Informasi
ADVERTISEMENT

Mencoba memahami kenapa komunitas, mulai dari RX King hingga pelari, berubah jadi arogan di jalanan

Mencoba memahami kenapa komunitas, mulai dari RX King hingga pelari, berubah jadi arogan di jalan Mojok.co

Beberapa waktu terakhir warga Jogja banyak yang mengeluhkan soal komunitas atau kelompok motor RX King yang berseliweran di jalanan. Ada yang kesal dengan suaranya, asap kendaraannya, hingga padatnya jalanan karena mereka. 

Kondisi serupa mirip dengan konvoi kendaraan yang pernah aku jumpai. Di kap belakang mobil tertempel stikel, “Mohon maaf jika konvoi kami mengganggu jalan”. Atau pada tempelan kertas di ransel penuh bekal dan sparepart motor. Lalu mereka, belasan hingga puluhan, melaju tanpa kenal aturan.

Sebenarnya komunitas kendaraan itu nggak jauh berbeda dengan sekelompok pelari. Mereka menggunakan lampu berkedip di lengan atau punggung jadi peringatan bahwa mereka ikut memakai jalan. Tapi, mereka berjajar 2-3 orang, memakan seperempat ruas jalan. Ketika ada yang ingin menyeberang atau menyalip, langsung disoraki seperti penjahat kelas kakap.

Saya yakin setidaknya sekali seumur hidup kalian pernah bertemu dengan komunitas yang berubah jadi arogan di jalanan. Mau komunitas RX King, CB, Pajero, sampai komunitas pelari bahkan wibu. Tidak semua, mungkin hanya oknum, tapi sering dan kelewat banyak.

Ketika sudah berkumpul dan berdinamika bersama, mereka yang awalnya kalem bisa jadi bajingan. Apalagi di jalan, tempat hajat hidup orang banyak saling beririsan.

Tentu kamu ingin menggugat, “Bisa biasa aja gak sih?!” Ya, sebenarnya mereka bisa jadi santun. Tapi, ketika sudah dalam komunitas, santun sering lebih sulit daripada jadi bajingan.

Aku pun pernah jadi bajingan di jalanan itu

Sebelum komunitas RX King, motor lawas, atau grup-grup lain nyinyir, izinkan Aku bercerita masa lalu terlebih dahulu. Aku pernah jadi bagian dari komunitas motor tua. Tidak secara resmi, tapi menunggang Honda CB basic Tiger 2000 cukup untukku berdinamika bersama mereka.

Ketika motorku macet, orang asing sesama penunggang CB membantu. Ada yang pernah mendorong motorku belasan kilometer untuk mencari bengkel. Ketika nongkrong di warmindo, sesama penunggang CB pasti menyapa dan begitu akrab. Positif sekali kan suasananya? Persis seperti komunitas RX King dan komunitas lain ketika ke sesama anggotanya. 

Aku pernah ikut touring jarak pendek bersama kawan yang jadi anggota resmi salah satu komunitas CB. Semboyan “1 CB sejuta saudara” memang diimani oleh mereka. Meskipun tidak resmi, Aku melaju bersama dalam rombongan belasan motor. Dan seperti dugaan, kami memenuhi badan jalan dan beberapa kali dapat umpatan. Sesekali kami balas dengan sorakan lebih keras.

Bahkan, saat sendirian, Aku pun sering blayer-blayer ketika bertemu sesama penunggang CB. Atau minimal klakson saja, yang tetap bikin kaget pengendara lain. Waktu itu Aku masih berpikir ini hal normal. Sampai POV berubah dan Aku tidak lagi merawat motor tua.

Mental kerumunan dan pemakluman

Tentu kita sering menghakimi konvoi dan arogansi komunitas sebagai tindakan amoral. Serta menghakimi mereka sebagai manusia tak beradab. Tapi, untuk memahami komunitas RX King, pelari, pesepeda, mobil lawas, dan mungkin aku versi anak CB, terlebih dahulu kita perlu memahami konsep mental kerumunan.

Konsep ini sering disalahpahami sebagai hilangnya moral masyarakat dalam kelompok. Padahal situasinya tidak sesederhana ‘sing penting Aku bahagia, kowe kabeh bajingan!’ Kegiatan komunitas tidak serta merta menghancurkan nilai moral seseorang. Tapi, menggeser nilai itu sesuai kesepakatan bersama.

Perubahan nilai ini terjadi seiring perubahan identitas sosial. Ketika tidak pakai kendaraan spesifik, atau jogging sendirian, mereka adalah bagian dari masyarakat umum. Ketika sudah pakai rompi dengan badge komunitas, atau janjian night run, identitas komunal yang dipakai.

