Aquascape hobi yang menenangkan hati, tapi menggetarkan dompet ~
Di era sekarang, susahnya cari kerja seringkali bikin kita putus asa. Tabungan makin tipislah, panggilan wawancara kerja nggak kunjung datang, aduh stres deh pokoknya. Tapi, alasan buat bangkit pun kadang bisa datang dari mana aja. Ada yang termotivasi dari dorongan orang tua atau bahkan demi masa depan bersama pacar tercinta.
Tapi, buat saya, motivasi utama bukanlah gengsi sosial atau nikah muda. Melainkan hidup ekosistem mini di pojok kamar kos. Motivasi cari kerja saya justru lahir dari sebuah akuarium.
Awal memutuskan membuat Aquascape
Semua bermula dari rasa muak saya terhadap target kerja yang makin sulit. Desember tahun lalu, rasanya kepala saya mau pecah karena itu. Akhirnya, saya memutuskan pulang ke kampung halaman. Seperti biasa, pelarian favorit saya adalah membongkar gudang rumah. Saya suka mengutak-atik barang lawas milik bapak dan ibu demi membuang rasa penat.
Saat itulah saya juga menemukan dua akuarium jadul. Saya teringat dulu Bapak sangat telaten memelihara ikan koi dan koki di akuarium ini. Beliau suka duduk santai sambil merokok dan memberi makan ikan-ikannya. Katanya sih bentuk refreshing setelah pusing bekerja.
Singkat cerita ide pun muncul. Saya membawa salah satu akuarium itu ke Solo dengan niat awal memelihara ikan biasa. Namun, setelah berselancar mencari referensi di internet, niat sederhana itu malah berubah ke dunia aquascape. Konsep menciptakan simulasi alam di dalam kaca membuat saya langsung tertarik. Tanpa basa-basi, saya langsung terjun mencoba.
Hobi yang menyiksa dompet
Begitu mulai belanja, saya baru sadar, hobi ini cukup menguras kantong. Baru beli media tanam dan substrat aja, uang Rp200.000 sudah melayang. Padahal itu baru pondasi dasar, belum termasuk printilan seperti lampu, dekorasi, dan filter air. Buat ukuran anak kos dengan gaji UMR Solo, pengeluaran awal ini jujur membuat dompet kena serangan jantung.
Celakanya lagi, sebagai pemula, saya banyak melakukan kesalahan. Saya salah memilih tanaman dan baru menyadari kalau akuarium lama ternyata terlalu kecil. Akhirnya, saya terpaksa beli aquarium baru yang lebih besar dan mengulang semuanya dari nol.
Jika dihitung, total modal awal tembus sekitar Rp550.000. Saya kaget, ternyata seboncos ini! Angka itu udah kayak harga sewa kos saya selama satu bulan.
Resign dengan gaji terakhir habis untuk merawat aquascape
Masuk awal Februari, saya memutuskan buat resign. Kondisi kantor udah nggak sehat. Awalnya saya kira setelah berhenti kerja saya bisa santai menikmati akuarium sebagai pelipur lara. Nyatanya, aquascape ini malah minta jatah perawatan yang lebih nendang daripada saat pembuatannya.
Banyak tumbuhan mati saat proses adaptasi. Alat ada aja yang rusak. Beli alat lagi buat perawatan seperti pinset, pembersih kaca, dan tetek bengek lainnya. Belum lagi tambahan biaya buat ikan hias agar estetika tetap terjaga. Dampaknya, sisa gaji terakhir yang seharusnya jadi dana darurat malah ludes untuk bayar kos dan modal perawatan akuarium.
Februari kemarin resmi jadi momen paling bokek dalam sejarah hidup saya sebagai perantau. Di minggu terakhir, saya benar-benar tidak pegang uang sepeser pun. Semua gaji udah berubah jadi tanaman hijau dan ekosistem air yang cantik. Saya cuma bisa memandang akuarium dengan bangga, meski perut terpaksa diganjal stok mi instan yang tersisa.
Harus cepat kerja demi hidupi aquascape kesayangan
“Ini demi akuariumku, Buk,” begitu candaan saya tiap kali disuruh istirahat oleh Ibu. Ya, setelah resign, niat awal saya sebenarnya ingin istirahat sebentar. Tapi, sejak ada aquascape di kos, keinginan itu berubah. Saya justru ingin cepat-cepat kerja lagi biar bisa merawat akuarium.
Puncaknya adalah saat minggu lalu lampu akuarium saya rusak. Karena nggak ada uang untuk mengganti, saya diamkan aja selama satu minggu. Hasilnya? Semua tanaman mati. Akhirnya, saya mengambil freelance demi bisa menghidupkan kembali ekosistem kesayangan saya. Di sisi lain, saya nggak mau menggotong aquascape itu ke Salatiga. Selain karena melelahkan, perjalanan jauh dan perbedaan suhu antara Solo dan Salatiga beresiko merusak ekosistem di dalamnya. Maka dari itu, salah satu motivasi saya mencari kerja juga untuk bisa tetap bayar kos demi aquascape saya bisa tetap disitu.
Sekarang, kalau merasa lelah karena susahnya cari kerja, saya tinggal nengok ke pojok kamar kos. Kalau orang lain cari kerja buat cicilan motor, saya cari kerja demi kelangsungan hidup aquascape. Bener sih hobi itu menjaga kewarasan, tapi tetap harus butuh kestabilan finansial. Saya harus segera kembali bekerja, agar ikan-ikan saya tetap kenyang dan tanaman di kamar kos tetap hijau royo-royo.
Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Journaling, Hobi Mahal yang Dianggap Remeh.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
