Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Gelandangan di Panggung Sejarah

Irfantoni Listiyawan oleh Irfantoni Listiyawan
6 Oktober 2020
A A
gelandangan perang diponegoro batur kemerdekaan sejarah mojok

gelandangan perang diponegoro batur kemerdekaan sejarah mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Panggung sejarah seolah menjadi milik para pemenang dan para pembesar. Mereka dianggap berjasa yang menentukan jalannya sejarah sebuah bangsa. Sebenarnya, di luar para pembesar ini yang terdiri dari tokoh militer, pemimpin politik, dan orang-orang penting lainnya juga terdapat sebuah golongan masyarakat pinggiran yang mungkin saja tidak dianggap. Ini karena citra mereka yang buruk dan dianggap tidak memiliki nilai sejarah. Meski begitu, golongan ini turut membentuk jalannya sejarah pula. Mereka adalah para gelandangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gelandangan diartikan sebagai orang yang tidak tentu tempat kediaman dan pekerjaannya. Selain itu, gelandangan juga dicitrakan sebagai “masyarakat terpinggirkan” maupun “masyarakat buangan” yang diidentikkan dengan pakaian compang-camping dan dianggap kurang sesuai dengan masyarakat modern atau dalam sistem masyarakat yang mapan, seperti pakaian rapi, hidup teratur, dan tinggal di hunian layak.

Di Indonesia, citra gelandangan pun tidaklah jauh berbeda dengan gambaran di atas. Sebut saja seperti penggalan lagu milik Rhoma Irama berjudul “Gelandangan” yang rilis pada tahun 1972 silam. Dalam lagu tersebut, menceritakan ratapan nasib seorang tunawisma (sebutan halus untuk gelandangan) yang penuh ketidakpastian seperti hidup menyusuri jalan, menjadikan langit sebagai atap rumah, dan bumi sebagai lantainya. Atau jembatan yang menjadi tempat perlindungan saat terik dan hujan. Lirik itu pun dilanjutkan dengan “sisa orang yang aku makan…”, gambaran dari seorang gelandangan yang kesulitan mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup.

Membicarakan gelandangan di panggung sejarah, khususnya sejarah di tanah air seolah tidak mendapatkan tempat. Hingga salah seorang begawan sejarah tanah air, Onghokham menuliskan tentang mereka dalam kolomnya di Tempo tertanggal 17 Juli 1982 dengan judul Gelandangan dari Masa ke Masa dan menjadi salah satu bab dalam bukunya, Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang.

Kemunculan para batur menjelang Perang Diponegoro

Kisah gelandangan di tanah Jawa seperti dikatakan Onghokham dalam tulisannya tersebut, muncul di akhir abad ke-18. Dalam sebuah laporan seorang Barat dari Gubernur dan sampai ke Residen menyebutkan jika di Jogjakarta dan Semarang ada sekitar 35.000 orang pekerja kasar. Mereka disebutkan memakai cawat, tidak memakai baju, tak punya rumah tetap, dan bekerja sebagai pekerja kasar. Mereka inilah disebut dengan batur yang umumnya tinggal di dekat pasar dan menerima upah sedikit. Begitu menerima upah, mereka menggunakannya untuk berjudi. Lalu, mereka akan andil dalam berbagai gerakan pemberontakan atau pun Gerakan Ratu Adil yang menjanjikan kehidupan lebih baik.

Keberadaan para batur inilah yang konon menjadi unsur dalam Perang Diponegoro tahun 1925-1930. Mereka bertugas sebagai kurir dan penghubung satuan yang tersebar di wilayah Jawa Tengah. Bukan tanpa alasan para batur ini terjun dalam unsur pasukan Diponegoro. Onghokham menilai tekanan dari negara (dalam hal ini Keraton pada masa itu) yang membuat mereka menjadi seorang gelandangan (jika disebut lebih halus adalah pengembara) dan memiliki sentimen. Batur menjadikan Diponegoro sebagai “sandaran” dan bersedia menjadi kurir dengan anggapan Diponegoro adalah seorang “ratu adil” yang bakal membawa ke hidup lebih baik.

Gelandangan masa revolusioner

Jika pada era Perang Diponegoro, keberadaan para batur memegang peranan penting, pun demikian keberadaan mereka di masa revolusioner. Hendaru Tri Hanggoro dalam tulisannya Gelandangan Revolusioner’di laman Historia.id menyebutkan jika para gelandangan di Jogjakarta memiliki andil dalam mempertahankan republik dan dijadikan sebagai informan tentara maupun laskar rakyat melawan Belanda.

Pada Desember 1948, Jogjakarta berhasil dikuasai oleh pasukan Belanda. Masalah lain yang menjadi persoalan saat itu adalah kehadiran para pengungsi di Jogjakarta. Pengungsi ini terbagi dalam empat kelompok yakni wonge emis, wong kere, wong kramatan, dan kere tuntang. Mereka pun tersebar di berbagai penjuru kota dan memiliki wilayah kekuasaannya masing-masing.

Baca Juga:

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

Kelompok-kelompok gelandangan ini juga banyak membantu pihak TNI dan laskar rakyat dalam mengepung dan menggempur pasukan Belanda di tengah kota. Mereka ini tergabung dalam “Pasukan P” alias Pasukan Pengemis yang dibentuk pada 1946. Kemudian, ada pula yang tergabung dalam pasukan Laskar Kere pimpinan Harto. Ada pula Laskar Macan pimpinan Amat yang anak buahnya sebagian dari para copet, maling dan gelandangan. Mereka ini memiliki hubungan erat dengan anggota TNI maupun laskar.

