Saya kira sudah tak ada lagi oknum kampret yang mengasihani orang yang pergi ke mana-mana sendirian. Ternyata saya salah, di medsos masih ada saja orang-orang seperti itu. Padahal, menurut saya, pergi kemana-mana sendiri, termasuk nonton bioskop, jauh dari kesan kesepian. Malah ada banyak momen terasa lebih seru dan menyenangkan tanpa bareng teman-teman.
Memang, pengalaman pertama saya nonton film di bioskop sendirian tidak terlalu menyenangkan. Waktu umur 14 tahun, saya perdana nonton sendirian film Maze Runner: The Death Cure (2018). Saat itu, tepat di samping saya adalah sepasang kekasih yang berbuat mesum.
Akan tetapi, cuma itu saja pengalaman kurang menyenangkannya. Sisanya saya ketagihan nonton di bioskop seorang diri sampai sekarang.
#1 Bisa lebih fokus menikmati film bioskop tanpa distraksi
Bagi saya, suasana paling menyenangkan ketika menonton film di bioskop ialah hening. Semua pasang mata hanya berfokus pada layar. Memang, tergantung pada genre dan adegannya juga. Intinya, saya paling tidak suka distraksi selama film diputar.
Gegara itulah saya ogah nonton film di akhir pekan. Selain harga tiketnya mahal betul, isi studio pun sudah pasti lebih ramai.
Tujuan saya datang ke bioskop ya untuk menonton, bukan mengobrol. Nah, tiap kali nonton sama teman, perhatian saya justru terbagi. Apalagi kalau filmnya pilihan saya. Bukannya fokus mengikuti alur cerita, saya malah terus kepikiran apakah teman saya juga menikmati filmnya atau tidak. Pengalaman saya sejak SD sampai sekarang pun menunjukkan hampir tidak ada kegiatan nobar yang benar-benar khidmat.
Saya selalu sebal apabila ada orang berisik ketika nonton film di bioskop. Barangkali, karena sering mengalaminya, saya juga jadi takut pernah mengganggu orang lain tanpa sadar. Dengan begitu, setidaknya saya bisa mengurangi satu distraksi yang sebenarnya masih bisa dikendalikan.
#2 Nggak perlu mengalah dan bebas memilih film bioskop sesuai selera
Film yang benar-benar pengin saya tonton sering kali tidak diminati oleh teman-teman. Saya juga tidak enak kalau mereka sepakat hanya karena sungkan, padahal sebenarnya tidak tertarik. Daripada sama-sama nggak menikmati lantaran beda preferensi, mending nonton film yang memang sudah lama saya tunggu perilisannya.
Memang, ada konsekuensi. Lantaran kerap nonton duluan dan pastinya sendirian, saya beberapa kali berakhir menonton ulang film yang sama ketika ada teman mengajak. Masalahnya, nggak semua film enak ditonton dua kali. Namun, ya sudahlah. Saya pilih mengalah saja. Dah biasa jadi wong kalahan.
Kendati demikian, saya tetap lebih suka kondisi ini. Setidaknya, saya nggak perlu merasa bersalah apabila ternyata pilihan film saya tidak sesuai harapan orang lain. Namanya selera kan subjektif ya. Kalau ternyata filmnya jelek, tinggal buka Letterboxd dan mencari validasi dari makian bintang satu yang senasib sepenanggungan dengan saya.
Kebebasan memilih film ini juga membuat saya lebih leluasa menonton film yang kurang diminati tadi itu. Kalau dompet lagi berisi, saya berusaha rutin menonton film Indonesia setiap bulannya, termasuk yang menurut saya peluang jeleknya cukup besar. Yang penting bukan jualan kontroversi.
Misalnya horor lokal. Yah, berharap apa sih. Kocak-kocak begitu alurnya. Sayang, saya lebih senang nonton horor di bioskop dibanding layanan streaming. Genre ini juga paling sering saya tonton sendirian karena teman-teman saya jarang ada yang berminat.
Salah satu pengalaman yang saya ingat adalah ketika menonton Pemandi Jenazah (2024). Awalnya, saya tertarik karena di X banyak yang bilang filmnya bagus dan melebihi ekspektasi. Eh, ternyata zonk. Untung saja studio hanya berisi 4 orang dan di barisan saya hanya ada diri sendiri. Walaupun plotnya nggak jelas, suasana studio yang sepi lumayan menyelamatkan pengalaman saya menonton.
#3 Bebas mengatur waktu dan agenda sesuka hati
Nah, alasan terakhir ini yang kerap menjadi penyebab utama. Saya lebih suka nonton siang, kalau bisa jadwal pertama setelah salat zuhur. Sementara itu, kebanyakan teman-teman saya baru bisa dan lebih suka menjelang malam. Perbedaan sederhana seperti ini saja sudah sering membuat rencana nobar sukar terwujud.
Belum lagi urusan mencari hari yang sama-sama kosong. Kadang sudah lama berencana, tetapi batal melulu lantaran ada yang tiba-tiba berhalangan atau sibuk. Begitu akhirnya semua bisa, eh, bersisa sesi malam atau malah keburu turun layar. Banyak sekali contoh filmnya sampai saya bingung pengin mengingat yang mana.
Sebelum maupun sesudah nonton, saya juga bebas menentukan agenda. Entah pas berangkat mampir-mampir dulu. Entah habis dari bioskop pengin langsung pulang. Misal lagi mood keliling mal atau wisata trotoar keramik warna-warni juga tinggal melangkahkan kaki. Saya tidak perlu merasa sungkan lantaran rencana saya berbeda dengan orang lain atau menanggung susah hanya karena tidak enak menolak ajakan.
Yah, jujur, saya sih tetap senang nonton bersama teman di bioskop kalau memang mood, saldo, waktu, dan filmnya cocok. Hanya saja, kalau harus memilih antara terus menunggu orang lain atau pergi sendirian, sudah pasti saya akan memilih opsi kedua. Toh, tujuan saya ke bioskop hanya untuk menyenangkan diri sendiri, bukan pembuktian bahwa saya ke mana-mana ada yang menemani.
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Nonton di CGV J-Walk Jogja: Murah tapi Bikin Capek.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













