Pengendara di Jogja itu rata-rata santai. Tapi, Bantul Selatan adalah anomalinya. Ngebut? Ah, biasa itu
Ada satu stereotipe tentang Jogja yang menurut saya cukup sulit dibantah: orang-orangnya kalau berkendara cenderung tidak terburu-buru. Kalau lampu merah masih beberapa detik lagi hijau, ya ditunggu. Kalau ada orang menyeberang, ya dipersilakan. Jika ada kendaraan depan jalan pelan, ya disalip kalau memang bisa, bukan sambil marah-marah seperti sedang mengejar warisan keluarga.
Ada satu lagi yang menonjol, yaitu klakson tidak dibunyikan semena-mena. Pokoknya hidup santai. Sampai suatu hari saya sadar ada satu anomali kecil yang mungkin luput dari pembahasan para peneliti sosial maupun pembuat konten wisata: orang Bantul bagian selatan, tempat masa kecil saya.
Entah kenapa, ada semacam energi yang berbeda ketika melihat motor melaju dari arah sana. Bukan ugal-ugalan, bukan juga balapan liar. Hanya saja, ritme yang terasa lebih cepat. Tarikan gasnya lebih mantap. Tatapan pengendaranya lebih fokus. Seolah-olah mereka bukan sedang pergi kerja atau kuliah, tapi sedang menjalankan misi penyelamatan dunia.
Saya punya penjelasan yang cukup masuk akal terkait hal ini.
Orang Bantul selatan kalau tidak berangkat cepat, bisa terlambat
Kalau diperhatikan, banyak orang Bantul Selatan sebenarnya menjalani kehidupan yang agak melelahkan secara geografis. Meskipun banyak masyarakatnya yang berprofesi sebagai petani, tapi tak jarang juga kerjanya kantoran di bagian utara. Kayak di Sleman dan Jogja Kota.
Letak geografis seakan memberikan mereka handicap. Mereka itu punya rumah di bagian selatan. Bertetangga dengan Nyi Roro Kidul atau bule Australia. Sementara itu, sekolah di utara, kuliah di kota, kerja di Jogja. Setiap hari mereka melakukan ritual yang sama, menyusuri jalan ke utara.
Yang tinggal di pusat kota mungkin tidak terlalu merasakan hype seperti ini. Tapi buat orang yang rumahnya jauh di Bantul bawah, tambahan lima belas menit bisa berarti terlambat absen. Tambahan satu lampu merah bisa berarti kehilangan jam masuk. Akhirnya lahirlah satu kemampuan yang tidak tertulis dalam kurikulum sekolah mana pun: kemampuan menghitung waktu sambil menarik gas.
Saya mulai curiga bahwa banyak orang Bantul Selatan sebenarnya tidak suka ngebut. Mereka hanya terlalu sering dihukum oleh jarak. Kalau setiap pagi hidupmu diukur oleh jarak dan waktu, pelan-pelan tangan kanan akan belajar mengambil keputusan yang lebih berani.
Yang demikian ini mungkin juga menjadi pembeda antara orang Bantul yang menganggap Sleman itu dekat, sementara orang Sleman menganggap Bantul itu jauh.
Jalan lurus seperti Shirathal Mustaqim
Kalau faktor pertama adalah kebutuhan, faktor kedua adalah fasilitas.
Coba lihat jalurnya. Ada Jalan Parangtritis dari selatan sampai pol utara ketemu Jokteng Wetan. Ada Jalan Imogiri Barat dan Jalan Imogiri Timur. Lalu, Jalan Samas yang nyambung ke Jalan Bantul hingga Jokteng Kulon.
Jalan-jalan ini punya karakter yang khas, panjang dan terasa lurus seperti jalan yang sudah dibuatkan untuk orang yang sedang buru-buru. Ingat, itu seperti shirathal mustaqim; tergelincir sedikit saja bisa menjatuhkan ke siksa neraka.
Kalau orang lain melihat jalan lurus sebagai infrastruktur, pengendara motor kadang melihatnya sebagai ajakan. Masalahnya, jalan lurus punya efek psikologis yang aneh. Begitu depan kosong dan pandangan jauh, otak mulai berbisik: “Tambah lagi gasnya.”
Awalnya dari empat puluh. Lalu lima puluh. Tiba-tiba sadar sudah seperti sedang dikejar tenggat hidup.
Aspal halus adalah ujian yang tidak semua orang kuat menghadapinya
Saya punya teori lain. Jalanan di Bantul Selatan itu banyak yang enak. Aspalnya relatif halus. Tidak terlalu sering dilewati kendaraan berat. Lubangnya tidak sebanyak jalan yang terlalu sibuk.
Kalau ditambah suasana sekitar yang cenderung lebih lapang dan sepi, hasilnya cukup berbahaya bagi kestabilan emosi tangan kanan. Karena jalan halus itu seperti teman yang berkata, “Gasss.”
Pengendara motor adalah manusia biasa. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika motor terasa ringan, jalan terbuka, angin mulai terasa, lalu jarum speedometer bergerak lebih jauh dari niat awal.
Tapi di titik ini saya sadar satu hal. Mungkin orang Bantul Selatan memang terlihat lebih cepat di jalan. Hanya saja, itu bukan karena mereka sedang menolak filosofi hidup santai ala Jogja. Mereka hanya sedang berusaha tetap bisa hidup santai, tapi setelah sampai tujuan tepat waktu.
Sebab, hidup pelan itu ada syaratnya: jangan terlalu jauh dari tempat kerja. Dan kalau rumahmu di Bantul Selatan, kadang jalan menuju slow living memang harus ditempuh dengan sedikit lebih cepat.
Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













