Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Alasan Masyarakat Desa Nggak Bangun Pagar Rumah Meskipun Sering Kemalingan

Mohammad Maulana Iqbal oleh Mohammad Maulana Iqbal
7 September 2021
A A
Alasan Masyarakat Desa Nggak Bangun Pagar Rumah Meskipun Sering Kemalingan terminal mojok.co

Alasan Masyarakat Desa Nggak Bangun Pagar Rumah Meskipun Sering Kemalingan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu terakhir, tepatnya semenjak musim pandemi, desa saya sering terjadi kemalingan. Entah itu malingnya dari desa sendiri atau dari desa tetangga. Menurut saya, ya maklum lah, kriminalitas di musim pandemi ini sudah pasti meningkat. Pasalnya, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, tapi kebutuhan hidup terus meningkat. Walhasil, jalan apa pun ditempuh demi mendapatkan duit, duit, dan duit. Salah satunya dengan cara maling.

Namun, dalam tulisan ini saya bukannya mau mempermasalahkan si malingnya, toh sudah jelas dan dapat kita nilai bersama. Saya di sini hendak mempermasalahkan masyarakatnya, terutama mereka yang menjadi korban maling.

Jadi, kebanyakan maling di desa saya itu mengincar rumah-rumah yang nggak memiliki pagar. Alasannya, ya tentu saja untuk mempermudah aksinya untuk keluar masuk rumah tersebut di kala pemilik rumah tertidur lelap sehingga tanpa susah payah panjat pinang, eh panjat pagar rumah maksudnya. Sedangkan, segelintir rumah yang memiliki pagar di desa saya justru aman dari tangan-tangan maling.

Nah, yang membuat saya bertanya-tanya, masyarakat itu sudah tau akal bulus maling itu gimana. Mereka juga sudah tau musim maling di masa pandemi meningkat. Namun, kenapa masih kekeuh nggak mau membangun pagar untuk melindungi rumahnya? Padahal, kan, pagar rumah itu sudah jelas fungsinya apa, yakni untuk proteksi, alias keamanan rumahnya sendiri.

Masyarakat yang modelan kayak gini itu nggak satu dua orang saja. Bahkan mayoritas masyarakat di desa saya nggak mau membangun pagar rumah. Adapun rumah yang memiliki pagar itu hanya segelintir orang, sebanyak hitungan jari, doang.

Untuk menjawab kegelisahan ini, akhirnya saya coba bertanya kepada beberapa pihak, mencermati sekaligus memahami pola pikir dan pola kehidupan masyarakat desa di desa saya sendiri. Walhasil, saya menemukan beberapa alasan masyarakat desa yang kekeuh nggak membangun pagar rumah meskipun sering terjadi kemalingan.

Pertama, strata sosial. Ternyata, pagar rumah di masyarakat desa itu menunjukkan strata sosial yang dimiliki pemilik rumah tersebut. Hanya mereka yang berasal dari kelas menengah ke atas saja yang memiliki pagar di rumahnya. Sedangkan, mereka yang berasal dari kelas menengah ke bawah itu nggak memiliki pagar rumah.

Jadi, selain alasan finansial, “harus” menjadi golongan kelas menengah ke atas di masyarakat desa itu cukup merepotkan. Pasalnya, mereka yang berasal dari kelas menengah ke atas pasti akan menjadi incaran utang oleh tetangganya. Ya, boleh-boleh saja sih utang, tapi kalau yang utang itu satu RW, gimana? Lah, gulung tikar jadinya.

Baca Juga:

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Betapa Merananya Punya Rumah Tanpa Pagar, Jadi Markas Bocil Mabar

Kedua, solidaritas sosial. Mungkin sudah banyak orang yang tau, bahkan di buku-buku anak IPS sudah banyak dijelaskan bahwa masyarakat tradisional, alias pedesaan itu memiliki solidaritas yang tinggi.

Begitu pun dengan desa saya, rumah-rumah yang memiliki pagar itu cenderung nggak pernah digunakan cangkruk oleh tetangganya. Masyarakat lebih suka cangkruk di rumah yang tanpa pagar.

Pasalnya, terdapat pola pikir di masyarakat bahwa mereka yang rumahnya memiliki pagar itu cenderung invidualis, kurang bergaul, bahkan nggak asyik. Ya, sudah dapat dibayangkan bagaimana orang semacam ini ikut cangkruk. Pasti garing krik-krik, sibuk sendiri, hemat bicara, dan ngobrol sebutuhnya doang.

