Backstreet Boys Adalah Boyband Terbaik Era '90-an, No Debat! – Terminal Mojok

Backstreet Boys Adalah Boyband Terbaik Era ’90-an, No Debat!

Artikel

Christianto Dedy Setyawan

Era ’90-an memang menjadi masa yang meninggalkan banyak kesan. Tidak cuma soal tayangan TV, tabloid yang beredar, dan lifestyle yang ngehits kala itu, urusan musik pun tak kalah oke. Di zaman di mana banyak acara musik beredar di TV tersebut, boyband sempat merajai kancah musik global.

Di tengah gempuran boyband Korea masa kini, saya yakin di antara alumni anak muda negeri ini pasti masih ingat minimal satu dari nama-nama berikut. Backstreet Boys, Westlife, Boyzone, N’Sync, Blue, A1, The Moffats, New Kids On The Block, Take That, 98 Degrees, Boyz II Men, All 4 One, Five, O-Town, Color Me Badd, BBMak, Plus One, Code Redd, 911, dan LFO. Saya juga yakin pasti seenggaknya netizen masih ingat dan hafal minimal satu lagu dari boyband tadi. Sudahlah…. ngaku aja deh. Ini bukan jebakan umur kok.

Masing-masing orang tentu punya boyband yang diidolakan. Entah karena lagunya, gantengnya, atau koreografinya. Sebagai pengidola banyak boyband ’90-an, saya menganggap Backstreet Boys sebagai yang terbaik. Berikut lima alasannya.

Pertama, Backstreet Boys memberikan contoh bahwa membangun komunikasi yang baik itu penting. Pernah lihat video klip dari band atau penyanyi yang latar tempatnya hanya di dalam satu ruangan? Sebenarnya hal ini sah-sah saja sih meski saya kurang paham alasan di baliknya. Apakah males membuat konsep video klip bernafas ide baru atau ini dilakukan atas nama penghematan biaya produksi?

Backstreet Boys punya banyak video klip yang menunjukkan mereka tidak cuma jualan vokal, lagu, dan tampang, namun juga menyajikan narasi video klip yang membangun lagu. Istilahnya itu video klipnya “bercerita”. Memang tidak semua video klip dari Nick, Kevin, Howie, AJ, dan Brian ini pakai formula non heterogen sih, tapi sampelnya lumayan banyak kok. Bisa dilihat di video klip “Everybody”, “Show Me The Meaning of Being Lonely”, “As Long As You Love Me”, “Larger Than Life”, hingga “The Call”. Penggambaran narasi yang bagus membuat video klip terkesan komplet. Narasi ini berkorelasi dengan melekatnya memori publik pada lagu tersebut. Parade hantu di kastil dalam “Everybody”, kolase kisah ambyar dalam “Show Me The Meaning of Being Lonely”, audisi para wanita dalam “As Long As You Love Me”, perang antar galaksi dalam “Larger Than Life”, dan balapan mobil dalam “The Call”. Pihak tim pembuat video klip tentunya ingin hasil karyanya diapresiasi positif dan tidak gampang dilupakan. Video klip yang ada ceritanya artinya ada komunikasi yang terjalin antara komunikator dan komunikan. Video klip yang baik melahirkan arus komunikasi yang baik. Dari sini kita belajar pentingnya komunikasi. Bukankah banyak cekcok antar pasangan, pertengkaran antar tetangga, hingga perang antar negara lahir karena bentuk komunikasi yang buruk?

Kedua. Kesuksesan yang diraih BSB sejak album perdana dan puncaknya saat album Millenium beredar tidak membuat mereka sombong dan arogan. Sejago-jagonya mereka dan selaku-lakunya kaset mereka, itu nggak ada artinya jika tanpa kehadiran para penggemar. Dukungan para suporter ini diapresiasi di lagu-lagu seperti “The Perfect Fan”, “Larger Than Life”, dan “Bigger”. Setiap band pasti sayang dengan para fansnya. Namun, tidak banyak band yang membuat banyak lagu untuk fans mereka. Backstreet Boys mengambil posisi di tengah potret kelangkaan tersebut. Mungkin ini juga yang membuat Backstreet Boys langgeng umurnya hingga kini. Dari sini kita belajar sikap rendah hati dan menghargai kehadiran orang lain.

