Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Alasan Saya Ogah Main Padel dan Tetap Bertahan Main Badminton

Suci Amalia oleh Suci Amalia
11 Februari 2026
A A
Alasan Saya Ogah Main Padel dan Tetap Bertahan Main Badminton Mojok.co

Alasan Saya Ogah Main Padel dan Tetap Bertahan Main Badminton (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Olahraga padel sedang naik daun dalam beberapa waktu terakhir. Popularitasnya meroket seiring banyaknya artis dan influencer menggandrungi olahraga ini. Walhasil, lapangan padel kian menjamur. Sekalipun harga sewanya lumayan bikin dompet bergetar, lapangan tetap full-booked. Bahkan, di beberapa daerah, bermunculan calo lapangan padel. 

Di tengah tren padel yang sedang gila-gilaan, banyak orang yang mulai coba-coba olahraga satu ini. Mereka yang biasanya main olahraga pakai raket, seperti badminton dan tenis, perlahan beralih ke padel. 

Akan tetapi itu tidak berlaku untuk saya. Saya gemar main badminton, tapi di tengah gempuran tren padel, saya tetap memilih bermain badminton karena beberapa alasan. 

Baca juga Suka Atau Tidak, Bulu Tangkis Indonesia Tetap Butuh Nyinyiran Taufik Hidayat.

Badminton dan kenangan masa kecil yang sulit ditinggalkan

Bagi saya, bulu tangkis bukan sekadar olahraga yang mirip padel. Badminon adalah olahraga pertama yang saya pelajari dan gemari sehingga banyak sekali kenangan masa kecil menyertai. Sejak umur tujuh tahun saya main badminton. Masih ingat betul, saya biasanya main setelah pulang ngaji di skeolah agama. 

Tiap sore, anak-anak kampung kumpul di lapangan belakang rumah. Meski angin kadang sangat kencang dan nggak bersahabat dengan arah shuttlecock, permainan tetap berjalan. Teriak, ketawa, bahkan kecewa karena kalah jadi kenangan tak akan terlupa. 

Kalau lagi musim Thomas Cup dan Uber Cup, anak-anak kampung biasanya nobar badminton. Masih televisi, kita biasanya ikut sorak-sorakan ala pendukung stadion. In do ne sia dung dung dung dung dung (bacanya pake nada). Masa-masa Taufik Hidayat lagi di masa emasnya, barengan dengan Muhammad Ahsan, Lilyana Natsir, dan Greysia Polii. Itu sederet nama yang masih saya ingat.

Nah, memori seperti ini yang membuat badminton makin candu. Selain olahraganya seru, badmintonnya juga memberi nostalgia waktu kecil. Padel mana bisa memberikan sensasi ini. 

Baca Juga:

Tahun Ini, Jogja Menjadi Kota Paling Keramat di Dunia

PBSI Bikin Acara Intimate Talk, Ceritanya Mau Saingan sama Akun Gosip nih?

Baca juga Alasan Nonton Bulu Tangkis di Indosiar Bukanlah Keputusan yang Tepat.

Jumlah lapangan lebih banyak, nggak perlu rebutan

Kalau dibandingkan dari segi jumlah lapangan, badminton jelas lebih unggul. Ya itu wajar karena badminton sudah eksis jauh lebih lama di Indonesia. Hampir tiap kampung punya satu lapangan olahraga yang bisa dipake buat badminton, baik gratis maupun sewa yang relatif murah.

Berbeda dengan padel yang masih tergolong olahraga baru di Indonesia. Jumlah lapangannya masih sedikit, kalaupun ada biasanya terbatas di daerah perkotaan. Ya saya sebagai wong kampung ya nggak bisa main padel kalau balik ke rumah. Ngga heran, saat ini padel masih identik sebagai olahraga golongan menengah ke atas.

Badminton lebih merakyat daripada padel

Pertimbangan biaya jadi salah satu faktor penting memilih olahraga. Untuk bermain bulu tangkis dengan standar sebagai pemain pemula, biaya yang diperlukan jauh lebih ramah di kantong.

