Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ajaibnya Kaum Muslim di Hari Raya Idulfitri

Atik Soraya oleh Atik Soraya
7 Juni 2019
A A
bermaafan di idulfitri

bermaafan di idulfitri

Share on FacebookShare on Twitter

Hakikatnya Idulfitri bisa dikatakan sebagai tanda berakhirnya puasa Ramadan yang dijalani kaum muslim selama kurang lebih satu bulan, tapi di luar dari itu ada beberapa hal yang sebenarnya tanpa kita sadari terjadi sangat ajaib di puncak hari yang suci nan istimewa ini.

Kita mulai hal-hal ajaib itu dari salat Eid. Jadi begini, masjid di dekat rumah saya memulai salat Eid sekitar pukul 07.00 WIB. Setelah dipotong untuk mandi, merapikan ruang tamu, menyusun kembali toples kue dan permen, menghangatkan opor ayam dan sebagainya, saya baru sampai di masjid kira-kira 20 menit sebelum salat dimulai. Tapi tempat duduk yang saya dapat rupanya sudah jauh sekali bahkan di pojok dari yang paling pojok, di sebuah sudut dari yang paling sudut.

Saya terheran-heran, “ini orang-orang datang jam berapa?”—benar-benar seheran itu saya. Mau perempuan atau laki-laki, muda atau tua, kaya atau miskin, tim 01 atau 02, jomblo atau bucin, semuanya bersimpuh di atas sajadah. MasyaAllah di satu sisi hati saya merasa takjub, sekaligus bersyukur karena kekuatan bulan Ramadan memang dahsyat sekali.

Coba ingat-ingat kebiasaan sehari-hari sebagian dari kita yang datang ke masjid saat kumandang azan sudah mau selesai atau bahkan keseringan salat di rumah, tapi ketika Ramadan semua orang berbondong-bondong memadati masjid sebelum waktu salat dimulai—luar biasa. Emang nggak sia-sia setan dibelenggu selama bulan Ramadan kalau ibadah kita serajin ini.

Sudah selesai salat Eid dengan khusyuk, ada lagi penampakan ajaib warga negara +62 yang patut diingat. Saya merasa kalau di hari raya Idulfitri ini orang-orang jadi auto-baik. Misalnya saat lagi sowan ke rumah tetangga atau sanak famili, dengan baiknya mereka menawarkan sesuatu yang enak-enak.

Sesuatu yang enak itu bisa beragam sekali wujudnya mulai dari makanan, minuman, camilan, oleh-oleh, hingga yang paling ditunggu-tunggu adalah saat om dan tante mulai mengeluarkan amplop warna-warni dengan font yang melengkung-lengkung bertuliskan Marhaban ya Ramadan. Yap! THR! Sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia-manusia macam saya yang lahir tahun 90-an. Ketahuilah Om dan Tante, bahwa kebaikan dan kemuliaan kalian ketika memberi THR itu sebenarnya menjawab beberapa persoalan finansial yang melibatkan hajat hidup.

Selain jadi auto-baik, beberapa dari sanak famili ini juga jadi perhatian tingkat tinggi. Bentuk perhatian mereka tinggi sekali bahkan hampir menyentuh level perhatian yang cenderung menyebalkan dan sangat posesif. Hal tersebut bisa dilihat dari betapa pedulinya mereka sama kehidupan pribadi kita, “kamu enggak mau kenalin pacarmu?”

Ya Lord, padahal nggak tahu aja baru semalam si doi bilang, “aku jenuh. Kita sampai sini aja.”—hmm mamam~

Baca Juga:

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

Ada lagi hal menarik yang cukup menggelitik menurut saya. Pola bermaaf-maafan yang ada dalam template ucapan hari raya Idulfitri. Padahal kan ya bermaafan tidak hanya pas hari raya Idulfitri tapi kenapa semua orang kompak meminta maaf atas kesalahan-kesalahan masa lalu baik yang disengaja ataupun tidak disengaja.

Lagipula perkara meminta maaf dan memaafkan itu lumayan susah dilakukan dengan sepenuh hati lo—karena melibatkan sisi emosional yang sangat luar biasa. Namun disini praktik yang sukar dilakukan pada hari-hari biasa tadi seolah jadi nampak mudah sekali dilakukan. Pada akhirnya meminta maaf dan memaafkan membuat hati semua orang rasanya adem penuh ketenangan gitu ya sampai ada beberapa dari kita yang meneteskan air mata.

Ada satu hal yang menyangkut di kepala saya soal urusan maaf dan memaafkan ini. Seperti yang kita tahu, beberapa waktu lalu Indonesia melaksanakan Pemilihan Umum serentak pertama. Euforianya meriah sekali, walau sepertinya lebih banyak bentuk kebencian yang dibungkus jadi sesuatu yang meriah di atas nama kebebasan berpendapat di negara demokrasi.

Bahkan walaupun pemilu sudah usai, aksi-aksi lanjutan dari pemilu sempat dilakukan beberapa waktu yang lalu. Selain para elite yang suka buat pernyataan-pernyataan kontroversial—buzzer politik bertebaran dimana-mana apalagi di sosial media.

Yang buat saya jadi nggak habis pikir itu gimana cara buzzer politik yang sering banyak bacot di setiap unggahan propaganda yang ia buat itu melakukan kegiatan bermaafan di hari raya Idulfitri yang kompak dilakukan kaum muslim pada umumnya.

Betapa ajaib dan rumitnya urusan buzzer yang ingin meminta maaf atas kegaduhan dan dampak yang ia timbulkan. Berapa banyak orang yang harus ia kirimkan pesan satu-satu untuk membuktikan keseriusannya dalam mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Setidaknya, urusan kerumitan meminta maaf buzzer dan elite atas kegaduhan yang ia timbulkan jadi salah satu hal ajaib lain yang mewarnai Hari Raya Idulfitri kita tahun ini.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: BermaafanBuzzer PolitikIdulfitriLebaranPolitik Indonesia
Atik Soraya

Atik Soraya

ArtikelTerkait

3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

30 Maret 2025
3 Mall di Surabaya yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Jelang Lebaran

3 Mall di Surabaya yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Jelang Lebaran

5 April 2024
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya

22 Mei 2020
perdamaian politik

Kebersamaan Keluarga Pak SBY dan Ibu Mega dan Pentingnya Perdamaian Dalam Politik

9 Juni 2019
oligarki

Saat Oligarki Media Mainstream Dihadang oleh Kekuatan Media Sosial Bersama Hashtagnya

2 Oktober 2019
baju baru

Pamer Baju Baru dan Menyalakan Petasan Bukan Budaya Kita

4 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.