Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menyuruh Orang untuk Cari Kerja biar Nggak Protes Melulu Itu Aneh

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
20 September 2020
A A
Menyuruh Orang untuk Cari Kerja Biar Nggak Protes Melulu Itu Aneh nyi roro kidul kritis skeptis netizen indocomment war facebook mojok.co

Menyuruh Orang untuk Cari Kerja Biar Nggak Protes Melulu Itu Aneh nyi roro kidul kritis skeptis netizen indocomment war facebook mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Entah berapa kali saya disuruh cari kerja. Padahal saya sendiri sudah punya pekerjaan. Bahkan orang yang menyuruh saya kerja bukanlah sanak saudara. Kenal saja tidak. Tanpa hujan tanpa angin, mereka berkomentar bahwa lebih baik saya mencari kerja. Alasannya, saya dipandang terlalu kritis dan banyak protes.

Komentar ini dapat ditemukan di tulisan saya tentang kritis di Jogja sampai Piagam TNI AL-Nyi Roro Kidul. Jika dirangkum, inti dari komentar-komentar tersebut adalah, “Daripada Anda kebanyakan protes, kebanyakan tanya, mending cari kerja!” Nah, saya bertanya-tanya tentang komentar ini. Mengapa sangat “template”?

Awalnya saya menduga komentar demikian adalah khas orang Jogja. namun setelah melakukan check and recheck, ternyata banyak orang luar Jogja yang gemar memakai komentar serupa sebagai senjata pamungkas. 

Akhirnya saya coba bertanya pada mereka yang gemar berkomentar demikian. Kebetulan, banyak orang di sekitar saya yang suka menggunakan komentar cari kerja ini. Bahkan keluarga saya sendiri ketika mengomentari aksi demonstrasi. Setidaknya saya menemukan beberapa jawaban berikut.

#1 Orang kritis dan protes dianggap pengangguran

Ini adalah alasan utama yang selalu saya temukan di berbagai komentar. Biasanya, narasi mereka menekankan bahwa orang yang kritis adalah pengangguran. Dengan asumsi pengangguran pasti punya banyak waktu luang serta sedang kekurangan. Seolah-olah, orang yang sudah bekerja tidak sempat jadi kritis dan protes.

Saya merasa alasan ini cukup lucu, apalagi ketika yang kritis dan protes sudah bekerja. Alasan ini seperti memukul rata semua orang kritis sebagai pengangguran. Padahal, banyak orang kritis yang sudah bekerja bahkan mapan. Bahkan ada orang yang memang bekerja dengan kekritisannya. Misal, komentator bola, kurator seni, sampai aktivis pesanan yang kadang muncul saat demo.

Asumsi ini makin berkembang dengan melibatkan dunia akademik dan menjadi alasan kedua berikut.

#2 Orang kritis biasanya mahasiswa yang tidak punya uang

Nah, alasan ini terjadi gara-gara keterlibatan aktif mahasiswa dalam demo. Alasan ini makin liar dengan asumsi setiap demo mahasiswa ditunggangi kepentingan. Mahasiswa mau ditunggangi kepentingan karena mereka butuh uang. Simpelnya, lebih baik cari kerja daripada dibayar karena protes.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Alasan ini lebih lucu dari alasan pertama. Pukul rata kali ini benar-benar offside. Tidak semua mahasiswa yang suka demo itu butuh uang. Dan tidak semua mahasiswa yang demo tidak punya pekerjaan sampingan.  Lebih lucunya, sikap kritis dan protes dipandang sebagai mata pencaharian “haram”. Jika semua orang kritis adalah mahasiswa bayaran, perputaran uang dalam lingkup orang kritis bisa mengalahkan perusahaan multinasional bahkan BUMN lho.

#3 Dengan cari kerja, orang bisa lebih bersyukur

Nah, saya pernah mendapat komentar ini di sebuah kesempatan. Kebetulan sekali, saya baru saja lulus dan tidak banyak yang tahu saya sudah bekerja. Komentar ini dilayangkan seorang teman pada bahasan yang tidak ada hubungannya dengan mencari nafkah. Saya hanya bisa berkomentar, “Lah?”

