Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Anehnya Orang-Orang di Grup WhatsApp yang Nggak Mau Nampilin Nama Aslinya Sendiri

Utamy Ningsih oleh Utamy Ningsih
5 April 2020
A A
Anehnya Orang-Orang di Grup WhatsApp yang Nggak Mau Nampilin Nama Aslinya Sendiri terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Sepenting apa, tidak menampilkan nama asli di Grup WhatsApp?

Pada 1 april 2020, kemarin, saya sempat membaca salah satu tulisan karya Kak Reni Soengkunie yang berjudul, Akun Medsos Pribadi Diganti Pakai Nama dan Foto Anak Itu Buat Apa, sih? Tulisan yang bagi saya judulnya saja sudah sangat menarik ini, kemudian memantik saya untuk ikutan menulis satu hal yang beberapa hari belakangan ini cukup mengganggu pikiran saya.

Jika Kak Reni mempertanyakan alasan orang-orang yang memakai nama dan foto anak sebagai identitas di medsos, maka saya, melalui tulisan ini, mempertanyakan: Apa sih alasan orang-orang yang memakai nama “aneh” sebagai identitasnya di media sosial, khususnya WhatsApp?

Dari pengalaman saya bergabung dengan beberapa grup WhatsApp, di setiap grup tersebut selalu saja ada anggota grup yang identitasnya ditampilkan dengan cara yang “aneh” alih-alih unik. Nama yang ditampilkan tidak sesuai dengan nama aslinya, foto yang ditampilkan pun tidak membuat kita yang membuka profilnya, bisa langsung tahu hey… hey… siapa dia?

Seperti misalnya hal yang baru-baru ini saya jumpai di grup WhatsApp alumni sekolah. Ada seorang teman yang baru bergabung, saya dan beberapa teman tidak tahu siapa dia. Ya gimana mau tahu, orang nama tampilannya cuma pakai emoticon hantu. Setelah lihat fotonya pun tetap nggak tahu siapa dia. Fotonya itu cuma gambar tangkapan layar dari cuitan Fiersa Besari yang bunyinya, dalam hidup yang penuh dengan ketidakpastian, setidaknya kamu pastikan status kita apa. Heh, apaan sih?

Ini bukan bermaksud untuk menganggap bahwa cuitannya Fiersa Besari itu aneh yah, jangan disalah pahami. Saya cuma heran sama teman saya itu, apa coba hubungannya antara emoticon hantu dengan cuitan kegalauan? Oh, positive thinking, mungkin maksudnya dia sedang dihantui rasa galau (?). Hmmm….

Oleh salah satu teman saya yang memang sangat tinggi bakat kejahilannya, teman yang baru bergabung itu kemudian disapa: Hai setan, selamat bergabung. Kamu penghuni kelas berapa dulu? Segera saja grup langsung jadi ramai dengan berbagai macam emoticon dan stiker tertawa. Sementara teman saya yang baru bergabung kemudian memilih left grup. Huh, padahal saya masih penasaran kenapa dia “seaneh” itu. Ada masalah apa sih kamu teman, coba sini cerita dulu, wqwqwq.

Pernah juga, masih di grup WhatsApp alumni sekolah, ada yang ngebucin dong, nama tampilannya digabung antara nama dia dan nama pacarnya. Dina-nya Bayu. Sedaaap. Eh, tapi itu contoh aja sih, nama teman saya bukan itu. Memang apa salahnya kalau menggabung nama sendiri dan nama pacar. Ya, nggak salah memang, cuma yang jadi masalah adalah, teman saya itu cowok. Jadinya kan gimana gitu yah. Ini sih WhatsApp rasa Facebook nih.

Baca Juga:

4 Siasat Bertahan di Grup WhatsApp Keluarga Besar 

Syarat Pendaftaran Magang Mahasiswa: Disuruh Repost Ini Itu Bikin Repot. Mending Mundur!

Kali lain, sekitar seminggu yang lalu, ada juga seseorang yang terbilang “aneh” baru bergabung dengan grup WhatsApp komunitas tempat saya bergabung. Nama tampilannya hanya berupa tanda tilde dan emoticon wajah dengan ekspresi alis terangkat satu. Di grup dia mengucapkan: lupa perkenalan ni. Selamat malam semuanya, salam kenal.

Monmaap nih sobat online-ku. Kamu sudah nggak menampilkan nama, pas kenalan pun nggak menyebutkan nama. Kamu mau dipanggil apa coba? Tilde? Atau alis? Atau tilde beralis? Atau apaan, nih? Jadi gemas saya. Heran, deh.