Ketiga, jiwa ngemong personel Backstreet Boys kepada musisi juniornya. Bertambah tuanya usia Backstreet Boys dan munculnya musisi-musisi anyar membuat peta musisi laris di dunia pun turut bergeser. Diakui atau tidak, sejak 2000-an popularitas mereka agak meredup. Iya sih, mereka masih lancar di acara off air dan konsernya pun masih banyak didatangi khalayak, tapi seiring pamor boyband Barat angkatan mereka yang mulai ngilang, hal ini berimbas pada eksistensi Backstreet Boys.

Meski begitu, boyband yang akan berusia 28 tahun ini tidak memandang para newcomers ini sebagai rival. Kala para junior bermasalah, Backstreet Boys tak sungkan mengulurkan tangan. Saat Justin Bieber labil jiwanya hingga ditahan kepolisian Miami di tahun 2013, AJ menyatakan ingin menemui manajer Justin yakni Scooter Braun guna berbagi kiat dan nasehat agar Justin mampu melalui fase kelamnya. AJ tahu betul karena ia pernah berada di posisi Justin. Berasal dari keluarga dengan seabrek masalah, kondang di usia muda dan digilai banyak fans, hingga kecanduan tato. Dari sini kita belajar makna simpati dan empati

Keempat, paseduluran saklawase. Ibarat menjadi episode klise dari tiap band, pasti muncul titik kehancuran dalam sejarah mereka. Vakumnya mereka di periode 2002-2004 turut ambil bagian di sini. Berawal pada 2002 saat Nick merilis album solo. Keputusan yang tidak disetujui oleh Brian. Keduanya berkonflik dan sempat perang dingin selama setahun (meski saat itu kurang terendus media). Ini ditambah patah hatinya AJ pada Gwen Stefani yang membuat suasana band jadi uring-uringan.

Ceritanya, di belakang panggung AJ menghampiri Gwen yang sedang ngobrol dengan James Hetfield-nya Metallica. Biduan No Doubt ini menanggapi sekilas dan lantas kembali asyik dengan James. Kecewalah AJ karena ora digagas. Ini cukup beralasan karena saat itu AJ sedang naksir abis pada Gwen. Pada akhirnya, waktulah yang menyembuhkan. Kedewasaan hadir sebagai juru selamat. Relasi Nick-Brian membaik. AJ pun sembuh dari sakitnya dicuekin Gwen, dan bahkan kini berteman pula dengan pacar Gwen, Blake Shelton.

Di waktu yang berlainan, pada 2006 Kevin pernah keluar dari Backstreet Boys karena ada hal lain yang ia kerjakan. Pengecualian untuk kasus Kevin ini tidak ada bumbu keambyaran. Ia keluar baik-baik dan nantinya kembali gabung ke Backstreet Boys di tahun 2012. Dinamika kehidupan yang membuktikan gagal merobohkan Backstreet Boys. Dari sini kita belajar bahwa arti teman lebih dari sekadar materi dan semua orang pernah ambyar pada waktunya. Tinggal bagaimana kita dapat bangun dan bangkit.

Kelima. Untuk alasan yang sangat personal, Backstreet Boys menjadi alat bantu bagi remaja era 80-90an dalam belajar bahasa Inggris. Lagu-lagu boyband yang bahasa Inggrisnya tidak teramat rumit serta lirik yang tidak panjang-panjang banget menolong pelajar muda dalam penguasaan vocabulary, termasuk saya.

Ucapan terima kasih saya sematkan sebab di masa itu pelajaran bahasa Inggris di sekolah menjadi mimpi buruk bagi saya dan teman-teman saya yang tinggal di desa. Akses buku minim, internet belum merambah kampung, dan jangan bermimpi punya uang untuk ikut les bahasa di bimbel. Kehadiran lima pria Florida ini membantu menumbuhkan minat kami untuk belajar bahasa Inggris. Sesuatu yang saya sadari ketika dewasa bahwa kunci keberhasilan belajar adalah adanya minat.

Sampai sekarang saya masih rutin mendengarkan lagu-lagu mereka di hape. Koleksi majalah, poster, dan kasetnya pun masih tersimpan rapi di rumah. Zaman boleh berganti tapi referensi musik tetap abadi.

Kalian nggak setuju sama pendapat saya? Tell me why~

BACA JUGA Apa Betul PSSI Mau Bikin Boyband? dan tulisan Christianto Dedy Setyawan lainnya.

Baca Juga:  Pemerintah Kita pada Dasarnya Irasional, Kita Aja yang Bodoh, Capek-capek Menuntut Mereka agar Rasional
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.