Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Apriyani dan Pertaruhan Orang Tua yang Kadang Gagal

Dewa Komang Ady Suryadinatha oleh Dewa Komang Ady Suryadinatha
6 Agustus 2021
A A
apriyani olimpiade sistem olahraga indonesia mojok (1)

apriyani olimpiade sistem olahraga indonesia mojok (1)

Share on FacebookShare on Twitter

Percayalah, meski judul tulisan ini bikin Anda mengernyitkan dahi, saya tidak mengejek pihak mana pun. Saya menaruh rasa hormat besar kepada Bapak Amiruddin Pora, Ayahanda Apriyani Rahayu. Tulisan ini justru saya dedikasikan untuk menunjukkan rasa kagum saya kepada Beliau.

Ani, begitu Apriyani dikenal di lingkungannya, dan saya tampaknya punya banyak kesamaan (Iya saya halu, jangan sadarkan saya sebelum tulisan ini selesai). Kami sama-sama menunjukkan minat dengan olahraga sejak usia balita. Kami juga acapkali merengek dan menangis jika tidak diberikan raket oleh orang tua. Meski hidup dengan keterbatasan ekonomi, kami sama sama menekuni olahraga yang disukai dengan sungguh-sungguh saat kami belia. Potensi Ani sudah tampak cemerlang saat mengikuti pelbagai turnamen level junior. Saya pun tak kalah mentereng (ini halu yang terakhir, saya janji), kami sama sama pernah menjadi juara Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat pelajar hingga menjadi kampiun di Pekan Olahraga Daerah (Porda) tingkat kabupaten dan provinsi tempat kami dilahirkan.

Perbedaan antara Ani dan saya praktis adalah Ani dibesarkan di Kabupaten Konawe dan menggeluti bulu tangkis. Sedangkan saya dibesarkan di Kabupaten Buleleng dan menyukai tenis lapangan. Ani adalah perempuan yang elok dan saya adalah laki-laki yang burik. Akan tetapi perbedaan yang esensial untuk dibahas hingga akhirnya menggariskan hidup di antara kami berdua adalah peran Amiruddin, ayah Ani.

Amiruddin tentu sempat mengalami pergulatan batin. Utamanya ketika Beliau memutuskan untuk mengirim Ani berangkat ke Jakarta sepuluh tahun silam. Berbagai torehan prestasi yang diraih Ani kecil menjadi landasan utama keputusan Amiruddin untuk mengirimkan Ani ke Jakarta. Namun, dalam benak Amiruddin, yang saat itu bertugas sebagai pegawai di Unit Pelaksana Tugas Dinas (UPTD) Pertanian di Konawe, memutuskan masa depan anaknya tentu tak sesederhana itu.

Tanpa mengecilkan kegigihan Ani dalam berlatih dan berusaha keras, Amiruddin tentu tahu bahwa peluang Ani untuk menjadi atlet yang berhasil di Indonesia sangat kecil. Jika kita gunakan hitung-hitungan kasar statistik, Ani termasuk dalam 60 juta penduduk yang seumuran (kelahiran tahun 1990-an) pada 2010. Bayangkan bahwa Ani harus melalui seleksi beribu-ribu kali untuk sekadar ikut dalam pelatihan nasional bulu tangkis. Di sinilah Amiruddin, saya katakan bertaruh. Lantas apa ruginya? Bukankah ini pertaruhan yang pasti untung untuk melepas anak yang terlahir dengan potensi ke gelanggang olahraga?

Jika saya boleh mengutip kata-kata DJ yang sedang naik daun, don’t play play, bosque.

Sistem olahraga di Indonesia harus diakui memang tidak ramah. Tidak ada kerangka panjang dengan visi yang dibangun sedemikian rupa sehingga tugas dan kewajiban Amiruddin sebagai ayah, misalnya saja untuk memberi pendidikan yang layak pada Ani, lunas. Marak kasus di mana atlet yang berpotensi, karena saking berpotensinya diminta untuk drop-out dari sekolahnya untuk fokus dalam mengejar prestasi olahraga. Itu baru di satu sisi. Belum lagi jika kita memperhatikan aspek kesejahteraan atlet-atlet yang gagal dalam prosesnya.