Ada lagi, beberapa orang yang nggak pakai emoticon, tapi pakai nama samaran yang berlawanan dengan jenis kelamin mereka. Cowok tapi pakai nama Maudy. Ketika disapa dengan Mbak, eh…dia protes, saya cowok. Lah, itu pasang nama Maudy maksudnya apa? Mau ditabok, dikepret, atau gimana?

Oh, itu karena saya ngefans sama Maudy Ayunda, Mbak.

Heh? Huft. Kuatkan saya Tuhan.

Saya itu benar-benar tidak habis pikir dengan mereka-mereka itu. Apa sih yang mereka pikirkan ketika memutuskan untuk melakukan hal seperti itu? Apa coba pertimbangannya? Mau tampil beda? Jatuhnya malah nggak jelas. Apa jangan-jangan memang sudah lupa sama diri sendiri? Oh, atau mau sok misterius? Ya kalau sok misterius mending sekalian komunikasinya pakai bendera semaphore atau nggak sandi morse. Mamam tuh misterius.

Saya paham, yang namanya media sosial itu sudah masuk ranah pribadi masing-masing orang, terserah dia mau membuat media sosialnya seperti apa. Namun, yang harus diingat, ketika apa yang dilakukan sudah bersinggungan dengan orang lain, ya harus siap dengan risikonya.

Memasang emoticon hantu sebagai nama tampilan, ya jangan kaget ketika disapa dengan kata setan. Orang-orang kan suka begitu tuh, hantu tapi disebutnya setan. Lagian, sudah dikasih nikmat sebagai manusia, kok mau ganti identitas sebagai hantu?

Identitas di media sosial itu kan informasi yang mewakilkan seperti apa kita ingin dikenali. Nama seperti apa yang ditampilkan, ya seperti itu juga kita harus siap disapa atau dikenali.

Memasang nama perempuan tapi maunya orang-orang yang belum kenal, bisa langsung tahu kalau itu akun cowok, logikanya gimana deh itu? Pakai nama Maudy, tapi protes ketika disapa dengan sebutan Mbak, hadeh.

Sekali lagi, media sosial itu memang hak setiap orang, maunya ditampilkan kayak gimana. Saya tentu nggak bisa ngelarang siapa pun mau memakai nama atau foto apa pun itu di media sosialnya. Tapi yah gitu, jangan protes ketika orang nggak bisa kenal sama kamu atau menyapa kamu dengan apa yang ditampilkan. Saya sendiri juga bukan kuis Facebook yang bisa menebak kepribadian seseorang hanya dengan bermodal nama yang ditampilkan.

Itulah mengapa, di grup WhatsApp saya paling malas menyapa orang-orang yang nama tampilannya adalah hal “aneh”. Sudah nggak mau langsung memperkenalkan nama asli, masih protes pula kalau disapa pakai nama yang dia tampilkan. Kan aneh yah? Ketika dijapri pun, saya nggak akan membalas. Mau dibilang sombong juga masa bodo, deh.

BACA JUGA Alasan Terselubung Seseorang Bikin Akun Alter di Media Sosial atau tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2021 oleh

Tags: grup whatsappnama akun
Utamy Ningsih

Utamy Ningsih

Suka Membaca, Belajar Menulis.

ArtikelTerkait

Jika Karl Marx Hidup Lagi, Ia Akan Bilang kalau Jadi Silent Reader Itu Candu

Jika Karl Marx Hidup Lagi, Ia Akan Bilang kalau Jadi Silent Reader Itu Candu

22 Maret 2020
4 Siasat Bertahan di Grup WhatsApp Keluarga Besar  Mojok.co

4 Siasat Bertahan di Grup WhatsApp Keluarga Besar 

6 November 2024
Syarat Pendaftaran Magang Mahasiswa: Disuruh Repost Ini Itu Bikin Repot. Mending Mundur!

Syarat Pendaftaran Magang Mahasiswa: Disuruh Repost Ini Itu Bikin Repot. Mending Mundur!

13 Januari 2024
Grup WhatsApp Keluarga Besar Adalah Kawah Candradimuka Sebelum Berdebat di Sosial  Media

Dilema Privasi Saat Ingin Keluar dari Grup WhatsApp

7 November 2020
grup whatsApp

Alasan Kenapa Gabung Grup WhatsApp itu Penting

15 Maret 2020
Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

14 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

11 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.