Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Bacaan Kok Cuma Fiksi, Pasti Kerjaannya Mengkhayal Mulu!

Erwin Setia oleh Erwin Setia
2 Juli 2019
A A
fiksi

fiksi

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak sekali-dua saya mendengar ada orang bicara begitu. Kata-kata yang seolah memastikan bahwa buku fiksi itu rendah derajatnya dan yang membacanya sudah pasti para pengkhayal kelas berat.

Orang yang bilang “Bacaan kok cuma buku fiksi, pasti kerjaannya mengkhayal mulu!” dengan maksud meremehkan para pembacanya, pastilah belum tahu banyak soal manfaat buku genre ini. Kalau sudah tahu, dia pasti bakal cepat-cepat menceburkan diri ke Samudra Hindia atau mengubur diri di pemakaman terdekat.

Saya kasih tau nih, ya. Membaca buku fiksi itu sangat banyak manfaatnya. Selain manfaat-manfaat mainstream semisal memperkaya sudut pandang, menambah wawasan, dan meningkatkan daya ingat; buku genre ini punya segudang manfaat lainnya. Nanti saya jelasin sebagian isi gudangnya, deh.

Adapun kalau ada yang berpikir membaca buku fiksi itu nirfaedah, barangkali dia saja yang salah. Mungkin dia baca buku-buku fisik berkualitas busuk yang banyak cacat logikanya dan ditulis secara buruk. Sedangkan kalau dia baca buku-buku fiksi bagus, ya katakanlah karya-karya sastra serius semacam novel-novel Ernest Hemingway dan Gabriel Garcia Marquez, sudah pasti dia bakal dapat banyak faedah. Bahkan membaca novel itu sendiri sudah merupakan faedah.

Saya suka kesel gimana gitu ya sama orang-orang yang meremehkan kedudukan buku fiksi. Saya bisa maklum kalau buku fiksi yang dia jelek-jelekkan emang buku ini yang betulan jelek semisal karya-karya Fiersa Besari sebagian penulis wattpad atau buku fiksi yang jatuhnya malah jadi kayak buku religi karena kebanyakan ceramahnya.

Masalahnya, seringkali orang yang meremehkan buku fiksi adalah orang yang bahkan jarang membaca buku ini. Lantas, sudahlah jarang baca buku fiksi, eh dia malah bersikap seolah orang paling tahu mengenainya. Dia larang orang baca buku ini. Dia bilang baca buku ini tidak ada gunanya. Dan lain sebagainya.

Padahal kalau tidak tahu apa-apa mah diam aja ya.

Orang-orang yang bilang buku fiksi itu tidak ada gunanya saya yakin mereka pasti belum baca The Old Man and The Sea-nya Ernest Hemingway dan Bakat Menggonggong-nya Dea Anugrah. Atau mungkin sudah baca, tapi tidak ngerti sama isinya. Ya, kalau begitu sih, berarti mereka yang salah.

Baca Juga:

Kegemaran Membaca Warga Jawa Tengah Juara Dua Se-Indonesia, Warga Demak Jelas (Bukan) Salah Satunya

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

Soal kelebihan karya fiksi, Claudia Hummond pernah menulis hal yang menarik seputar itu dalam artikel “Apakah Membaca Buku Fiksi Bisa Membuat Kita Menjadi Manusia yang Lebih Baik?” yang tayang di BBC. Ia menyebut faktor apa saja yang menyebabkan genre ini dapat lebih mengasah rasa empati pembacanya ketimbang bacaan lain.

“Fiksi punya tiga kelebihan,” tulisnya. “Pertama, kita memiliki akses terhadap alam bawah sadar dan pikiran karakter-karakter yang kita baca, tidak demikian halnya dengan karya jurnalistik. Kedua, kita cenderung akan menahan rasa ragu tanpa mempertanyakan ketulusan apa yang karakter-karakter itu katakan. Terakhir, novel memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan dalam kehidupan kita sendiri, yaitu untuk mengamati kehidupan karakter-karakternya selama bertahun-tahun.”

Itu baru sebagian manfaatnya saja. Masih banyak manfaat-manfaat lainnya. Semisal untuk memperparah mengobati patah hati dan memperluas cakrawala berpikir.

Saya kasih tau juga nih, ya. Membaca genre ini adalah kebiasaan orang-orang hebat. Salah satunya Pak Prabowo Subianto. Orang paling hebat sejagat raya menurut para pendukungnya ini pernah tenar karena menyatakan Indonesia akan bubar pada 2030. Usut punya usut, keterangan soal bubarnya Indonesia itu beliau peroleh dari hasil bacaannya terhadap sebuah novel berjudul Ghost Fleet karya P. W. Singer dan August Cole.

Nah, itu kan membuktikan Pak Prabowo suka membaca buku fiksi.

Tapi, bukan maksud saya untuk menjadikan para pembaca sekalian Prabowo-Prabowo baru. Bukan, bukan begitu. Satu Prabowo saja sudah lebih dari cukup untuk dunia yang fana ini. Poin yang ingin saya tekankan adalah buku fiksi bukan bacaan sembarangan atau bacaan kelas murah sebagaimana yang sebagian orang duga.

Buku-buku fiksi yang bagus bukan hanya bisa bikin kepalamu penuh dengan gagasan-gagasan segar dan mencerahkan, tapi juga mengasah kepekaan hatimu.

Kalau tidak percaya, coba deh, mulai sekarang, kamu baca buku-buku Tere Liye dan Boy Candra. Eh, bukan, maksud saya, mulai deh baca buku-buku sastrawan semacam Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan.

Dengan membaca buku fiksi mungkin kamu belum tentu masuk surga, tapi, kalau kamu bertanya apa salah satu wujud “surga dunia” kepada saya, maka saya jawab, salah satunya adalah: ketika membaca buku-buku fiksi (yang bagus). Selamat membaca!

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: FiksiMembacaminat baca
Erwin Setia

Erwin Setia

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

ArtikelTerkait

Jokowi Perlu Pamerkan Daftar Bacaan Favorit seperti Barack Obama terminal mojok.co

Jokowi Perlu Pamerkan Daftar Bacaan Favorit seperti Barack Obama

31 Desember 2020
5 Film Distopia Terkait Prediksi Dunia di Masa Depan yang Harus Banget Ditonton Terminal Mojok

5 Film Distopia Terkait Prediksi Dunia di Masa Depan yang Harus Banget Ditonton

6 Agustus 2022
3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

3 Hal yang Bikin Saya Merasa Ngenes Saat Ikut Program Kampus Mengajar

10 Maret 2024
Bukan Minat Baca Kita yang Rendah, tapi Memang Dididik untuk Tidak Membaca

Bukan Minat Baca Kita yang Rendah, tapi Memang Dididik untuk Tidak Membaca

2 Mei 2023
senja hari minggu

Senja Kelabu di Hari Minggu

23 Juni 2019
Unsur Sadis di Balik Dongeng Eropa yang Diadaptasi oleh Disney terminal mojok.co

Pada Dasarnya Semua Orang Itu Suka Membaca

25 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Wikimedia Commons)

4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Kecewa dan Nggak Nafsu Makan

11 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.