Menerka Alasan Bantul Tidak Kunjung Memiliki Mal

Menerka Alasan Bantul Tidak Kunjung Memiliki Mal Mojok.co

Menerka Alasan Bantul Tidak Kunjung Memiliki Mal (unsplash.com)

Beberapa waktu lalu saya sempat mencurahkan keresahan saya mengenai Kabupaten Bantul. Saya resah karena semua bentuk modernitas berada di Sleman. Bahkan, menurut saya, Kota Jogja masih kalah saing dengan perkembangan Sleman yang begitu maju. 

Melihat pesatnya perkembangan Sleman, tidak heran kalau banyak orang menganggap Bantul begitu tertinggal. Sedihnya, ada yang menganggap Kota Geplak ini sebagai pedalaman. Ampun deh! 

Saya sebenarnya ingin protes pada orang-orang yang beranggapan seperti itu. Namun, kalau dilihat secara sekilas, Bantul memang tertinggal dibanding Sleman. Sekarang coba tengok, hampir semua hal ada di Sleman seperti universitas, mal, tempat hiburan modern, hingga wisata alam. Betul-betul kabupaten paket lengkap. Apalah arti Bantul yang unggul dari sisi wisata alam saja. 

Mal tersebar di Sleman, tidak satupun di Bantul

Salah satu pembeda yang paling ketara antara Sleman dan Bantul adalah pusat perbelanjaan alias mal. Ada banyak mal di Sleman seperti Jogja City Mall, Ambarukmo Plaza, Lippo Plaza, Pakuwon Mall, dan Sleman City Hall. Sementara di Bantul, pusat perbelanjaan paling megah adalah toserba swalayan Purnama dan Mulia. 

Saya juga heran, kenapa Kota Geplak yang wilayahnya cukup luas dan mulai ramai pendatang ini sama sekali tidak dilirik untuk dibangun mal ya? Dilihat dari daya belinya, warga sini sepertinya mampu juga kok. Wong banyak juga warga yang sering berbelanja di mal-mal Sleman. 

Rawan klitih

Saya ngobrol dengan seorang kawan dan berusaha menerka alasan di balik Bantul yang tidak memiliki mal. Hal pertama yang terlintas adalah klitih. Saya rasa masuk akal ketiadaan mal di Kota Geplak ini karena faktor keamanan jalanan yang tidak terjamin. Hal semacam ini bisa berdampak besar pada kunjungan mal. 

Selain klitih, sepertinya pemilik modal bingung di mana harus membangun mal di Bantul. Mereka masih memikirkan lokasi yang mudah diakses oleh warga dengan infrastruktur paling memadai. Mengingat, masih banyak jalanan yang belum oke seperti penerangan yang dan jalanan rusak. Infrastruktur perlu dipikirkan baik-baik supaya tidak menambah permasalahan baru berupa kemacetan tak berujung. 

Mempertimbangkan hal-hal di atas, kalau saya sebagai orang yang punya duit yang akan membangun mal, saya akan memilih lahan di dekat alun-alun Paseban. Dilihat dari jaraknya, titik itu mudah diakses oleh warga Bantul. Infrastruktur jalannya pun lebih mending daripada Kasihan dan Sewon. 

Minat warga yang (mungkin) berbeda 

Minat warga Bantul yang berbeda dengan warga Sleman jadi faktor lain yang membuat kabupten ini tidak kunjung punya mal. Ini berdasar pengamatan kasar saja sih, tapi saya cenderung melihat banyak orang Bantul yang menyukai wisata alam daripada ke pusat perbelanjaan. Ini terlihat dari postingan teman-teman yang asli daerah sini lebih sering ke spot wisata alam. Kebetulan, Bantul memang dekat lokasi-lokasi menarik seperti pantai, hutan pinus, gumuk pasir, dan lain sebagainya. 

Kalaupun tidak pergi berwisata alam, orang-orang banyak menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman di warung makan. Misalnya, jajan bersama di Mie Gacoan, Yamie Panda, hingga lesehan angkringan di malam hari. Itu yang saya amati dari teman-teman saya ya. Entah dengan warga Bantul lain, bisa saja berbeda dengan amatan saya. 

Di atas alasan-alasan yang membuat Bantul tidak juga memiliki mal hingga saat ini. Terkadang ingin rasanya Kota Geplak ini punya mal paling modern se-Yogyakarta yang membuat warga Sleman rela menempuh jarak belasan kilometer demi mengunjunginya. Saya ingin melihat mereka sekali-kali yang effort ke selatan. 

Penulis: Cindy Gunawan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Masih Pantaskah Sewon Bantul Menyandang Sebutan Sewonderland?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version