau Tinggal di Jepang

9 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun
  • Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga
  • Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik
  • 8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.