Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Balada Semangat Aksi Mahasiswa Zaman Now

Nida Nur Fadillah oleh Nida Nur Fadillah
18 Juli 2019
A A
aksi mahasiswa

aksi mahasiswa

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti yang kita ketahui negara ini menganut paham demokrasi, meskipun tak bisa ditampik mengikis juga seiring perubahan zaman. Jangankan berorasi dengan semangat aksi, hak mengemukakan pendapat saja dikebiri. Mengerikan namun memang begitu pada kenyataannya.

Belakangan, masyarakat bertanya-tanya tentang keberadaan mahasiswa. Yang mana sering kali menjadi kepanjangan tangan masyarakat guna mengungkapkan keresahan akibat dari kebijakan pemerintah. Berkumpul pada satu titik, melakukan aksi nyata demi kesejahteraan bersama. Namun, rupanya pahlawan itu menghilang di saat banyak orang membutuhkan.

Usaha guna mendeteksi keberadaan mereka yang digadang sebagai agent of change pun gencar dilakukan. Kata-kata satire tumpah-ruah di linimasa. Di mulai dari pedas level 1, 2, atau pilih saja yang kau suka. Tentu usaha memancing harga diri mahasiswa ini diharapkan mampu mencipta gelisah menggentayangi relung hati. Namun, sayang bukannya terusik dan muncul kepermukaan para mahasiswa seolah bermufakat untuk tetap berada di zona nyaman.

Dengan begitu kecewa mau tidak mau didulang. Yang diharapkan sebagai penyelamat tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Perlahan image mahasiswa sebagai agent of change mulai meleleh seiring rasa kecewa itu memakan segala bentuk aksi heroik di masa lalu. Sebagaimana jangan terlalu percaya doi akan setia tak lekang oleh zaman, janganlah menumpukkan harap pada manusia yang banyak cela dan fana.

Apalagi jika menebak-nebak apakah masih ada rasa peduli terselip di antara dompet mahasiswa yang kondisinya tak kalah kritis di setiap akhir bulan. Atau menguping pendengaran ke dalam kelas demi kelas untuk mencari tahu apakah nasib masyarakat masih diperhitungkan sebagai bahan kajian. Atau diam-diam mengendap apakah tertulis di antara daftar bahasan para aktivis pada saat rapat rutinan.

Sebenarnya sebagai seseorang yang memiliki status mahasiswa, hal ini membuat saya dilema. Lebih dilema dari memilih baju untuk besok ke kampus mau pakai yang mana. Lebih dilema dari menu makan siang pilih seporsi nasi dengan pindang atau sebungkus nasi padang. Lebih dilema dari memilih hangout dengan teman atau telat bayar kosan sebulan. Juga lebih dilema antara cari yang baru atau balikan sama mantan, eh.

Pada intinya, apalah arti semangat aksi jika pundak tak lagi berpayung almamater? Yang melintas dalam benak hanyalah wajah kedua orangtua, di mana penuh pengharapan kelak anaknya menjadi sarjana. Berseri difoto dalam balutan baju wisuda di antara keduanya dengan toga sebagai penghias kepala. Dan mendapat penghidupan lebih baik dari kedua orangtuanya, mengangkat derajat keluarga.

Bilamana status sebagai mahasiswa mendadak tiada, lantas ke mana semua pengharapan akan bermuara? Label sarjana memang tidak menjamin semua itu dapat terwujud, tetapi setidaknya begitulah cara orangtua melaksanakan kewajiban memberi pendidikan pada anak supaya mendapatkan perubahan perilaku dalam konsep ajar.

Baca Juga:

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

6 Lagu Anime yang Cocok Diputar Saat Aksi Mahasiswa

Bukan tak terketuk mata hatinya. Bukan tak tersentuh nuraninya. Bukan pula enggan menjadi agen pembaharuan demi kesejahteraan bersama. Namun, mendengar kabar teman-teman seperjuangan dipersempit ruang geraknya hingga terancam dicabut status kemahasiswaaan karena melakukan aksi: mengkritisi ini-itu. Harus diakui telah membuat bulu kuduk berdiri. Tidur mulai resah, makan gelisah, melebihi gundah gulana kala ditinggal doi.

Bahkan untuk mengkritisi kebijakan kampus saja, hak bersuara itu seolah dikebiri. Kritik bukan lagi sebagai masukan yang diterima dengan tangan lebar, melainkan sesuatu yang sebisa mungkin dihindari bagaimana pun caranya. Memang sebuah ironi yang patut disayangkan, di mana tak sejalan dengan UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Namun, itulah sekelumit yang terjadi di atas panggung demokrasi negeri ini. Menciutkan mental hingga semua terpaksa bungkam dan hilang keberanian. Sebegitunya enggan pada dicampuri segala kebijakan dari bentuk kekuasannya, yang entah terselubung maksud apa.

Jadi, apa yang harus kita pilih, menjaga harga diri sebagai seorang mahasiswa yang didapat dari hasil jerih payah nan berdarah-darah atau nekat berbuat sesuatu yang mengancam stabilitas kemahasiswaan itu sendiri? Semoga saja segera muncul sosok-sosok pemberani yang membuka cakrawala harapan hingga tercipta jalan untuk tetap melakukan aksi demi menyampaikan segala gundah, namun tanpa berada di bawah intimidasi pihak mana pun.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: aksi mahasiswaaspirasi mahasiswadarah juangdemonstrasi
Nida Nur Fadillah

Nida Nur Fadillah

ArtikelTerkait

anarkis

Aksi Boleh, Anarkis Jangan

27 September 2019
cacat hukum ruu cipta kerja komnas ham asas hukum mojok.co omnibus law demonstrasi

Sok Edgy di Tengah Isu Omnibus Law biar Apa, Bos?

8 Oktober 2020
senayan

Catatan Kecil dari Senayan

25 September 2019
aksi mahasiswa

Aksi Mahasiswa Belum Selesai, Tergantung Sebebal Apa DPR dan Pemerintah

25 September 2019
entah apa yang merasukimu

Mahasiswa yang Nyantet DPRD, Presiden, dan KPK: Entah Apa yang Merasukimu

1 Oktober 2019
Widji Thukul

Apabila Widji Thukul Tiba-tiba Muncul dan Baca Puisi di Tengah Demo Mahasiswa

27 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

12 Januari 2026
Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026
Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.