Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bekerja Sesuai Passion Itu Klise, Layaknya Kata Manis yang Bikin Diabetes

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
22 November 2020
A A
Bekerja Sesuai Passion Itu Klise, Layaknya Kata Manis yang Bikin Diabetes terminal mojok.co

Bekerja Sesuai Passion Itu Klise, Layaknya Kata Manis yang Bikin Diabetes terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Selama saya melakukan proses wawancara dengan para kandidat pekerja, banyak di antara mereka yang mengaku resign dari kantor sebelumnya karena alasan tidak sesuai passion. Padahal, durasi rata-rata mereka bekerja baru sekitar tiga sampai enam bulan. Waktu yang sangat singkat bagi seorang karyawan dalam bekerja. Hmmm, memangnya bekerja sesuai passion itu harus banget ya?

Dalam waktu yang singkat itu, dapat ilmu yang cukup dalam dunia kerja aja belum. Bahkan, bisa jadi proses adaptasi saja belum maksimal. Lantas, gimana mau menemukan passion kalau kerja aja baru sebentar?

Begini. Saya tidak ada masalah dengan para pencari kerja atau karyawan yang terus mencari tempat untuk bekerja sesuai passion. Saya menghargai hal tersebut. Tapi, tolong. Passion jangan dijadikan suatu alasan yang sangat klise saat kalian resign atau pindah dari satu kantor ke kantor lainnya.

Pasalnya, antara mencari passion dan merasa bosan beda-beda tipis. Giliran ditanya passion-nya apa, jawabnya malah, “Belum tahu, nanti juga nemu sendiri.”

Lah. Gimana, sih, Sob. Hmmm.

Oke. Dalam persoalan ini, saya bisa menyarankan sesuatu yang paling tidak bisa sangat dipertimbangkan atau dilakukan, yaitu cobalah untuk mencintai pekerjaan kalian. Awalnya pasti sulit. Bahkan, sangat sulit. Ini bisa jadi alternatif dibanding kalian sebentar-sebentar harus resign dengan alasan ingin bekerja sesuai passion. Sebab, jika kalian belajar mencintai apa yang kalian kerjakan, lama-lama akan menjadi suatu passion juga. Tentu saja nggak bisa didapat secara instan dan harus melalui proses.

Saat kita bekerja, disadari atau tidak, perlahan, pada prosesnya, dan seiring berjalannya waktu, kita akan menemukan berbagai potensi atau keterampilan yang ada pada diri kita. Terkadang, hal tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Modalnya memang harus bersabar dan mau menggali apa yang diminati atau disukai. Bukan menjadi seseorang yang pasif dan pasrah menunggu.

Dalam hal ini, teori trial and error sangat perlu dilakukan. Coba lakukan beragam hal sampai kalian merasa, apa yang kalian kerjakan sangat menyenangkan. Jika ada satu atau dua kegiatan yang dirasa kurang sreg untuk diri kalian, ya temukan lagi kegiatan lainnya. Syukur-syukur jika dalam waktu mendatang bisa menghasilkan cuan. Salah satu solusinya, passion itu bisa didapat kalau kita take an action. Bukan malas-malasan.

Baca Juga:

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Kantor yang Bikin Pekerja Lain Tersingkir dan Menderita

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

Seperti kata John Locke, setiap manusia itu dilahirkan seperti kertas putih yang kosong. Mau menjadi apa kelak, tergantung coretan apa yang dibuat dalam kertas tersebut. Kalimat filosofis tersebut menjadi suatu penegasan bahwa kita harus melakukan sesuatu jika ingin menjadi sesuatu atau menemukan hal yang diinginkan. Termasuk dalam hal passion.

Selain itu, apa pun yang kita lakukan, memiliki potensi yang sama akan menjadi passion di masa mendatang. Jadi, saya selalu berpikir bahwa, bekerja sesuai passion, mengejar passion, dan istilah lainnya yang sering dipakai oleh para pencari kerja atau karyawan yang resign, nggak akan ada ujungnya. Sebab dalam prosesnya, bisa jadi kita akan menemukan passion-passion baru yang klop.

Mencintai pekerjaan yang sedang dilakoni, saya pikir nggak salah-salah amat. Bisa jadi segala hal positif bisa bermunculan dan didapatkan. Mulai dari rezeki, relasi, juga potensi diri. Ingat, bisa jadi sesuatu yang kita nggak sukai, malah memberikan sesuatu yang dibutuhkan.

Sebetulnya, masuk akal juga, sih. Dalam zona yang kurang atau tidak nyaman sama sekali, meski awalnya kita merasa terpaksa, perlahan akan menjadi terbiasa, pada akhirnya malah jadi bisa. Nggak sedikit pula menghasilkan output yang luar biasa. Oleh karena filosofi ini, mencari pekerjaan sesuai passion menjadi kurang relevan. Seakan klise. Hanya menjadi tameng dan dijadikan alasan ketika sedang bosan saat melakukan suatu rutinitas.

Jika sudah berusaha sekuat mungkin tapi tidak menemukan apa pun, barulah mengambil tindakan dan langkah besar. Tentunya pengambilan langkah ini juga dipertimbangkan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Apakah ketidaknyamanan bekerja di kantor sebelumnya itu karena tidak ada ruang development, tidak adanya kesempatan yang adil, atau faktor penghambat lain.

Pada akhirnya, ada kalanya dalam proses menemukan passion kita harus menjadi seperti anak-anak yang selalu berani mencoba banyak hal, punya rasa penasaran yang tinggi, bahkan saat berlari nggak takut jatuh sama sekali. Lari ya lari aja gitu. Kalaupun terjatuh, bangkit lagi, lanjut lari lagi, berproses lagi, eksplorasi banyak hal lagi.

Selain seperti belajar, hidup itu ibarat kita sedang main game. Kita harus siap untuk naik level. Setiap level punya rintangan tertentu. Dan dalam perjalanannya, kita harus mendapatkan item juga perlengkapan ini dan itu untuk melengkapi kemampuan yang dimiliki. Biar makin tangguh saat menghadapi rintangan tertentu. Sama dengan passion yang bisa ditemukan jika kita mau terus berproses.

BACA JUGA Film Bokep Adalah Tontonan dengan Skenario Paling Membosankan yang Pernah Ada dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 November 2020 oleh

Tags: dunia kerjaPassion
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Kerja Paruh Waktu di Jepang agar Bisa Kirim Uang untuk Keluarga di Indonesia terminal mojok

Serba-serbi Kerja Paruh Waktu di Jepang untuk Pelajar Asing

5 September 2021
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

14 Agustus 2024
passion

Pentingkah Mengejar Passion?

8 Agustus 2019
Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional Mojok.co

Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional

8 Agustus 2024
passion

Senandika Tak Berujung: Passion itu Makanan Kaleng Macam Apa, sih?

10 Juni 2019
4 Definisi Pemimpin Menyebalkan yang Menimbulkan Demotivasi Kerja Bawahan terminal mojok.co

4 Definisi Pemimpin Menyebalkan yang Menimbulkan Demotivasi Kerja Bawahan

6 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres magang skripsi kuantitatif

Tips Cepat Lulus Skripsi Kuantitatif Tanpa Jadi Tumbal Statistik dari Dosen, Dijamin Waras!

4 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

10 Juni 2026
Selempang Cum Laude untuk Wisuda: Penting, tapi Tidak Sepenting Itu biaya wisuda, malang, kampus di malang

Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

8 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.