Alasan Kenapa Kita Suka Barang-Barang Mahal (dan ini Bukan Karena Pengin Pamer)

Artikel

Rizky Adhyaksa

“Afika…”

“Apa???”

“Ada yang baru nih…”

Ya, ada yang baru dari dunia “diputer-dijilat-dicelupin.” Oreo kini berkolaborasi dengan brand streetwear paling narsis se-jagat. Saya bilang narsis karna ini bukan pertama kalinya Supreme menjual produk di luar pakemnya. Beberapa tahun silam, Supreme pernah menjual sebuah bata. Iya guys, BATU BATA. Tentu saja batu bata itu adalah batu bata yang spesial. Bukan karena tahan banting, apalagi tahan peluru, batu bata tersebut sangat spesial dan dijual mahal karena ada tulisan “Supreme.” Narsis banget kan?

Tidak butuh waktu yang lama untuk mengetahui kalau Oreo-Supreme akan dijual dengan harga yang sangat mahal. You heard the news. Sontak, banyak orang yang berlomba-lomba mereview Oreo-Supreme. Mulai dari youtuber kondang seperti Rachel Goddard, Ria Ricis, sampai Kekeyi.

Saya tidak akan membahas mengapa Oreo ini dijual sangat mahal. Singkat cerita Supreme sudah mampu memonopoli segmentasi pasar yang digemari oleh gigs-nya. Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan “ngapain sih beli barang mahal kayak begituan?” Sepintas, pertanyaan yang saya ajukan ini bernada sirik/iri/dengki karena nggak kuat beli. Ya emang sih hehehe. Tapi saya pikir ada hal penting yang harus kita (((pelajari))) dari fenomena ini.

Sadar nggak kalau kita selalu punya keinginan untuk membeli dan memiliki barang mahal/branded? Meskipun belum berkesempatan untuk memiliki, karena cinta tak harus memiliki kita pasti pernah berangan-angan untuk setidaknya suatu saat dapat ngicip barang mahal tersebut. Bisa sepatu, baju, mobil, motor, rumah, apartemen, jam tangan, perabot, batu bata, Oreo, you name it. Semua itu membuat saya mempertanyakan “kenapa kita bisa seperti itu?”

Kita seringkali mengasosiasikan barang mahal dengan predikat-predikat positif. Kualitas yang bagus, rupa yang keren, nggak malu-maluin, dan sebagainya. Bussines Insider pernah melakukan eksperimen yang sangat menarik soal ini. Mulanya mereka membeli dua botol anggur merah (wine) dengan harga yang sama. Kemudian mereka menutup label dengan tulisan harga yang berbeda. Orang pertama yang mecoba kedua anggur tersebut memberikan review positif terhadap anggur yang lebih mahal.

Tidak berhenti sampai di situ, eksperimen dilanjutkan tetapi dengan menukar labelnya. Botol anggur yang sebelumnya tercantum label harga yang lebih murah, kini diberikan label harga yang lebih mahal. Botol dengan harga yang lebih mahal selalu mendapatkan respon yang lebih unggul ketimbang botol dengan harga yang lebih murah. Akhirnya, 80% orang yang terlibat dalam eksperimen tersebut lebih memilih botol anggur yang berlabel harga lebih mahal, meskipun kedua botol anggur tersebut tidak ada bedanya.

Baca Juga:  Dilema Kpopers Antara Tokopedia atau Shopee

Kenapa sih kok bisa gini?

Ketakutan Menjadi Umum

Ketimbang menjawab pertanyaan ini dengan jawaban tendensius seperti keinginan untuk pamer atau mempermalukan orang lain, saya mencoba untuk menawarkan jawaban yang lebih simpatik. Kita semua, manusia yang hidup di masa modern ini, sedang berlomba-lomba satu sama lain untuk menjadi “beda.” Ya, kita ingin membedakan diri dengan orang lain. Kita tidak ingin menjadi “figuran.” Kita semua ingin merebut panggung sosial itu dan mendapatkan atensi sebanyak mungkin.

Kita sangat takut apabila menjadi sama dengan orang lain. Saya masih ingat sebuah candaan yang disematkan pada orang yang menggunakan baju yang sama dengan orang lain “Ih kok bajunya samaan? Kayak anak panti, hahaha…” padahal apa yang salah dengan menggunakan baju yang sama dengan orang lain? Atau apa yang salah dengan anak panti?”

