Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jogja dan Thailand Itu Sama-sama Monarki, tapi Rakyat Jogja Nggak Suka Demo

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
5 November 2020
A A
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Selain sama-sama indah dan romantis, Jogja dan Thailand memiliki beberapa persamaan, yakni pemerintahan yang berbentuk monarki. Bedanya, Jogja kini berbentuk sebuah kota, sedangkan Thailand merupakan kerajaan. Namun, jika kasusnya melalui sudut pandang monarki, ya setara dong, Bos!

Selain itu, masyarakat Thailand sejak dini didoktrin bahwa menentang raja hukumnya celaka. Atau ya minimal dosa besar. Jogja pun sama, namun tak serupa. Bukan doktrin melainkan makian. Menantang raja, pertanyaan “KTP endi, Buos?” selalu menjadi tekanan tersendiri.

Di balik riuhnya persamaan, jebul terbersit beberapa pembedaan yang cukup mencolok. Jika menentang raja di Thailand ganjarannya dosa, di Jogja ganjarannya didatangi orang. Minimal ancaman disuruh pindah. Kalau pendatang ya bakalan dicap SJW perusak Jogja.

Menentang monarki Thailand pun sebenarnya nggak lebih parah dari menentang monarki Jogja. Tapi, ya bagaimana pun radikalnya sebuah doktrin, jika masyarakatnya makin pintar, goyah juga pada akhirnya. Saya sedang ngomongin Thailand lho ya. Bagaimana pun saya ini sobat nrimo ing pandum.

Melihat para demonstran Thailand yang begitu vokal kepada monarki, hanya bisa membuat saya geleng-geleng kepala alih-alih kagum. Lantas muncul pertanyaan, apa mereka nggak bakal ditanyain KTP mana gitu, ya? Apa nggak dicegat sama gerombolan simpatisan partai? Hebat sekali.

Demo itu bermula karena pemberangusan Future Forward Party (FFP) yang vokal menentang Perdana Menteri Prayuth Chan-Ocha. Blio ini naik kuasa atas sebelumnya kudeta militer. Setelah pemilu tahun lalu, blio terpilih kembali sebagai perdana menteri.

Seperti yang saya katakan tadi, Chan-Ocha memberangus sebuah partai di mana partai itu adalah partai pro-demokrasi, partai yang dianggap anak muda Thailand sebagai sebuah roda paling waras dalam menampung aspirasi mereka.

Raja Vajiralongkorn dianggap generasi Z Thailand ini kinerjanya nggak jelas. Raja ini dianggap ngawu-ngawu mana kala menetapkan diri sebagai pemegang komandan tertinggi seluruh unit militer di Bangkok. Dan ini pertama kali sepanjang sejarah lho. Sudah raja, merangkap kepala pemerintahan, eh malah jarang berada di garda terdepan untuk menampung aspirasi rakyatnya.

Baca Juga:

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

Selain itu, gayanya si raja ini juga dianggap kemlinthi oleh masyarakat Thailand. Ketika naik tahta 2016 silam, Vajiralongkorn justru banyak menghabiskan waktu di Jerman. Sudah punya vila mewah, blio malah lebih banyak tinggal di hotel mewah Garmisch-Paternkirchen. Ia juga membawa 100 orang pihak kerajaan. Gimana rakyat nggak marah?

Itulah mengapa Raja Vajiralongkorn diprotes keras. Makanya Raja Vajiralongkorn, contoh dong Raja Jogja yang bijak bestari. Belajar, teladani, dan implementasi bagaimana cara menjadi raja yang baik sekaligus kepala pemerintahan yang ciamik.

Tuh, pelik kan urusan dengan monarki di Thailand. Sebuah hal yang nggak mungkin terjadi kepada monarki Jogja. Alasannya berdasar, yakni kinerja monarki Jogja sudah sangat baik dan memuaskan… bagi yang terpuaskan.

Sebentar-sebentar, izinkan saya menjelaskan sebelum kalian, sobat nrimo, menanyakan saya KTP mana. Begini, masalah di Thailand itu sangat kompleks. Ada beberapa alasan.

Pertama, masalah di Thailand lebih kompleks daripada di Jogja. Begini, memberangus suara yang dikenal terkenal vokal terhadap Perdana Menteri Chan-Ocha dan begitu populer di kalangan anak muda Thailand itu keterlaluan lho. Sedangkan masalah di Jogja, halah paling cuma masalah UMR dan klitih.

Bahkan masalah UMR dan klitih itu sebuah masalah yang seringnya nggak dipermasalahkan.

