Meskipun saya pendukung Juventus, tetapi poster klub sepak bola yang pertama kali saya koleksi adalah Arsenal. Sebuah poster yang berisi seluruh pemain mulai dari Nigel Winterburn, Lee Dixon, Marc Overmars, hingga Ian Wright.
Poster tersebut saya peroleh dari sebuah tabloid yang cukup terkenal di Indonesia, yaitu Bola. Kemudian, poster tersebut saya pajang di tembok kamar. Dan yang saya lakukan setelahnya adalah menghafal nama seluruh pemain Arsenal periode 1997/1998.
Sebuah periode emas yang kemudian tiga pemain Arsenal sempat bermain di Juventus. Almarhum Alex Manninger, Patrick Vieira, dan Nicolas Anelka. Periode yang kemudian saya mengenal salah satu gelandang bertahan ikonik dengan rambut gondrong bernama Emmanuel Petit.
Arsenal dan Mengapa Saya (Kadang) Mendukungnya
Setelah Arsenal meraih titah Invincible, saya sedikit menjauh dari ingar bingarnya. Apalagi, setelah tahu maskot kesayangan Arsenal berpindah ke Barcelona. Dah. Goodbye aja, sepertinya.
Akan tetapi, pemain pertama yang langsung saya beli, dan itu secara GRATIS, saat bermain Championship Manager 2008 adalah Marc Overmars. Entah kenapa, mau pakai klub apa pun, jasa Marc Overmars mudah diperoleh. Mungkin karena faktor usia yang menjadi kemudahan.
Yah, jadinya saya berpindah mendukung Arsenal tidak dari layar kaca (televisi) melainkan dari komputer. Dan itu pun hanyalah permainan virtual. Ya, saya ingin mencoba menjadi Arsene Wenger. Begitulah kira-kira.
Sepertinya hubungan saya dan Arsenal hanya sampai di permainan virtual itu, tetapi ternyata tidak. Adik bungsu saya ternyata fans fanatik Arsenal. Saya tidak tahu sejak kapan ia menyukai Arsenal.
Apakah ia menyukai karena Thierry Henry? Atau Stadion Highbury yang batas antara penonton dan lapangan hijau hanya sepelemparan kacang? Atau saat Mesut Ozil sudah berseragam The Gunners? Entahlah.
Akhirnya di rumah, saya kembali berkutat dengan Arsenal karena adik bungsu saya.
BACA JUGA: Leandro Trossard, Kepingan Final yang Dicari Arsenal
Hoki Penerbit Fandom Indonesia Ada di Arsenal
Kehadiran situs seperti YouTube dan Livescore membuat segala pertandingan sepak bola mudah dipantau. Bahkan, sesekali ikut bertaruh. Siapa yang menang atau kalah. Siapa yang paling banyak melakukan sepak pojok.
Begitulah saya menikmati sepak bola semasa kuliah di Malang. Masa yang kemudian sepak bola hanya dikuasai oleh dua manusia dan satu liga: Messi, Ronaldo, dan Spanyol. Selebihnya hanya catatan kaki.
Usai kuliah di Malang, seorang teman, yang penggemar Manchester United tetapi enggan mengakuinya, mengajak saya untuk mengurus penerbitan buku. Cukup prestisius karena temanya sepak bola.
Saya, sih, antusias. Tetapi apakah ada penggemar sepak bola yang saat itu, menurut saya, lebih suka menonton visual daripada membaca barisan kata? Kalaupun ada hasil analisis di koran atau majalah, saya yakin tidak banyak yang membacanya.
Bahkan, konon, jika ada peringkat tema bacaan apa yang paling rendah di Indonesia, sepak bola bisa jadi menempati peringkat terakhir. Namun, karena sama-sama antusias, kami bergerak bersama selama kurang lebih empat tahun di Penerbit Fandom Indonesia
Dan yang patut kalian tahu, hoki kami saat mencetak buku sepak bola adalah buku Arsenal Berhati Nyaman karya Yamadipati Seno. Seorang penggemar mie ayam yang memiliki akun X bernama arsenalskitchen.
Saat itu, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, buku tersebut bisa dicetak tiga kali. Untuk ukuran penerbit yang kantornya saat itu masih menumpang, sudah sangat luar biasa!
Yang lebih bikin takjub adalah saat kami menggelar bedah buku. Tidak tanggung-tanggung, salah satu penonton yang datang adalah salah satu tim media dari Arsenal!
Saya bingung karena tidak lancar bahasa Inggris. Sedangkan Seno, si penulis itu, menangis karena terharu. Barangkali dia berpikir, “kok ya masih ada yang mendukung Arsenal?”
Sayangnya, saat mau cetak yang keempat kalinya, dan sudah siap berganti kaver buku baru, penerbit kami tutup. Sudah cukup rasanya mengedukasi pembaca buku sepak bola di Indonesia.
Juara Lagi Setelah Kami Berkepala Tiga
Pagi ini, menjelang salat subuh, saya mengecek situs Livescore. Mata saya terbelalak karena mengetahui Bournemouth mampu mengimbangi Manchester City. Artinya, City gagal memangkas poin dan Arsenal menjadi juara.
Lantas, saya mengirim dua pesan kepada dua sahabat saya selalu fans Arsenal. Selamat Menangis!
Mereka agak membalas lama. Si Seno hanya membalas ~wqwqwqwq~. Sedangkan si Wimmy, salah seorang dosen senior di FISIP UB, hanya mengirimkan stiker berupa wajah orang ditutup perban.
Kebetulan saya dan kedua sahabat saya, kini, sama-sama berusia kepala tiga. Dan terakhir saat Arsenal menjadi juara Premier League, kami masih berusia belasan.
Aah, menunggu lebih dari dua puluh tahun rasanya tidak mudah, ya. Namun, lebih tidak mudah lagi menunggu kapan timnas senior Indonesia juara Piala AFF.
Penulis: Moddie Alvianto
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Odegaard Bukan Pemimpin Arsenal yang Baik
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













