Alun-alun Purwokerto Jadi Semakin Cantik Setelah Renovasi, tapi Tetap Problematik

Alun-alun Purwokerto Jadi Semakin Cantik Setelah Renovasi, tapi Tetap Problematik

Alun-alun Purwokerto Jadi Semakin Cantik Setelah Renovasi, tapi Tetap Problematik (Unsplash.com)

Kemarin sore, saya diajak kakak untuk menemaninya ke Purwokerto membeli akuarium. Sebenarnya kami nggak ada niatan untuk berbuka puasa di ibu kota Kabupaten Banyumas tersebut. Namun karena beberapa hal, kami memutuskan untuk buka puasa di Alun-alun Purwokerto. Sembari menunggu akuarium bekas itu dikuras, saya diajak penjualnya yang kebetulan menjajakan mie ayam dan bakso di area alun-alun untuk berbuka. Akhirnya, saya dan kakak mengiyakan ajakan tersebut.

Azan pun berkumandang. Saya segera meraih air mineral dan es teh yang telah disajikan. Setelah itu, saya langsung melahap mie ayam yang dihidangkan. Sembari makan, saya menanyakan beberapa hal mengenai Alun-alun Purwokerto yang terlihat semakin cantik dan ramai setelah renovasi. Memang saat waktu berbuka puasa keadaan alun-alun masih terlihat agak lengang, namun menjelang pukul 8 malam, area alun-alun dipenuhi muda-mudi. Apalagi di bulan Ramadan seperti sekarang ini.

Ternyata di balik ingar bingar area lapang di tengah kota ini, masih ada segudang masalah yang harus dibenahi Pemkab Banyumas dalam melakukan penataan kota. Lantas, apa saja masalah yang perlu dibereskan?

Lapak para PKL di Alun-alun Purwokerto

Jika kita berjalan di area timur lapangan, akan ada banyak PKL yang menjajakan makanan. Ya, itu kelihatannya saja. Nyatanya, di balik puluhan pedagang kaki lima yang berjajar di sebelah timur alun-alun, masih banyak PKL lain yang nggak mendapatkan lapak.

Sebenarnya ada ratusan pedagang lain yang ingin membuka lapaknya di area Alun-alun Purwokerto, tapi sayang lahannya terbatas. Pihak pemkab hanya mengizinkan sisi sebelah timur yang dijadikan area lapak PKL, sementara sisi utara atau area depan kantor bupati harus steril.

Lantas, gimana dengan sisi alun-alun yang lain?

Kita mulai bagian barat. Sisi barat alun-alun dialokasikan untuk parkir kendaraan roda dua. Jika sisi barat dipaksa untuk lapak PKL, bukan tak mungkin akan menimbulkan kemacetan di Jalan Masjid. Fyi, Jalan Masjid ini memang sering kali menjadi pusat kemacetan di pagi dan sore hari. Kalau saya perhatikan, salah satu faktornya karena lebar jalan yang pas-pasan untuk ukuran jalan di pusat kota. Sementara di sisi selatan alun-alun dikhususkan untuk para penjaja minuman. Di sana nggak boleh ada tenda PKL yang berdiri.

Banyak PKL yang berharap bisa berjualan di alun-alun

Berdasarkan cerita para pedagang di sana, sebenarnya banyak yang berharap bisa membuka lapak di Alun-alun Purwokerto. Sebab, lokasinya strategis dan menjadi titik pusat keramaian kota.

Setiap ada lapak yang tutup, sudah ada pedagang lain yang siap menggantikan. Pedagang yang menggantikan pun sudah mendaftarkan diri jauh-jauh hari ke paguyuban sehingga bisa langsung berjualan. Antrean PKL yang menunggu jatah untuk bisa berjualan di Alun-alun Purwokerto ini panjang. Mereka nggak bisa dadakan buka lapak di sini.

Area yang luas khusus PKL sangat dibutuhkan

Seharusnya jalan di sisi timur alun-alun bisa digunakan secara maksimal. Fyi, PKL hanya boleh berjualan di bahu sebelah sisi, sementara sisi lainnya digunakan untuk lewat kendaraan roda dua dan empat. Meski demikian, kemacetan sering kali tak bisa dihindari.

Saya jadi kepikiran, ketimbang setengah-setengah, kenapa nggak seluruh bahu jalan digunakan untuk lapak para PKL? Jika seluruh bahu jalan dimaksimalkan, bukan nggak mungkin para pedagang kaki lima yang belum mendapatkan lapak bisa mengais rezeki di pusat Kota Satria ini. Selain itu, langkah ini diharapkan agar pengunjung nggak perlu khawatir dan takut terserempet kendaraan.

Saya sering kali mendapati pengendara yang serampangan dan hendak menyerempet pejalan kaki di area ramai ini. Supaya nggak semakin semrawut, ada baiknya jalan ini ditutup untuk area berjualan PKL.

Akan tetapi ini hanya saran dari warga biasa seperti saya. Keputusan dan kebijakan sepenuhnya berada pada pemangku kepentingan. Saya hanya berharap kebijakan pemerintah setempat mengenai penataan Alun-alun Purwokerto nggak berubah-ubah. Hal ini supaya para PKL nggak dilema dan menjadi korban dari kebijakan yang labil.

Lha, masa setiap ganti pemimpin, penataan alun-alun berubah? Daripada mengurus alun-alun melulu, mending mengurus daerah pinggiran yang infrastruktur jalannya masih jauh dari kata layak, Pak!

Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Alun-alun Purwokerto Adalah Bukti Pembangunan yang Konsisten dan Berkelanjutan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version