Vespa matic kini jadi ikon gaya hidup baru. Desain klasik dan timeless, serta performa mesinnya yang halus jadi daya tarik utama motor ini. Nggak heran kalau Vespa matic jadi pilihan mereka yang ingin kendaraan roda dua premium.
Akan tetapi, di balik kesan premium, Vespa matic sering mendapat kritik tajam dari kalangan para mekanik. Tukang servis motornya membencinya karena kendaraan satu ini benar-benar merepotkan.
Sejarah dan popularitas Vespa matic di Indonesia
Sebelum membahas kendaraan ini lebih jauh, saya ingin sedikit menjelaskan bagaimana Vespa matic ini bisa begitu populer di Indonesia.
Vespa pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan Italia, Piaggio, pada 1946 sebagai solusi transportasi murah pasca-Perang Dunia II. Desainnya yang sederhana, ringan, dan efisien membuatnya cepat populer di Eropa. Evolusi Vespa ke versi matic atau otomatis baru dimulai pada akhir abad ke-20.
Di Indonesia, Vespa mulai dikenal sejak 1960-an melalui impor dan lisensi produksi lokal. Popularitasnya meledak pada 2010-an berkat tren retro dan gaya hidup urban. Popularitas Vespa matic di Tanah Air tak lepas dari citra premiumnya. Bagi kalangan muda dan profesional, memiliki Vespa bukan hanya soal perkara transportasi, tapi juga simbol status.
Selain desain, Vespa Matic menawarkan kenyamanan berkendara yang superior. Suspensi depan single-sided swingarm memberikan stabilitas lebih baik di jalan bergelombang. Sementara mesin injeksi modernnya hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Vespa Matic juga dilengkapi teknologi canggih seperti ABS (Anti-lock Braking System) pada model high-end, konektivitas Bluetooth untuk dashboard digital, dan desain ergonomis yang nyaman untuk perjalanan jauh.
Akan tetapi, semua keunggulan itu harus diganjar dengan harga yang tidak murah. Harga Vespa Matic baru bisa mencapai Rp40-100 jutaan, jauh di atas motor matic Jepang seperti Honda Scoopy atau Yamaha NMAX yang hanya sekitar Rp20-30 juta.
Perawatan repot
Di balik desain dan fiturnya, Vespa matic menyimpan catatan kecil bagi pemilik maupun tukang servis. Tidak sedikit pemilik yang mengeluhkan biaya servis rutin yang mahal, bisa mencapai Rp1-2 juta per kunjungan di dealer resmi. Sementara itu, suku cadang seperti ban Pirelli atau filter oli asli harganya dua kali lipat dari merek lain.
Apalagi di daerah seperti Jawa Tengah, di mana infrastruktur jalan belum sempurna, biaya perbaikan bisa membengkak karena potensi terjadi kerusakan bisa lebih sering. Belum lagi kelangkaan dealer. Di Indonesia, jaringan Piaggio masih terbatas dibanding Honda atau Yamaha, sehingga pemilik di luar kota besar harus bepergian jauh untuk servis. Ini menambah biaya waktu dan transportasi.
Intinya, tidak hanya harga pembelian yang mahal, Vespa matic juga mahal dan repot secara perawatan.
Baca halaman selanjutnya: Vespa matic dibenci …



