Ketiga, lahan luas ketika ada kegiatan. Asal kalian tau, masyarakat desa itu paling jempol dengan kegiatan kultural, seperti slametan, yasinan, nikahan, tasyakuran, bahkan tahlilan. Tahlilan saja bervariasi, mulai tahlil tujuh hari, tahlil empat puluh hari, tahlil seratus hari, tahlil seribu hari, tahlil pendak atau haul (setahun sekali).

Nah, bagi mereka yang memiliki pagar rumah dan halamannya luas yang dapat menampung tamu undangan, maka nggak menjadi masalah. Namun, yang jadi masalah ketika ada rumah yang memiliki pagar tapi halamannya sempit, layaknya perumahan yang minimalis. Walhasil, kalau ada kegiatan maka sudah pasti tamunya akan berdesakan.

Oleh karena itu, masyarakat lebih memilih nggak membangun pagar. Selain agar halaman lebih luas, nggak memiliki pagar rumah juga dapat mempermudah meminjam halaman rumah tetangganya. Jadi, kalau ada kegiatan bisa langsung ngeloss sampai halaman tetangga. Kalau memiliki pagar rumah justru terganggu karena kehadiran pagarnya yang membatasi antar tetangga ketika ada kegiatan tertentu.

Keempat, idealisme tinggi. Tipikal masyarakat desa itu memiliki keteguhan dalam memegang prinsip, norma sosial, nilai, maupun pola pikir kolektif masyarakat. Berbagai pola pikir, prinsip maupun norma sosial yang telah saya jelaskan sebelumnya itu dipegang teguh oleh masyarakat, meski konsep-konsep di atas punya titik-titik kelemahan.

Jadi, meskipun masyarakat diomongin bagaimanapun perihal kebermanfaatan membangun pagar rumah, tapi masyarakat desa pasti tetep ngeyel. Ketika norma maupun nilai sebelumnya masih dipegang teguh oleh mereka, maka omongan tersebut hanya akan sia-sia.

Dari alasan tersebut, masyarakat desa kekeuh nggak bangun pager walau kemalingan, itu bukan cacat logika. Namun, memang ada hal lain yang jadi latar belakang dan sulit untuk diganggu gugat.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 September 2021 oleh

Tags: kemalinganmasyarakat desaPagar Rumah
Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Lulusan Magister Sosiologi yang doyan ngulik isu konflik, identitas dan dinamika sosial. Selain menjadi kapitalis toko fotocopy, sehari-hari juga disibukkan dengan kegiatan membaca, menulis dan riset. Sedang berkeringat melahirkan komunitas riset.

ArtikelTerkait

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

9 Mei 2026
Betapa Merananya Punya Rumah Tanpa Pagar, Jadi Markas Bocil Mabar

Betapa Merananya Punya Rumah Tanpa Pagar, Jadi Markas Bocil Mabar

26 April 2025
orang desa, anak kuliahan

Masyarakat Desa dan Anggapan Anak Kuliahan Pasti Bisa Melakukan Apa Saja

12 Mei 2020
5 Karakteristik Masyarakat Desa dalam Drakor Our Blues Terminal Mojok

5 Karakteristik Masyarakat Desa dalam Drakor Our Blues

29 Mei 2022
Memahami Alasan Mengapa Mancing Menjadi Primadona Masyarakat Rural terminal mojok

Memahami Alasan Mengapa Mancing Jadi Primadona Masyarakat Rural

27 Mei 2021
“Orang Pintar” Lebih Cekatan Menangkap Cari Maling daripada Polisi Mojok.co

Maaf Polisi, Kami Lebih Percaya Lapor “Orang Pintar” kalau Kemalingan

26 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Desa Jangkar, Desa Paling Nyaman di Bangkalan Madura. Menetap Sehari, Langsung Ingin Datang Lagi

Desa Jangkar Bangkalan: desa paling anomali di Madura saat musim kemarau, tapi bikin desa lain cemburu

12 Juli 2026
Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak Mojok.co

Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak

15 Juli 2026
Tahlilan di Sumatera beda dengan Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan Mojok.co

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

13 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

18 Juli 2026
Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.