Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Anak-anak Main Bola di Jalan, Salah Siapa?

Ramdan Rusnandar oleh Ramdan Rusnandar
8 Mei 2023
A A
Anak-anak Main Bola di Jalan, Salah Siapa?

Anak-anak Main Bola di Jalan, Salah Siapa? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Permainan sepak bola di jalan, gang sempit, dan ruang kosong sering kita temui di kota dan pinggiran kota. Anak-anak seumuran itu memang sedang lucu-lucunya, bahkan sering kali menjengkelkan bagi sebagian pihak yang merasa terganggu dengan suara teriakan, canda tawa, bahkan pertengkaran antara bocah yang sedang main bola di jalan.

Fenomena seperti itu tidak bisa dihindari saat kita tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan tidak memiliki ruang bermain yang mencukupi. Anak-anak yang sedang berkembang pasti mencari celah agar mereka bisa tetap bermain dan menyalurkan hasrat eksplorasinya.

Bagi anak-anak di bawah 12 tahun, bermain bola sudah seperti kebutuhan pokok, sampai-sampai lupa makan dan harus dicari ibunya supaya makan dulu. Kalau sudah jengkel, sang Ibu biasanya memarahi anaknya dan bisa jadi banyak momen lucu ketika Ibu membujuk anak agar mau pulang dari tempat mainnya.

Mungkin banyak dari kita yang pernah menyaksikan bagaimana effort sang Ibu demi membawa pulang si buah hati. Berlari-lari seolah ikut bermain dengan anaknya menjadi pemandangan yang kadang bikin kita senyum-senyum mengingat kelakuan semasa kecil dulu.

Saat anak sedang asyik bermain dengan kawannya, mereka seperti menemukan dunianya sendiri. Tidak bisa dilarang, dibujuk, atau diiming-imingi hadiah agar mau pulang apalagi hanya dilarang dengan No No No, itu hanya efektif untuk melarang anak makan es krim (lagi).

Main bola di jalan itu berisiko

Lalu, kembali lagi ke permasalahan anak-anak bermain bola di jalan. Orang yang sudah beranjak dewasa dan menuju tua seperti saya pasti punya kekhawatiran saat menyaksikan bocah di lingkungan kita main bola di jalan tiap hari. Keselamatan mereka  menjadi poin utama yang harus dikhawatirkan, dan banyak hal lainnya yang perlu diperhatikan.

Mengenai keselamatan, bermain di jalan sangat berisiko karena berbarengan dengan lalu-lalangnya kendaraan. Bocah-bocah ini rentan tertabrak motor, karena masih banyak juga pengendara yang ugal-ugalan biar pun di gang sempit. Terus, banyak pengendara yang masuk ke gang untuk menghindari kemacetan di jalan utama membuat Gang tak ramah dijadikan tempat main bola.

Kota layak anak (?)

Di Indonesia banyak sekali Kota/Kabupaten yang predikatnya Kota/Kabupaten Layak Anak yang sudah pasti ditulis di website daerah bersangkutan. Nah, yang jadi pertanyaannya apakah fenomena anak bermain bola di jalan tak ada kaitannya dengan Kota Layak Anak?

Baca Juga:

Benang Layangan Jadi Ancaman bagi Pengendara Itu Bukan Salah Bocil, tapi Bukti Nyata Negara Gagal Menyediakan Ruang Terbuka

Ini yang akan Terjadi Seandainya Jalan di Lamongan Mulus Semua

Menurut saya sih ada kaitannya. Harusnya bocah-bocah disediakan tempat bermain yang layak oleh pemerintah. Di tempat main itu harus terjamin keselamatan dan hak-hak anak untuk berkembang. Sayangnya saya hanya tukang jus, kapasitas saya belum cukup untuk berbicara lebih banyak tentang masalah ini.

