KPR adalah salah satu produk kredit dari perbankan yang oleh sebagian orang dipandang sebagai utang yang sangat memberatkan. Banyak influencer keuangan mewanti-wanti bahkan menyarankan untuk tidak mengambil KPR karena beban utangnya bisa ditanggung belasan hingga puluhan tahun.
Saya rasa hal itu wajar karena memang beban utang yang ditanggung ketika mengambil KPR rumah itu pasti, sementara kondisi keuangan di masa depan nggak ada yang pasti kan? Bayangin 15-20 tahun ke depan selalu dihadaptkan pada tanggung jawab utang KPR, kan nggak enak juga.
Tapi kalau ditinjau dari sisi kebutuhan dan kondisi ekonomi saat ini, ada beberapa aspek yang membuat KPR ini jadi pilihan yang realistis. Dan semua itu membuat saya dasar mengapa orang tetap berani mengambil KPR meski tahu akan mendapat beban utang dengan nominal yang banyak dengan tenor yang bertahun-tahun.
KPR mengunci perkiraan harga rumah
Aspek pertama yang saya sadar adalah soal mengunci perkiraan harga rumah. Jadi kita semua tahu kalau harga rumah itu cenderung selalu naik. Umumnya, rata-rata kenaikannya berada di kisaran 10-15 persen. Melihat kenaikan rumah yang tinggi begitu, tentu menunda beli rumah dengan cara menabung artinya berlomba dengan kenaikan rumah yang sulit dikejar. Terlebih kalau gajinya UMR.
Opsi KPR memungkinkan seseorang untuk setidaknya mengamankan aset rumah saat ini, lalu dibayar bertahap. Artinya meski dicicil, tapi setidaknya dia terhindar dari potensi kenaikan rumah dengan spesifikasi yang sama di tahun-tahun berikutnya. Meskipun tetap saja, beban utang yang ditanggung adalah pokok+bunga, memang terlihat berat.
Namun itu dirasa lebih baik karena kalau dia menabung dengan gaji UMR, terkumpul misal 10 tahun kemudian, maka uang tabungannya tetap nggak bisa menjangkau harga rumah pada saat itu untuk ukuran dan spesifikasi yang sama. Kenaikan harga 10 persen, artinya 10 tahun kemudian, harganya sudah naik 100 persen. Dua kali lipat.
Aspek kedua adalah soal hedge terhadap biaya tempat tinggal. Jadi ketika mengambil KPR, seseorang lebih punya kestabilan pengeluaran soal biaya tempat tinggal. Yah setidaknya ketika masih tahun-tahun awal saat bunga masih fixed. Berbeda dengan sewa rumah yang bisa seketika berubah saat ganti tahun. Memang langkah ini nggak berarti membuat KPR jadi lebih murah, tapi setidaknya lebih stabil, terencana, dan terprediksi untuk kurang waktu beberapa tahun ke depan.
Selain itu, dengan DP sekian persen, seseorang sudah bisa punya aset bernilai jauh lebih besar. Ini yang membuat KPR jadi semacam alat mobilitas kelas menengah. Sebab melalui bank, seseorang setidaknya sudah memiliki salah satu aset yang jadi kebutuhan primer.
KPR Rumah memaksamu “menabung”
Aspek ketiga adalah, soal mindset menabung paksa. Ketika KPR rumah, orang cenderung akan lebih disiplin dalam menabung. Cicilan KPR yang datang tiap bulan memaksa orang untuk menyisihkan uangnya untuk memenuhi tanggung jawab cicilan KPR-nya.
Sehingga uangnya nggak mengendap begitu saja di rekening atau digunakan untuk pengeluaran yang preferensinya lebih kepada keinginan daripada kebutuhan. Pendapatan pun bisa direncanakan pengeluarannya, dan arus kas pribadi pun jadi bisa lebih dipantau.
Misalnya ketika seseorang tiap bulan sudah dibebankan KPR tiap bulan 2 juta sementara pendapatannya 5 juta. Maka orang tersebut setidaknya paham bahwa pengeluarannya tidak boleh lebih besar dari 3 juta, sebab ada tanggungan KPR tersebut.
Tapi terlepas dari aspek di atas, keputusan untuk mengambil KPR setidaknya perlu pertimbangan yang matang. Mungkin cara teman saya bisa dijadikan referensi soal keputusan mengambil KPR. Jadi sebelum memutuskan mengambil KPR, teman saya memastikan setidaknya 4 hal terlebih dahulu. Pertama soal kesiapan arus kas. Bagaimana pendapatannya, seberapa besar?
Apakah masih punya utang lain sebelum KPR? Patokan umum ketika mengambil KPR adalah cicilan total utang setidaknya jangan lebih dari 30 persen dari total pendapatan rata-rata per bulan. Ini penting supaya tahu skenario buruknya ketika cicilan naik (saat floating) atau penghasilan turun, masih mampu apa nggak bayar cicilan?
Kedua adalah memastikan apakah tabungan atau dana darurat sudah mencukupi atau belum ketika terjadi situasi finansial yang nggak diinginkan. Misalnya kena PHK, maka cicilan rumah tetap bisa dibayar dengan tabungan atau dana darurat yang sudah disisihkan dalam periode tertentu.
Ketiga adalah memastikan soal pengenaan bunganya. Ketika floating, pengenaan Bungan floatingnya pada tahun ke berapa? Dengan itu teman saya bisa memperkirakan, ketika cicilan naik 10-20 persen, masih mampu atau tidak?
Stabilitas penghasilan
Dan yang keempat adalah soal status kerja dan stabilitas penghasilan. KPR rumah itu cocok untuk orang yang penghasilannya stabil. Minimal kalau naik turun, ada minimum penghasilan tiap bulan yang sudah bisa ditakar. Kemudian bagaimana statusnya di tempat kerja? Apakah kontrak, tetap, atau bagaimana? Kalau PNS tentu sudah lebih aman. Tapi kalau pekerja swasta, perlu memastikan, statusnya sudah karyawan tetap atau masih kontrak.
Selain di atas, persetujuan pasangan atau keluarga juga penting. Sebab mereka juga perlu tahu agak siap dengan kondisi terburuk.
Semua pertimbangan di atas untuk memastikan apakah KPR benar-benar jadi realistis dan aman. Tentu semua hal di atas berdasarkan kondisi keuangan masing-masing.
Pada akhirnya, KPR memang bisa jadi pilihan realistis. Bukan karena hobi hidup dalam cicilan, tapi karena perkara rumah telah berubah statusnya dari kebutuhan dasar jadi komoditas yang harganya selalu naik tanpa henti. Sementara gaji kita, hanya segitu-gitu aja.
Dan ketika satu-satunya jalan punya rumah adalah meminjam ke bank selama 15–20 tahun, mungkin masalahnya bukan ada pada kita (rakyat) yang kurang nabung, melainkan pada negara yang memang nggak terlalu peduli dengan harga rumah yang naiknya sudah jauh jangkauan dari warganya.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Alas Roban Batang dan Kisah Ganjil saat Hendak Menghadiri Pemakaman
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