Misal raket, saya iseng searching di marketplace dengan kata kunci “raket padel pemula” dan “raket badminton pemula”. Untuk raket padel, rata-rata harganya di atas Rp500.000. Ada sih yang masih di bawah itu, tapi ulasan produknya sering kali kurang meyakinkan.

Sebaliknya, raket badminton hanya berkisar Rp150.000 sampai Rp300.000. Apalagi kalau Rp500.000, raketnya sudah tergolong lumayan berkualitas. Perbedaan harga yang signifikan ini, bikin saya mikir dua kali untuk main padel. 

Belum lagi soal biaya lapangan. Di Depok, misalnya, harga sewa lapangan padel di CGE Arena dibanderol Rp250.000 per sesi dan di Padelago yang letaknya persis samping kampus Rp300.000. Sementara itu, sewa lapangan badminton hanya sekitar Rp55.000. Itu harga di GOR 58 dan GOR Pengersa. Bahkan, bisa saja kalian nggak bayar sama sekali kalau main di lapangan kampus. 

Tiga alasan ini yang bikin saya masih bertahan main badminton dan nggak tertarik main padel. Mungkin suatu hari nanti kondisi ekonomi saya membaik dan circle pertemanan hobi main padel semua, tapi saya ragu akan sepenuhnya meninggalkan badminton. Ya bagaimana ya, ada sisi sentimental dari badminton yang sulit ditinggalkan dan nggak dimiliki padel soalnya.  

Penulis: Suci Amalia
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Panduan Memilih Raket Badminton buat Kalian para Pemain Dadakan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Tags: badmintonbulu tangkislapangan padelpadelraket
Suci Amalia

Suci Amalia

Santri yang nyasar di kampus internasional

ArtikelTerkait

Suka Atau Tidak, Bulu Tangkis Indonesia Tetap Butuh Nyinyiran Taufik Hidayat Terminal Mojok

Suka Atau Tidak, Bulu Tangkis Indonesia Tetap Butuh Nyinyiran Taufik Hidayat

27 Juni 2022
memahami badminton untuk pak menpora

Panduan Memahami Badminton untuk Pak Menpora

10 Desember 2021
Nonton Badminton Itu Seru, asal Komentatornya Bukan Fadly Sungkara

Nonton Badminton Itu Seru, asal Komentatornya Bukan Fadly Sungkara

21 Januari 2023
Dear Pengurus PBSI, kalau Nggak Bisa Introspeksi, Mending Undur Diri, daripada Jadi Beban kan?

Dear Pengurus PBSI, kalau Nggak Bisa Introspeksi, Mending Undur Diri, daripada Jadi Beban

7 Oktober 2023
susi susanti olimpiade barcelona 1992 bulu tangkis badminton juara medali emas olimpiade seoul 1988 mojok.co

Susi Susanti dan Keramat Tahun 1992

6 April 2020
PB Djarum jangan pamit

PB Djarum Jangan Pamit, Masih banyak Anak-anak yang Ingin Mengejar Mimpi Mereka

9 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tiket Pesawat Sudah Terlalu Mahal, Ini Hitungan yang Lebih Logis (Unsplash)

Tiket Pesawat di Indonesia Sudah Terlalu Mahal dan Tidak Masuk Akal, Berikut Saya Membuat Hitungan yang Lebih Logis

9 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
4 Ciri Tahu Gimbal Semarang yang Sudah Pasti Enak dan Tidak Mengecewakan Pembeli Mojok.co

4 Ciri Tahu Gimbal Semarang yang Sudah Pasti Enak dan Tidak Mengecewakan Pembeli

10 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti Mojok.co

Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti

9 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Selalu Pelit ke Diri Sendiri demi Hidupi Keluarga, Tiap Mau Self Reward Pasti Merasa Berdosa padahal Tak Seberapa
  • Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros
  • “Nguping” dan Mengulik Topik Obrolan Penjaga Warung Madura hingga Kuat Teleponan Berjam-jam, Tidak Ada Habisnya
  • Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi
  • 3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal
  • Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.