Ngomong ke Pak RW aja belum berani, karena di lingkungan sendiri juga masih banyak yang bilang “Anak main bola di Jalan mah biarin aja, jangan dimarahin, kita juga kan pernah jadi anak-anak,” katanya.

Tapi ini serius. Kalau untuk sekadar bermain bola saja harus di jalan saking nggak ada tempat, perlu juga dipertanyakan tentang banyak hal. Misal, keberpihakan pembangunan. Apakah ruang-ruang kosong yang ada hanya akan dibangun rumah, tanpa memandang kebutuhan sosial manusia?

Pasrah

Saya hanya bisa mengingatkan kepada anak-anak yang bermain bola di jalan agar selalu berhati-hati. Saya tidak berani memarahi anak orang untuk alasan mereka mengganggu karena berisik dan kadang mengganggu orang lain yang sedang istirahat. Urusan anak tetap harus jadi kewajiban orang tuanya, orang tua yang harus aktif mengedukasi si anak.

Adanya fenomena bocah bermain bola di jalan jika dipikirkan memang susah cari solusi. Orang tua, lingkungan, pemerintah dari RT/RW sampai tingkat tertinggi perlu ambil peran untuk menyelamatkan mereka (anak-anak) dari ancaman yang berbahaya. Pemerintah juga jangan hanya bangga dengan predikat Kota Layak Anak, evaluasi lagi dong benar-benar Layak Anak atau tidak nih infrastruktur yang disediakan.

Sebab, kalau perkara main bola saja masih di jalan, lalu yang layak anak itu bagian mananya?

Penulis: Ramdan Rusnandar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sepak Bola Indonesia Sebaiknya Memang Dibekukan Saja!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2023 oleh

Tags: jalankota layak anakmain bolaRuang Publik
Ramdan Rusnandar

Ramdan Rusnandar

Orang biasa dari Ciamis yang menaruh perhatian pada isu sosial dan lainnya. Mencurahkan pikiran dan keresahannya melalui tulisan yang ringan maupun serius.

ArtikelTerkait

Menyiram Jalanan dengan Air Comberan Adalah Budaya Bodoh yang Mesti Cepat-cepat Ditinggalkan

Menyiram Jalanan dengan Air Comberan Adalah Budaya Bodoh yang Mesti Cepat-cepat Ditinggalkan

14 Oktober 2024
Jalan Dr Ir H Soekarno (Jalan MERR), Jalan Terpanjang di Surabaya yang Cocok untuk Merayakan Kesedihan

Jalan Dr Ir H Soekarno (Jalan MERR), Jalan Terpanjang di Surabaya yang Cocok untuk Merayakan Kesedihan

22 Januari 2024
budaya beberes

Mari Memulai Budaya Beberes Setelah Makan!

15 Oktober 2019
Surat Cinta untuk Wali Kota Pak, Pembangunan U-Ditch dan Box Culvert Bikin Jalan di Surabaya Malah Rusak dan Nggak Rata Terminal Mojok

Surat Cinta untuk Wali Kota: Pak, Pembangunan U-Ditch dan Box Culvert Bikin Jalan di Surabaya Malah Rusak dan Nggak Rata

2 November 2022
Bermesraan di Ruang Publik

Bermesraan di Ruang Publik: Wajar atau Nggak Tahu Malu?

3 Oktober 2019
Surabaya memang Cocok Jadi Kota Tujuan Belajar, tapi Pikir-piki Dulu kalau Mau Kuliah di Surabaya! biaya hidup di surabaya

Surabaya Butuh Lebih Banyak Ruang Publik Terjangkau, Mall dan Coffee Shop Tak Ramah Kantong!

24 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Tanda Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan Mojok.co

6 Ciri Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan

22 April 2026
Derita Gen Z Bernama Sri- Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu (Unsplash)

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

21 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Alifa Moslem Babypreneur Daycare Jadi Penyelamat Orang Tua yang Harus Kerja dan Jogja yang Minim Ruang Bermain Anak
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.