Percayalah, itu tidak adil dan mereka layak mendapatkan yang jauh lebih baik dari itu. Potensi olahraga yang tinggi tentu diiringi dengan kecerdasan intelektual yang baik. Memangnya memutuskan pilihan untuk menempatkan cock dengan lob silang atau alih-alih memilih drop shot hanya datang dari pengalaman saat latihan? Jika pun kecerdasan itu tidak setinggi kapabilitas stamina dan kelincahan kaki-kaki mereka, tentu sistemnya yang perlu disesuaikan. Bukan malah mengabaikannya sama sekali atau bahkan meniadakannya.

Baca Juga:

11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya sadar bahwa pemerintah pun tak menutup mata akan permasalahan ini. Tentu masih segar di ingatan pembaca Mojok bahwa para atlet badminton diminta mengikuti seleksi tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk “mengamankan” kesejahteraan mereka di masa tua nanti. Tak salah. Namun, tetap saja tak menyelesaikan permasalahan utama yang kronis di Indonesia, yakni pentingnya pendidikan. Sadarlah bahwa nantinya Ani juga akan menjadi orang tua untuk anak-anaknya. Meski besar kemungkinan Ani akan membesarkan anak yang kelak menjadi pebulutangkis juga, tetap saja akan menjadi berat bagi Ani untuk mewajibkan anaknya berkuliah sementara pilihan itu tidak diterima Ani di masa saat ini.

Menjadi atlet di Indonesia bukan perkara gampang. Perlu kemauan dan usaha ekstra yang pantang putus. Apalagi di olahraga yang memiliki bejibun peminat seperti bulu tangkis. Yang diraih Apriyani tentu adalah hasil kerja keras sekian tahun dengan pengorbanan yang tak sedikit. Kita semua bangga dengan pencapaian yang telah diraih Apriyani. Saya menangis ketika Apriyani berhasil meraih medali emas Olimpiade. Seraya berharap di masa depan pertaruhan yang diambil Amiruddin saat itu tidak lagi perlu dilakukan dan menjadi keputusan yang dengan mudah diambil dengan hati lapang.

BACA JUGA Olimpiade Konyol, Kartun Tema Olahraga Paling Menghibur yang Pernah Ada 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2021 oleh

Tags: amiruddinapriyaniHiburan TerminalIndonesiaOlimpiadesistem olahraga
Dewa Komang Ady Suryadinatha

Dewa Komang Ady Suryadinatha

ASN di Badan Pusat Statistik.

ArtikelTerkait

3 Rekomendasi Film Korea Bergenre Biografi yang Bisa Jadi Inspirasimu terminal mojok

3 Rekomendasi Film Korea Bergenre Biografi yang Bisa Jadi Inspirasimu

25 Juli 2021
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
Honda Jazz Facelift Diluncurkan, Bakal Masuk Indonesia Nggak ya Terminal mojok

Honda Jazz Facelift Diluncurkan, Bakal Masuk Indonesia Nggak ya?

4 Februari 2023
Sisi Gelap Eropa Menghapus Perasaan Inferior terhadap Bule, Ternyata Mereka Nggak Sesempurna Itu Mojok.co

Sisi Gelap Eropa Menghapus Perasaan Inferior terhadap Bule, Ternyata Mereka Nggak Sesempurna Itu

5 Februari 2024
Diterpa Bencana dan Konflik Bertubi-tubi, Indonesia Tetap Berdiri Tegak Menantang, kok Bisa?

Diterpa Bencana dan Konflik Bertubi-tubi, Indonesia Tetap Berdiri Tegak Menantang, kok Bisa?

10 Juli 2023
Kenapa Turis Indonesia Lebih Sibuk Berbelanja dan Berfoto Ria daripada Turis Eropa Terminal Mojok

Kenapa Turis Indonesia Lebih Sibuk Berbelanja dan Berfoto Ria daripada Turis Eropa?

2 Desember 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

8 Juni 2026
5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026
Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan Mojok.co

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan

5 Juni 2026
Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.