Karena melebur dalam kelompok atau komunitas, kesadaran diri terhadap situasi orang lain berkurang. Karena fokusnya adalah kesadaran sebagai satu unit besar. Bukan lagi kesadaran sebagai satu manusia di tengah hajat hidup masyarakat setempat. Gambarannya, kamu tidak lagi memikirkan kenyamanan orang asing, ketika fokusmu adalah kenyamanan dia yang ada dalam rombongan.

Narsisme kolektif komunitas

Kamu pernah merasa bangga ketika maki-maki pemerintah dalam kolom komentar berita? Nah, pindahkan kebanggaan itu dalam komunitas motor atau pelari. Dan ganti bacotan sok keras kalian jadi arogansi di jalan. Kira-kira itulah narsisme kolektif yang terbentuk dalam komunitas. Terjadi karena kesamaan identitas, mental kerumunan, dan perasaan superior.

Dan percayalah, sebagai self diagnosed NPD, Aku paham betul cara kerja narsisme ini.

Syarat mutlak narsisme ini harus memancar keluar. Harus menjadi perilaku yang bisa direspon kelompok lain. Respon negatif dari lingkungan tidak dipandang sebagai ancaman. Justru validasi dari eksistensi komunal. Mungkin akan muncul rasa bersalah setelah pulang ke rumah dan melepas identitas komunitas. Tapi saat berkumpul lagi, narsisme kolektif menjadi moral bersama.

Narsisme kolektif bisa mengubah kritik jadi badge pencapaian. Bisa mengubah nyinyiran orang jadi tanda kemenangan. Lebih buruk, bisa mengubah gugatan jadi bentuk alienasi. Makin diserang, komunitas akan makin merasa jadi korban. Menjadi martir karena orang tidak paham kalau, “HOBI KAMI MAHAL BOSS!”

Sudut pandang yang berbeda

Sayang sekali, moral sampai narsisme kolektif hanya bisa dirasakan mereka yang sedang tergabung dalam kelompok RX King, motor lawas, pelari, pesepeda maupun kelompok lain. Bagi kita yang melihat, mereka tetaplah bajingan arogan sok penting! Tapi perhatikan ini, sudut pandang yang berbeda menimbulkan gesekan antara komunitas dan masyarakat.

Misal, satu dunia sepakat kalau kelompok motor itu keren dan perlu, arogansi mereka akan dimaklumi. Misal ada serempetan di jalan, tidak ada kemarahan yang berbenturan. Yang ada malah masyarakat minta maaf, cium kaki, dan menyembah yang menyerempet.

Akan tetapi, hal itu tidak mungkin terjadi. Karena kesepakatan moral komunitas beda jauh dengan masyarakat lain. Sehingga selalu muncul gesekan dan gugatan dari kegiatan komunitas.

Itu bukan berarti perbedaan sudut pandang ini bisa dinormalisasi ya. Justru gugatan yang melayang pada arogansi komunitas adalah tanda moral masyarakat, terutama di jalan, masih jadi nilai utama. Dan percayalah, sebuah komunitas tidak harus jadi bajingan!

Jika mau, komunitas tidak harus jadi bajingan

Mungkin ide ini ndakik-ndakik, tapi komunitas bisa berhenti jadi bajingan di jalan. Kuncinya adalah tetap menjadikan kesepakatan umum sebagai norma komunitas. Misal, tidak berjejer memenuhi jalan, mengikuti batas kecepatan, sampai tidak merasa si paling penting.

Ketika seseorang masuk ke sebuah komunitas, nilai moral yang sudah disepakati harus jadi standar bersama. Justru mentalitas bajingan yang kadang dibawa segelintir orang harus direduksi. Sehingga komunitas tidak menjadi anomali lingkungan. Tapi bagian dari lingkungan tersebut.

Akan tetapi, tetaplah ide ini terkesan mustahil. Karena komunitas membutuhkan identitas komunal yang menuntut eksklusivitas. Untuk itu, mereka akan tetap merasa diri paling berkuasa dan bertingkah bajingan. 

Sedangkan masyarakat akan terus menghakimi para bajingan ini. Individu yang sedang tidak akan berkomunitas akan memaki komunitas lain. Dan individu yang biasanya senewen jadi memaklumi arogansi saat masuk sebuah komunitas. Sebuah ouroboros relasi sosial di atas jalan yang tidak pernah mulus.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Olahraga Lari itu Sederhana, Kamu Sendiri yang Bikin Rumit.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2026 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!