Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Meniti Karier Itu Harus Pelan, Nggak Usah Ngebet Pengin Terkenal

Aly Reza oleh Aly Reza
4 September 2020
A A
Meniti Karier Itu Harus Pelan, Nggak Usah Ngebet Pengin Terkenal
Share on FacebookShare on Twitter

Setelah minggu sebelumnya disambangi Mustofa, kawan nyantri Kang Salim dan Misbah yang sekarang jadi redaktur surat kabar terkenal, siang itu keduanya ketamon kawan nyantrinya yang lain lagi, Danang.

Kebetulan siang itu Danang baru saja kelar membuat konten video review makanan khas daerah situ. Ia sengaja mampir ke rumah Kang Salim dan Misbah setelah mengetahui alamatnya dari Mustofa.

“Hla yo bejo kamu, Nang. Tadi pagi kami baru saja panen rambutan di kebun belakang,” sambut Misbah saat Danang tiba di kediaman Kang Salim dan Misbah. “Mantep tenan ini diganyang sambil ngobrol-ngobrol santai di cangkruk.”

“Kebetulan juga saya tadi ke warung lontong Tuyuhan yang legend itu loh, Mis. Ini saya bungkus buat disantap bareng-bareng,” timpal Danang sembari menyodorkan bungkusan plastik hitam di tangan kanannya.

“Sikaaattt, Bos. Dibikin satu nampan gitu makin gayeng kayaknya,” usul Kang Salim. “Itung-itung nostalgia jaman di pesantren dulu, hehehe.”

Selanjutnya, ketiganya menyantap lontong Tuyuhan dalam satu nampan dengan lhab-lheb, sampai tandas tak bersisa sama sekali. Bahkan sisa kuahnya pun turut disombor Misbah dengan ganas, sebagaimana kebiasaannya dulu kalau lagi makan ramai-ramai di pesantren.

Usai makan, sambil mencomot satu per satu rambutan yang tersaji, Danang kemudian membuka obrolan dengan pertanyaan, “Sampean udah pada tahu belum kalau Mustofa sekarang jadi redaktur di koran terkenal?”

Pertanyaan tersebut terbesit di benaknya setelah beberapa saat sebelumnya Kang Salim menyinggung soal Mustofa yang baru saja main ke rumah minggu lalu.

Baca Juga:

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Minggat dari Jakarta dan Memutuskan Hidup di Padang Adalah Keputusan Terbaik Meski Harus Melawan Arus

“Sementara saya. Duh, bikin konten video udah tahunan, tapi kok ya nggak terkenal-terkenal channel saya ini,” keluh Danang tiba-tiba.

“Tapi konten-kontenmu itu bagus loh, Nang,” aku Misbah. “Jangan salah, saya ini sering kok ngikutin konten-konten video yang kamu up. Lebih-lebih yang review tempat-tempat horor. Saya sering nyimak kalau itu.”

“Bagus itu lak menurut kamu tho, Mis,” respons Danang lesu. “Kamu bilang gitu hanya karena saya ini temen sampean saja, bukan karena konten saya bener-bener bagus. Iya tho, Mis?”

Mendengar ucapan Danang yang demikian, Misbah agak tersentak.

“Loh, loh, loh. Serius bukan gitu, Nang. Hla wong emang kontenmu itu bagus-bagus, kok.”

“Kalau konten saya bagus, kok kayak-kayak susah banget buat ngangkat,” keluh Danang lagi. “Padahal saya udah banyak evaluasi dan eksplorasi banyak hal. Saya malah jadi kepikiran, apa saya harus improve bikin konten prank sampah atau jual keperawanan gitu ya biar cepet viral.”

“Nang, saya mau nanya, nih,” Kang Salim menengahi sembari tangannya menimang-nimang sebuah rambutan. “Umpama pengin punya pohon rambutan yang rimbun dan berbuah ranum gitu, kira-kira apa yang perlu dilakukan?”

Sudah bisa menebak arah pertanyaan Kang Salim, Danang pun menjawabnya dengan sedikit kikuk. “Anu, anu, Kang, ya harus menanam benihnya di tanah yang cocok. Habis itu disiram terus, kalau perlu dipupuki, sampai akhirnya nanti bakal tumbuh pohon rambutannya.”

“Nah, gitu itu apa tumbuhnya langsung instan, Nang?” sentil Kang Salim.

