Nama besar sebuah kampus sering kali ditopang oleh alumninya. Bukan hanya soal prestasi yang terpampang di baliho, tapi tentang jejak hidup yang mereka tinggalkan. Ketika alumni mampu memberi dampak nyata, bekerja dengan baik dan bermanfaat bagi sekitar, di situlah nama kampus ikut dibawa-bawa.
Universitas Terbuka (UT) juga punya rekam jejak alumni yang membanggakan. Ada yang jadi tokoh publik, birokrat, pendidik, hingga profesional di berbagai bidang. Nama mereka mungkin jarang dikaitkan langsung dengan almamaternya, tapi kalau ditarik ke belakang, benang merahnya ternyata mengarah pada satu nama: UT.
Dan, justru di situ letak menariknya. UT tidak banyak memproduksi euforia. Alumninya tidak banyak pamer, tapi hidupnya pelan-pelan naik level.
Dikenal karena kualitas, bukan jas almamater
Beberapa nama publik figur yang ternyata lulusan UT diantaranya, Angga Yunanda, Rey Mbayang, Joshua Suherman, Tamara Geraldine, Linda Agum Gumelar, Wiranto, dsb. Nama-nama tersebut tentu tidak asing lagi, bukan?
Beberapa dari kita mungkin akan terkejut, bahkan mungkin tidak percaya bahwa nama-nama tersebut adalah lulusan UT. Pasalnya, para alumni ini memang jarang menjadikan almamater sebagai atribut yang harus selalu ditampilkan.
Bukan berarti mereka tidak bangga ya. Justru sebaliknya. Kebanggaan itu tidak melulu harus diumumkan. Para alumni UT ini memilih untuk menunjukkan kebanggaan mereka terhadap almamater lewat kerja dan sikap hidup. Supaya, UT lebih sering dikenal karena kualitasnya, bukan dari jaket almamaternya.
Pelan-pelan naik level
Saya kenal langsung sosok yang juga alumni Universitas Terbuka. Beliau adalah pengawas sekolah di tempat saya bekerja. Sosoknya sederhana, tapi inspiratif. Beliau tidak pernah gembar-gembor soal perjuangan kuliahnya. Padahal saya yakin, jalan yang ditempuh tentu tidaklah mudah.
Beliau bekerja, berkeluarga, dan kuliah dalam waktu yang bersamaan. Keren memang, tapi beliau tidak pernah menjadikan itu sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari yang lain. Justru sebaliknya, sikapnya membumi. Dan, perjuangan dalam sunyi itulah yang kemudian mengantarkannya pada level yang lebih tinggi: Jadi pengawas SMK. Pelan, tapi pasti.
Ketika beliau tahu bahwa saya juga alumni UT, beliau memberikan apresiasi yang hangat. Seolah, beliau bukan sedang berhadapan dengan bawahan, tapi rekan seperjuangan.
UT adalah perjalanan panjang
Dari pertemuan saya dengan pengawas SMK yang ternyata lulusan UT, dan dari banyak alumni UT lain yang saya temui, saya sampai pada satu kesimpulan. Yaitu, UT adalah tempat yang tepat bagi orang-orang yang sedang menyiapkan diri untuk perjalanan panjang. UT tidak pernah menjanjikan kesuksesan secara instan, tapi UT selalu terbuka bagi mereka yang mau bertumbuh.
Dalam bahasa yang lebih keren, UT adalah long game, bukan instant glory. Persis seperti menanam pohon. Tidak bisa langsung berbuah, tapi pasti akarnya kuat. Diterpa badai tak akan goyah, dihantam ombak tak akan runtuh. Semangat juang dan daya tahan mahasiswa UT sudah teruji pokoknya.
Maka tak heran jika banyak alumni Universitas Terbuka yang dari luar terlihat biasa-biasa saja. Semua itu bukan karena mereka kurang pencapaian, ya. Tapi, perjalanan hidup selama di UT-lah yang menempa mereka untuk tidak berisik. Tidak sedikit-sedikit bawa-bawa nama almamater, serta tidak sibuk membuktikan apa-apa. Energi mereka disimpan untuk hal yang lebih penting, yaitu bertumbuh. Hingga akhirnya nanti, pelan tapi pasti, mereka naik level.
Btw, kamu juga kenal salah satu alumni Universitas Terbuka juga nggak? Atau jangan-jangan, lulusan UT sebenarnya ada di dekatmu? Itu, mereka yang datang tepat waktu, bekerja tanpa banyak keluhan, pelan tapi pasti naik level… Coba saja ditanya alumni kampus mana. Jangan-jangan alumni UT!
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA UT Adalah Teman bagi Orang-orang yang Mengejar Mimpi dalam Sunyi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