Bagaimana jika seseorang protes karena kondisi kerjanya? Protes karena gaji yang diterima mepet UMR yang sedikit itu? Dia protes karena kerja, bukan karena menganggur. Tapi kembali lagi pada budaya pukul rata ini. Semua yang protes dianggap orang nganggur dan selo lalu direkomendasikan segera cari kerja. Padahal, untuk apa protes tentang UMR jika Anda nganggur?

#4 Dengan giat kerja, kamu bisa menyelesaikan masalah yang kamu kritisi

Saya ingat betul komentar ini, “Daripada kamu protes, sebaiknya kamu cari kerja, Mbak. Kalau sudah kerja, kamu bisa ngurusin masalahmu.” Tentu komentar aslinya dalam bahasa Jawa. Kalau tidak salah, komentar ini ada dalam postingan si Mbak perihal cuti hamil. Sayang sekali, waktu itu hanya saya baca tanpa saya abadikan. Sebab, komentar ini (menurut saya) ada pada puncak komedi.

Sekarang, masalah utamanya adalah dia kritis karena dia bekerja. Selain komentator kali ini offside di puncak komedi, bekerja dan menyelesaikan masalah seperti cuti hamil bukan hal yang berkaitan. Seandainya Mbak ini bekerja lebih giat bahkan lembur, saya pikir peraturan perusahaan tentang cuti hamil tidak berubah. Berubahnya peraturan terjadi karena ada usulan berupa protes yang kritis, to?

#5 Kerja dapat uang, nanti kamu lupa untuk kritis

Komentar seperti ini saya dapatkan secara live, di sebuah kedai kopi. Saya sendiri hanya bisa manggut-manggut karena yang menyampaikan lebih tua dari bapak saya. Menurut beliau, uang akan membuat hidup seseorang lebih nyaman. Kenyamanan ini akan membuat orang tidak perlu repot untuk kritis. Oke, jadi perlu cari kerja nih?

Alasan ini sejalan dengan pemikiran “uang bisa membeli segalanya”. Sayang sekali, pemikiran ini sudah mendarah daging dalam pikiran masyarakat kita. Padahal banyak materi protes yang tidak bisa diselesaikan dengan uang. Sekadar dialihkan dengan uang juga tidak bisa. Sebut saja perkara RUU PKS. Sekaya apa pun seseorang, ancaman pelecehan dan kekerasan seksual bisa terjadi kok.

Sayang sekali, ujaran untuk cari kerja ini masih langgeng sebagai senjata pamungkas. Selain mencederai harga diri si kritis, orang yang berkomentar akan terkesan rasional. Si komentator terkesan seperti malaikat yang mengingatkan si kritis untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Memuakkan!

Photo by Cottonbro via Pexels.com

BACA JUGA Perjalanan Saya Memecahkan Bumbu Rahasia Indomie ala Aa Burjo dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 November 2025 oleh

Tags: Media SosialNetizen
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

postingan

Kalau Tidak Suka dengan Postingan Saya, Tinggal Unfollow Aja

18 Oktober 2019
Laporan Microsoft DCI Keliru, Netizen Indonesia Itu Cuma Baperan kok terminal mojok.co

Laporan Microsoft DCI Keliru, Netizen Indonesia Itu Cuma Baperan kok

28 Februari 2021
Buzzer Skincare: Udah Bikin Rugi Konsumen, Jatuhin Brand Lagi! Terminal Mojok.co

Buzzer Skincare: Udah Bikin Rugi Konsumen, Jatuhin Brand Lagi!

2 Maret 2022
5 Tips Berdebat di Media Sosial agar Terhindar dari Debat Kusir terminal mojok

5 Tips Berdebat di Media Sosial agar Terhindar dari Debat Kusir

6 Agustus 2021
Laporan Microsoft DCI Keliru, Netizen Indonesia Itu Cuma Baperan kok terminal mojok.co

Memasuki Era Berpengaruhnya Pendapat Netizen dalam Menentukan Nasib Para Anonim

1 Januari 2020
Penyesalan Seorang Pembuat Konten Hijrah terhadap Aktivitas Hijrahnya terminal mojok.co

Betapa Sulitnya Bergaul Dengan Orang yang Baru Hijrah

21 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik Mojok.co

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

19 Januari 2026
Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Polban, “Adik Kandung” ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.