Pamer bukanlah akar masalah, dia hanyalah gejala dari penyakit sosial yang selama ini menjangkiti masyarakat. Selama ini yang kita cari adalah martabat dan rasa hormat. Pada dasarnya, kita tidak peduli dengan pakaian dan makanan selama kita dihormati. Sayangnya, label harga membuat kita bias untuk menghormati sesuatu.

Barang yang kualitasnya bagus tetapi dijual murah, kemungkinan besar karena diproduksi secara masal dan dengan cara yang efisien. Barang yang diproduksi secara masal, bagaimana pun berguna, tidak akan mendapatkan predikat “eksklusif’ karena hampir semua orang dapat mengaksesnya. Sebaliknya, barang mahal dapat menjadi pertanda “kekhususan” seseorang.

Barang mewah disulap menjadi sumber pangakuan dan penghormatan dalam kehidupan sosial kita. Alhasil, jadilah masyarakat yang terobsesi terhadap barang (commodity fetishism) ketimbang kualitas inheren dalam diri manusia. Pada taraf yang lebih luas, seakan-akan setiap masalah yang kita hadapi dapat diselesaikan dengan membeli sesuatu.

Dapatkah kita lepas dari dunia semacam ini?

Sebagai orang yang sangat berusaha untuk menjadi optimis, saya akan menjawab “ya. Sudah ada acuan dan contoh nyata di mana seseorang dapat memperoleh pengakuan dan penghormatan bukan dari barang ‘mewah.’ Sebuah kondisi di mana kita tidak lagi menilai seseorang dari kemewahan hidupnya, tetapi dari kualitas dirinya.

Baca Juga:  Berkaca dari Kasus Sulli: Netizen Memang yang Terbaik Untuk Urusan Merusak Kesehatan Jiwa Orang Lain

Percayalah bahwa ‘kemewahan’ tidak selalu sukses di mana-mana. Sebut saja brandbrand mewah seperti Louis Vuitton, Prada, Rolex, dan Aston Martin. Keempat brand ini rasanya pengin hengkang saja dari negara yang bernama Denmark. Saat membicarakan kesejahteraan dan keadilan secara bersamaan, maka Denmark akan ditempatkan di puncak piramida. Denmark merupakan negara dengan pendapatan per rumah tangga tertinggi nomor tiga di dunia. Tingkat ketimpangan ekonomi hampir hilang dan setiap orang memiliki akses yang cukup setara terhadap kebijakan politik. Setiap orang di Denmark dapat dikatakan merupakan orang kaya dan sejahtera, tetapi mengapa penjualan barang mewah tidak berhasil di sana?

Jawabannya, karena orang-orang Denmark tidak mengukur seseorang dari pakaian, kendaraan, atau warna Oreo. Masyarakat Denmark sudah merasakan rasa penghormatan dan pengakuan yang tinggi tanpa menghitung-hitung kemewahan yang dimiliki seseorang. Di saat martabat dengan hanya menjadi manusia sudah tinggi, meskipun dengan kehidupan yang biasa-biasa saja, maka keinginan akan barang yang mewah menurun.

Keinginan kita tentang kemewahan bukanlah berpangkal dari keserakahan. Kita saja yang terlalu sibuk berpikir bahwa kehidupan ini adalah kompetisi dan martabat serta penghormatan hanya bisa didapatkan melalui kemewahan. Kita harus sadar bahwa selama ini kita berharga dan banyak orang yang mengakui keberadaan diri kita.

Tentu saja agar semua ini dapat dinikmati bersama-sama, kita perlu upaya pemerataan kesejahteraan yang lebih baik. Semua ini tentu membutuhkan upaya koletif untuk mewujudkannya. Tetapi, saya pikir tidak berlebihan apabila kita memulainya dengan cara membagikan Oreo hitam (atau Supreme kalau kamu sultan) dengan keluarga atau orang terdekat kita. Lebih baik lagi jika membagikannya kepada orang yang membutuhkan.

BACA JUGA Antara Merahnya Oreo Supreme dan Murahnya Supermi atau tulisan Rizky Adhyaksa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.