Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol (Pixabay.com)

Apa yang kalian cari dari sebuah tempat nongkrong? Katakanlah, kafe. Apakah menunya? Pelayanannya? Harganya? Atau apa?

Yang jelas, tiap orang pasti punya jawaban yang berbeda. Meski demikian, ada satu yang jadi harga mati, yaitu kenyamanan. Mau menunya enak dan harganya oke kalau tempatnya nggak nyaman ya, skip.

Kenyamanan ini pun luas, ya. Bukan semata soal tempat tapi juga soal suasana. Bagaimana setting tempatnya, tata lampunya, termasuk soal musik yang diputar di dalam kafe. Saya yakin semua pasti setuju kalau kafe yang nyetel musik keras-keras itu mengganggu. Kecuali, kalau tempat yang kita datangi itu diskotik, konser musik atau sound horeg. Itu sih memang kodratnya nyetel musik dengan volume maksimal.

Tapi kafe? Nggak dulu.  

Musik keras bikin pusing

Sebelum kalian ramai-ramai menyebut ketidaksukaan ini cuma soal selera, mending ditahan dulu argumennya. Musik yang terlalu keras apalagi di tempat yang cuma sekotakan doang seperti kafe, bukan tanah lapang, itu bukan sekadar masalah cocok atau nggaknya. Tapi, memang ada dampak psikologis nyata yang bisa dijelaskan secara ilmiah.

Jadi begini. Ketika indra kita menangkap suara keras, otak manusia memproses suara tersebut sebagai bentuk ancaman atau stresor. Tubuh pun langsung merespon dengan memicu pelepasan hormon stres, yaitu kortisol dan adrenalin. Akhirnya, perasaan jadi merasa gelisah, mudah marah dan sulit merasa rileks.

Dan sialnya, di saya, itu beneran terjadi. Kalau masuk kafe yang ndilalah musiknya kenceng, mendadak jadi bad mood, mual dan pusing.

Ngobrol di kafe jadi susah

Yang bikin nggak habis pikir dari kafe yang nyetel musik kenceng-kenceng adalah, apa para pengelolanya nggak sadar ya kalau suara musik yang dipol itu bikin pelanggan jadi megap-megap tiap kali ngobrol?

Mau nggak mau, obrolan yang seharusnya menyenangkan malah jadi ajang adu ngotot supaya suaranya nggak kalah kenceng dengan suara sound. Padahal, ngomong kenceng-kenceng itu capek, loh. Energi rasanya kesedot banyak. Alhasil, pulang ngafe bukannya rileks malah kerasa capek.

Jadi ya, nggak usah lagi sok pasang muka bingung sambil bertanya-tanya “Padahal aku nggak ngapa-ngapain di kafe. Cuma duduk ngopi sama ngobrol, tapi kok rasanya capek banget, ya?”

Ya itu karena elu ngobrolnya balapan sama suara sound, Malih~

Triple kill perusak mood

Soal musik di kafe yang disetel kenceng ini, penderitaannya makin paripurna ketika kualitasnya sound system yang dipakai ala kadarnya. Spekernya sember, pengaturan treble dan bassnya embuh, sambungan Bluetooth-nya sering nge-lag pula.

Itu satu hal. Makin parah lagi kalau jumlah speaker yang dipasang cuma satu di sudut depan kafe. Lalu tanpa tedeng aling-aling, volume disetel maksimal dengan tujuan biar kedengeran sampai meja paling pojok belakang.

Ya Lord, itu pelanggan yang duduk dekat speaker sudah kayak bersebelahan dengan meriam konser, sementara yang duduk di belakang juga masih kena abunya.

Dan kalian tahu apa lagi yang bikin tambah tersiksa? Tiba-tiba ada iklan di tengah-tengah lagu! Alamak! Bener-benar triple kill perusak mood. Mbok langganan yang premium, lho. Untung aja yang digedein, giliran langganan aplikasi musik saja nggak bisa. Tobat… tobat.

Lebih baik kafe nggak usah nyetel musik (keras-keras)

Setelah dipikir-pikir, memang paling bener kafe itu ya nggak usah nyetel musik kenceng-kenceng. Ini kafe, Bos, bukan diskotik apalagi konser musik. Cukup disetel pelan saja volumenya, biar suara yang masuk tetap sopan di telinga. Sekadar buat background ambience yang manis, lah. Jadi, suasananya nggak sepi-sepi amat.

Atau, kalau mau nggak nyetel musik sekalian juga lebih bagus. Kan bisa saja tuh memanfaatkan suara-suara alami yang jauh lebih menenangkan. Misalnya, suara gemericik dari kolam buatan di sudut kafe, suara lonceng yang tertiup desir angin, bahkan suara khas deru mesin espresso dan denting gelas pun bisa jadi melodi yang menyenangkan. Dengan begitu, pelanggan bisa larut dalam suasana syahdu tanpa perlu merasa terganggu.

Jangan khawatir. Kalian tentu saja boleh tidak setuju dengan tulisan ini. Toh, ketika menulis ini, saya sudah siap pasang badan. Siap dengan hujatan, seperti ‘Kalau mau sepi ya ke kuburan’, ‘Nggak usah ngatur-ngatur yang punya kafe!’, ‘Yang terganggu cuma situ doang’, dsb.

Jadi, ya, monggo saja kalau mau dihujat. Saya tak lanjut ngopi saja.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dear Penjual di Warung Kopi, Tolong Volume Musiknya Jangan Terlalu Keras

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version