UMR Jogja rendah itu kan bisa diperdebatkan oleh buzzer dengan jawaban “hitungannya memang segitu”. Pun masalah ini nggak bakalan menutup laju investor untuk terus melakukan investasi kepada bangunan hunian seperti hotel dan apartemen di utara, perumahan di selatan. Justru makin kencang laju pertumbuhannya.

Investor datang karena upah minimum rendah, mereka untungnya banyak, ditambah diterima dengan hangat oleh sobat nrimo. Gimana nggak menggiurkan? Ketika di daerah lain sampai unjuk rasa, di sini malah dihamparkan karpet merah.

Ini masalah yang sangat sepele, sih. Palingan hanya terbentuk sebuah sistem metropolis di utara. Dengan banyaknya hotel, mal, dan fasilitas hiburan, maka harga akan melambung tinggi, sedangkan UMR dan UMK stagnan. Uang pokok rendah, harga barang naik. Masalah? Ah, bukan. Asal bisa nrimo ing pandum, semua beres. Lapar dan keadilan urusan belakangan.

Alam di Jogja menjadi pertaruhan pun bukan masalah berarti. Palingan hanya air tanah yang terus disedot oleh hotel bintang lima, empat, atau bintang kejora. Penduduk sekitar kehabisan air tanah, sanitasi buruk, lingkungan terkena imbas, nggak masalah. Itu masalah sepele. Nggak perlu repot-repot demonstrasi seperti masyarakat Thailand.

Kedua, raja di Thailand ini nyebelin lho. Sedangkan Raja Jogja nggak seperti itu sifatnya. Blio dekat dengan rakyat. Merangkul masyarakat.

Pun Raja Jogja ini kinerja sangat baik (sebagai Gubernur DIY lho, ya). Apa lagi kebijakan dalam menahan laju pandemi di Jogja. Lihat saja, pariwisata Jogja tetap ngosak-ngasik sedangkan angka Covid-19 di Jogja, hmmm, masih menunjukkan kurva peningkatan, sih. Tapi, nggak masalah, kita harus setuju kinerjanya memang bagus.

Lese-Majeste di Thailand, yakni hukum yang melarang rakyat Thailand melakukan penghinaan terhadap kerajaan, itu sudah sangat keras. Keras dalam melarang rakyat untuk menghina, mengancam, atau menuduh raja untuk urusan apa pun. Walaupun begitu, darah muda tetap darah yang berapi-api. Apapun yang terjadi, ya demonstrasi.

Untung saja mereka nggak demo di Jogja. Walau nggak ada hukuman yang seberat Lese-Majeste di Thailand, tetap saja mereka bakal dihadang ormas fanatik. Lagi pula, buat apa sih demo-demo nggak penting gitu, dikira masyarakat Jogja ini nggak punya gawean seperti masyarakat Thailand apa? Masyarakat Thailand ini selo, demo terooosss.

Sedangkan masyarakat Jogja, maaf maaf aja nih, kita sih sibuk. Nggak ada waktu buat demo. Kita sih sibuk me-retweet akun romantisasi yang bergeliat ketika long weekend itu tuh. Camkan!

BACA JUGA Megawati adalah Tokoh yang Paling Banyak Memberi Sumbangsih untuk Indonesia dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2020 oleh

Tags: Jogjamonarkithailand
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Pangukan, Padukuhan Asri di Sleman yang Cocok untuk Menghabiskan Masa Pensiun

Pangukan, Padukuhan Asri di Sleman yang Cocok untuk Menghabiskan Masa Pensiun

2 Juli 2023
Jogja Hanya Cocok untuk Tempat Singgah, Kurang Nyaman Jadi Tempat Menetap Mojok.co

Jogja Hanya Cocok untuk Tempat Singgah, Kurang Nyaman Jadi Tempat Menetap

25 Oktober 2024
Kok Bisa Ada Orang Bahagia di Jogja, padahal Hidup Mereka Susah?  

Membongkar 10 Kebohongan Jogja yang Diyakini Banyak Orang

21 Agustus 2022
Mantrijeron, Kecamatan di Kota Jogja dengan Nuansa Bantul yang Kental Mojok.co

Mantrijeron, Kecamatan di Kota Jogja dengan Vibes Bantul yang Kental

1 Agustus 2024
3 Resep Rahasia yang Bikin Pariwisata Jogja Sukses trotoar

Jogja Istimewa: Ketika Trotoar Lebih Penting dari Rumah Rakyat

11 Januari 2023
Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit (Unsplash)

Untuk Mahasiswa Baru di Jogja, Turunkan Ekspektasi Kalian, Jogja Nggak Seindah Konten Sinematik

30 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.