Arsenal dan Cerita Transfer: Antara Kekesalan dan Usaha Membeli Diri Sendiri

Artikel

Avatar

Konon, kelancaran Arsenal di bursa transfer ditentukan oleh status mereka di panggung Eropa. Gagal juara FA Cup, artinya duit belanja cuma sedikit. Namun, alhamdulillah, The Gunners bisa menjadi juara setelah menang atas Chelsea. Lantas, apakah duit belanja di musim panas ini akan lebih banyak?

Jujur saja, saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Musim lalu saja, ketika diberitakan hanya punya 30 juta paun, Arsenal bisa mendatangkan Nicolas Pepe dengan harga 75 juta paun. Memang, Pepe dibeli dengan cara dicicil. Singkat kata, soal keuangan klub untuk saat ini lebih susah ditebak ketimbang beberapa tahun ke belakang.

Oleh sebab itu, ketimbang membicarakan ranah yang kita semua tidak bisa meraba dengan pasti, lebih baik fokus ke ranah lainnya. Yang ingin saya tegaskan adalah masalah penjualan pemain dan kebutuhan skuat saat ini.

Arsenal dan kekesalan di sekitar Guendouzi

Setiap kali menulis soal berita transfer, saya selalu menegaskan kalau pekerjaan yang justru paling sulit adalah menjual. Ketika performa pemain sedang buruk atau tidak ada peminat, harga akan jatuh. Bahkan tidak hanya itu saja variabel untuk menentukan harga pemain. Sifat dan sikap pemain juga bisa berpengaruh. Dan untuk soal ini, Arsenal boleh merasa kesal.

Bagaimana tidak kesal, ketika skuat baru saja selesai melakoni final FA Cup, Matteo Guendouzi sudah berlibur duluan. Mungkin saja, pemain asal Prancis itu mendapatkan izin dari klub untuk pergi. Seperti izin yang diberikan Arsenal kepada Mesut Ozil. Sebuah sikap yang bermakna bahwa 2 pemain ini memang akan dilepas.

Sikap Guendouzi, nampaknya sudah sangat sulit untuk diampuni. Tidak terlihat usaha untuk memperbaiki diri. Bagi Mikel Arteta, sikap seperti ini artinya pintu keluar dari Arsenal. Nah, menyikapi sikap si pemain, manajemen Arsenal perlu berhati-hati.

Baca Juga:  Membedah Konsep Sawang Sinawang dalam Kehidupan Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir

Jika tantangan dari usaha menjual Ozil adalah soal gaji, manajemen Arsenal perlu menjaga mood klub peminat Guendouzi. Jangan sampai, soal sikap buruk si pemain menjadi narasi utama. Meskipun si pemain memang sangat berbakat, jika tidak ada sikap dewasa dan profesional, tidak akan ada klub besar yang mau memakai jasanya.

Padahal, kita tahu kalau uang hasil penjualan si wonderkid itu akan digunakan untuk membeli pemain baru. Atau, bisa juga, si pemain digunakan dalam sistem pertukaran pemain plus sejumlah uang. Kekesalan yang mengitari sosok Guenzdouzi ini perlu menjadi perhatian serius manajemen Arsenal.

Membeli diri sendiri

Apakah pembaca menonton pertandingan Arsenal vs Chelsea? Melihat cara Arsenal bermain, khususnya 11 pemain utama, seperti tidak terlihat bahwa mereka membutuhkan pemain baru. Kecuali, memang, ketika menengok bangku cadangan. Hampir tidak ada pemain di bangku cadangan yang punya kualitas untuk “mengubah jalannya pertandingan”.

Padahal, keseimbangan skuat juga mencakup keseimbangan 11 pemain utama dan mereka yang duduk di bangku cadangan. Kualitasnya tidak boleh terlalu jomplang.

Namun, fokus saya di sini adalah sebuah fokus yang pasti tidak populer di mata fans. Kalau melihat dari performa di laga final saja, sebetulnya membeli pemain baru tidak harus menjadi proyek utama di musim panas. Proyek utama adalah menanamkan visi, misi, dan identitas Mikel Arteta ke dalam kepala pemain.

Mikel Arteta, yang datang di pertengahan musim, tentu membutuhkan fase pra-musim supaya ide bermainnya bisa diserap lebih efektif. Jika dalam waktu 6 bulan saja sudah terlihat perubahan, seiring waktu, keyakinan akan perbaikan pasti besar. Oleh sebab itu, setelah bergabungnya William Saliba, Arsenal tidak butuh amat membeli pemain.

Baca Juga:  Sampai Kapan Fans Manchester United Harus Bersabar? Sampai Kapan-kapan!

Yang perlu mereka beli adalah “konsistensi” diri sendiri. Dan, bagi saya, harga sebuah konsisten ini lebih mahal ketimbang pesepak bola mana saja.

Duet Granit Xhaka dan Dani Ceballos memang belum sempurna. Namun, keduanya sudah tahu caranya bermain dengan ide Arteta. Di lini depan, Eddie Nketiah belum sampai ke level tertinggi. Namun, karena kemudaannya, kita bisa memaklumi segala kesalahan dan kekurangan di tengah perkembangan.

Kalau masih ingin bermain dengan skema 3 bek, trio Rob Holding, David Luiz, dan Saliba terlihat menjanjikan. Untuk pelapis, masih ada Shkodran Mustafi dan Papa Sokratis.

Untuk lini depan, saya rasa, baru bisa diraba setelah ada kepastian soal masa depan Aubameyang dan Lacazette. Bisa jadi, akan ada satu penyerang sayap baru yang dibeli. Namun, mau dikemanakan Bukayo Saka dan Reiss Nelson? Oleh sebab itu, inilah opini tidak populer itu, ketika Arsenal tidak membeli pemai baru.

Tentu saja, opini tidak populer ini cuma sebatas tulisan di atas layar. Kita semua tahu dan pasti sepakat kalau Arsenal selalu punya cara ajaib untuk menyakiti diri sendiri. Mulai dari masalah inkonsistensi dan cedera. Sekian soal opini tidak populer. Soal nama-nama potensial, kita bahas lain waktu.

BACA JUGA Milan Kalahkan Juventus, tapi Dapat Penalti, Milanisti Kecewa dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.