Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Alasan Saya Nggak Pernah Mau Ngasih Rating Makanan atau Minuman

Firdaus Al Faqi oleh Firdaus Al Faqi
8 Oktober 2020
A A
Alasan Saya Nggak Pernah Mau Ngasih Rating Makanan atau Minuman terminal mojok.co

Alasan Saya Nggak Pernah Mau Ngasih Rating Makanan atau Minuman terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ngasih rating makanan atau minuman kok agak nganu, yaaa…

Keinginan untuk buka usaha sendiri dan nggak mau bekerja di bawah komando orang lain sekarang ini lagi menjadi tren di kalangan teman-teman seumuran saya. Berbagai bidang pun banyak digeluti. Ada yang terjun ke industri musik, fashion, desain, dan yang paling banyak saya lihat adalah industri food and beverage (F&B). Entah kenapa, industri F&B ini banyak banget diminati oleh teman-teman saya. Dan saya tiba-tiba tertarik untuk menuliskannya.

Dalam industri F&B, yang awal dibahas adalah tentang produk apa yang akan dibuat. Pemilihan ini, bisa hanya makanan, minuman, dan bisa sekalian dua-duanya. Kata mereka, yang paling penting adalah adanya inovasi dalam produk yang akan dijual. Produknya, kalau bisa, belum ada yang jual di daerah tempat mereka akan berjualan. Pasalnya, ini bakal jadi nilai plus.

Setelah tahu jenis produk apa yang bakal dijual, terus ngumpulin modal buat buka warung atau kafe, desain dikit-dikit, kasih perlengkapan dan peralatan, setelah itu siap-siap untuk peluncuran produknya. Sebagai teman yang baik, tak jarang saya mengunjungi satu demi satu tempat usaha jualan teman saya. Niat saya, sekadar memberi dukungan kecil karena mereka udah berani bikin usaha sendiri.

Setelah beberapa tempat saya kunjungi, kebanyakan dari mereka minta saya untuk memberi rating terhadap produk yang telah dibikin dan dijualnya ini. Di sini saya sering merasa agak gimanaaa gitu. Bukan nggak mau kasih, tapi saya nggak bisa. Katanya, udah, terserah aja, pokoknya beri aja rating di antara 1-10. Namun, saya selalu merasa bingung: baiknya diberi rating berapa, ya?

Alasannya sederhana. Setahu saya, kalau udah ada standar yang diukur pakai angka, itu harus ada kriteria yang pasti. Misalnya nih ya, kalau hotel, itu kan ada bintang-bintangnya, tuh. Nah, sebuah hotel dikategorikan sebagai bintang satu dengan syarat seperti ini. Hotel bintang tiga dengan syarat seperti ini, dan seterusnya. Jadi, sudah ada ukuran yang pas.

Saya pikir, sama dengan makanan atau minuman yang dijual teman-teman saya. Misalnya nih, kalau rating satu syarat yang dipenuhi apa saja. Begitu dengan angka rating seterusnya. Harus ada yang menjadi alasan untuk tiap besarnya rating. Entah itu dari segi penyajian, komposisi makanan atau minuman, kebersihan, desain tempat, pelayanan, kelengkapan saat pelanggan lagi menikmati hidangannya, dan beberapa hal yang kiranya berhubungan dengan makanan atau minuman yang disediakan.

Jadi, tampaknya kurang tepat kalau mereka langsung tanya rating untuk makanan atau minuman yang dijualnya. Soalnya ya tadi, nggak ada kriteria atau standar yang dibuat. Ada baiknya sebelum jualan, bikin dulu terkait urusan rating ini. Atau bisa juga cari di internet tentang standar pemberian rating. Nanti ketika ada pelanggan, tinggal kasih tau aja standar pemberian ratingnya.

Baca Juga:

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

Kalau nggak ada, gimana, ya? Saya bingung. Apalagi makanan dan minuman. Apa iya lidah saya ini bisa dijadikan tolok ukur dalam pemberian rating? Kayaknya nggak, deh. Bukankah masing-masing orang itu punya seleranya sendiri? Kopi pahit bagi saya enak, tapi bagi yang lain belum tentu. Kebanyakan es bagi saya nggak enak, tapi bagi yang lain bisa jadi enak banget.

Mendapatkan rating bagus tapi hanya berdasar penilaian subyektif pelanggan tanpa adanya standar umum, kayaknya nggak bakal menghasilkan data yang objektif, deh. Padahal, katanya dalam bisnis itu butuh data yang pasti karena penting untuk pengembangan bisnisnya? Kalau masukannya hanya dari rating yang diberikan secara sembarangan, bagaimana bisnisnya bisa dievaluasi dengan baik?

Apalagi kalau alasannya berdasar “nggak enak ngasih rating jelek karena bisnis teman sendiri”. Wah, bisa malah makin ngawur hasilnya. Bagi saya, itu bukannya mendukung, justru menjerumuskan. Itu hanya bikin si penjual mendapat kepuasan semu. Sebab, tingginya rating bisa jadi berasal dari rasa sungkan temannya sendiri. Percayalah, bikin orang cepat puas dalam membangun bisnisnya, itu juga nggak baik.

Lantaran saya tidak cukup mumpuni untuk memberikan penilaian terhadap bisnis makanan atau minuman punya teman saya, jadi saya cukup bingung dan kesulitan kalau diminta ngasih rating. Mohon maaf, khawatirnya rating serampangan yang saya berikan ternyata justru bikin susah usaha teman saya di kemudian hari.

BACA JUGA Alasan Kita Sebaiknya Memberikan Rating dan Review Produk Saat Belanja Online dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2021 oleh

Tags: BisnisMakananminumanrating
Firdaus Al Faqi

Firdaus Al Faqi

Sejak lahir belum pernah pacaran~

ArtikelTerkait

Porsi Soto di Jawa Sedikit Bukan Berarti Orang Jawa Pelit, Simak 4 Alasan Ini!

12 September 2021
Sempat Tersusul, Tokopedia Kembali Jadi Marketplace No. 1, Kok Bisa_ terminal mojok

Sempat Tersusul, Tokopedia Kembali Jadi Marketplace No. 1, Kok Bisa?

12 September 2021
jagung titi mojok

Jagung Titi, Contoh Nyata Bagaimana Masyarakat Lamaholot Menciptakan Ketahanan Pangan

16 Juli 2020
Tips Memilih Collagen Drink biar Kulit Makin Cerah dan Uangmu Nggak Terbuang Sia-sia

Tips Memilih Collagen Drink biar Kulit Makin Cerah dan Uangmu Nggak Terbuang Sia-sia

25 Agustus 2023
Tipe-tipe Orang Tegal Saat Makan Tahu Aci Terminal Mojok

Tipe-tipe Orang Tegal Saat Makan Tahu Aci

1 Desember 2020
fruit tea pouch mojok

Betapa Susahnya Minum Fruit Tea Pouch: Dicoblos Susah, kalau Digigit Rontok Gigimu

19 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet Mojok.co

Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.