Peran gelandangan yang disebutkan itu tak lain adalah menunjukkan dan mengarahkan pasukan TNI dan laskar ke daerah tertentu dengan tujuan mengurung pasukan Belanda di tengah kota. Tentu, ini mengagetkan pihak tentara Belanda. Gelandangan revolusioner ini muncul dari berbagai arah dan mereka ini memiliki pelarian yang cepat. Mulai dari melewati pemakaman hingga masuk gorong-gorong.

Taktik pelarian gelandangan itu diketahui oleh Belanda yang kerepotan. Akhirnya, banyak pasukan Belanda yang mengelas pagar pemakaman dan menutup gorong-gorong, serta mengepung area pemakaman yang menjadi lokasi pelarian. Banyak gelandangan yang gugur karena strategi Belanda ini. Mereka terlupakan dalam pusaran revolusi dan sejarah.

Hidup dalam ancaman

Tak hanya terpinggirkan dan terlupakan dalam pusaran revolusi, gelandangan pun hidup dalam ancaman dari dulu sampai sekarang. Mereka selalu menjadi sasaran para pemangku kepentingan karena dianggap mengganggu. Alih-alih dilindungi, gelandangan pun diburu, didenda, dan mereka dipenjara karena dianggap merugikan masyarakat.

Pada pertengahan abad ke-19, muncul kebijakan tanam paksa yang dijalankan Belanda. Hal itu memicu kegagalan panen di daerah pesisir utara Jawa. Banyak penduduk di daerah itu melarikan diri dan mencari makan di daerah pedalaman. Para gelandangan ini haru menghadapi bahaya seperti meluasnya epidemi dan mati kelaparan. Mereka yang ditampung oleh pihak Belanda, dipaksa untuk dipekerjakan dalam proyek jalan raya.

Onghokham juga menyinggung masalah gelandangan pada masa pendudukan Jepang di tanah air. Akibat kebijakan balatentara Jepang yang mencekik, membuat jumlah gelandangan semakin meningkat di berbagai kota. Fenomena ini lantas menjadi masalah baru bagi pemerintah pendudukan Jepang.

Gelandangan akhirnya menjadi target buruan. Pada masa itu ekonomi pun perekonomian merosot drastis. Banyak gelandangan yang terjaring razia tentara Jepang, mereka yang tertangkap lantas dijadikan sebagai tenaga kerja paksa atau romusha. Banyak dari mereka yang tak kembali.

Dari ulasan di atas, kita seolah mendapatkan gambaran bahwa keberadaan gelandangan turut membentuk jalannya sejarah bangsa. Jika setiap orang bijak dalam memahami esensi sejarah, maka sejarah tidak hanya sekadar hafalan tanggal peristiwa penting dan kisah deretan tokoh penting maupun para pembesar semata.

Lebih dari itu, sejarah menjadi pengingat kita bahwa setiap golongan dapat menjadi unsur penting pembentuk sejarah di masyarakat. Inilah yang harus kita sadari bersama ketimbang ribut terhadap persoalan penghapusan pelajaran sejarah dari kurikulum sekolah. Sebab, esensi sejarah lah yang akan menuntun kita ke masa depan.

BACA JUGA Gombloh dan Revolusi Melankolik Lewat Musik dan tulisan Irfantoni Listiyawan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2020 oleh

Irfantoni Listiyawan

Irfantoni Listiyawan

Penikmat dan pembaca sejarah musik. Content writer di Teknoia Creative. Beberapa tulisannya dimuat di Koran Tempo, Detik.com, Haluan.co, Times Indonesia, dan Good News from Indonesia

ArtikelTerkait

Kim Seon Ho: Karakter Selalu Multitalenta, tapi Mbuh Soal Cinta

18 September 2021
5 Hal yang Bikin Seseorang Gercep Lihat Story tapi Lemot Balas Chat WhatsApp terminal mojok

5 Hal yang Bikin Seseorang Gercep Lihat Story tapi Lemot Balas Chat WhatsApp

17 Juni 2021
Perayaan Ulang Tahun Adalah Pola Berulang yang Membosankan terminal mojok.co

Perayaan Ulang Tahun Adalah Pola Berulang yang Membosankan

29 Januari 2021
helen dan sukanta pidi baiq bandung novel cinta bagus recommended karl marx mojok.co

Pidi Baiq Akan Menuliskan Kisah Helen dan Sukanta Seperti Ini Andai Beliau Lahir di Imogiri

2 Juli 2020
Motor Honda Penyelamat Mahasiswa UNESA Ketintang Surabaya (Unsplash)

Berkat Irit dan Bobotnya Ringan, Motor Honda Menyelamatkan Mahasiswa UNESA Ketintang dari Ruwetnya Tempat Parkir dan Jalanan Surabaya

16 Maret 2024
Konten TikTok Buiramira: Jalan Ninja Mahasiswa yang Bingung Skripsi dan Malas Bimbingan mahasiswa akhir

Mahasiswa Akhir kok Alergi Ditanya tentang Skripsi, Pola Pikirnya Itu Lho, Remuk!

20 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.