“Hehehe, ya nggak tho, Kang. Harus sabar dan konsisten merawat benihnya dulu. Sedikit-sedikit, nanti tiba masanya benih tersebut tumbuh jadi pohon rambutan berbuah lebat seperti punya sampean ini.”

Melihat gerak tubuh Danang yang agak kikuk karena secara tak langsung telah menjawab keresahannya sendiri, Misbah cengar-cengir dari pojok cangkruk, sambil tak henti-hentinya mengganyang rambutan yang manisnya masya Allah itu.

“Kalau begitu, tetep sabar dan konsisten saja lah, Nang,” ucap Kang Salim dengan menyunggingkan senyum. “Kalau kata Ibnu Ajibah, rata-rata keberhasilan seseorang itu justru dimulai dari situasi khumul, situasi titik nol. Yaitu situasi ketika seseorang harus suquuth al-manzilah inda al-nas: nggak dianggap atau nggak dilihat sama sekali oleh orang lain.”

“Oh, saya inget maqalah itu, Kang,” sahut Misbah tiba-tiba. “Intinya, kalau pengin berhasil, maka tindakan pertama yang harus dilakukan itu kerja keras, mengerjakannya dengan pelan-pelan, tekun dan penuh komitmen, serta harus dibarengi dengan puasa dulu dari popularitas dan sorot publik. Pokoknya, nggak usah buru-buru pengin terkenal dulu lah, Nang.”

“Emang kenapa kalau awal-awal udah ngebet pengin terkenal?” protes Danang. “Bukankah itu justru bisa jadi pelecut semangat, tho, Mis?”

“Lah, mana? Nyatanya kamu malah putus asa gitu, og. Malah terbesit buat lewat jalur alternatif, bikin konten-konten sampah. Hayooo,” balas Misbah yang langsung membuat Danang menundukkan wajah.

“Nang, ilustrasi sederhananya ya dari kasus nanem pohon rambutan tadi itu, loh. Dan kamu udah tahu jawabannya,” Kang Salim kembali berujar setelah menelan kunyahan rambutan di mulutnya.

“Yang dikatakan Misbah tadi itu juga masuk banget, Nang. Yang kalau dibahasakan pakai dawuhnya Ibnu Athaillah, jadinya itu gini, ‘Kuburlah dirimu di dalam bumi khumul; bumi ketidaktenaran. Sembunyikan dirimu atau proses kerjamu dari perhatian orang banyak. Sebab, pohon besar yang menghasilkan buah yang banyak bermula dari benih kecil yang ditanam dan tersembunyi di dalam tanah.’ Pelan-pelan, nggak usah terburu-buru, apalagi sampai ngambil langkah sembrono. Sekarang terus tekun berkarya saja. Lebih awet orang yang terkenal lantaran prestasi dan kualitas karyanya kok ketimbang yang hanya moncer lewat sensasi.”

“Iya sih, Kang. Udah banyak kasus artis, penyanyi, atau YouTuber yang tanpa proses kreatif yang panjang tapi tahu-tahu jadi viral,” kini Danang mulai tercerahkan. “Dan kebanyakan emang mendompleng sensasi yang mereka buat-buat. Tapi umur kariernya juga nggak panjang sih, Kang. Ujung-ujungnya juga ngilang dari peredaran.”

“Iyap, betul banget. Banyak juga contoh kalangan artis, musisi, atau yang lain-lain bisa eksis sampai hari ini,” imbuh Misbah. “Itu karena mereka memulainya bener-bener dari titik nol, dari keadaan khumul yang dibarengi dengan ketekunan, komitmen, konsistensi berlatih, dan kerja keras. Bener begitu, Kang?”

“Mantep sekali kawan saya ini,” ujar Kang Salim sambil menggeleng-gelengkan kepala kepada Misbah. “Hasilnya bakal kelihatan tho, Mis, Nang. Penyanyi yang terkenal setelah melewati proses latihan yang lama, pasti bakal awet. Karena dia memperhatikan betul kualitas karyanya. Begitu sebaliknya.”

“Ibnu Athaillah yang kemudian disarahkan oleh Ibnu Ajibah juga menyebut, khumul sama maknanya dengan proses uzlah, mengisolasi diri dari keramaian,” lanjut Kang Salim. “Dari uzlah inilah seseorang akan mengambil langkah besar dan prestisius dalam hidupnya. Seperti Kanjeng Nabi yang setelah uzlah kemudian jadi sayyidu al-anbiya, pemimpin para Nabi, penyempurna ajaran-ajaran Tuhan. Namun dengan catatan, harus uzlah bi al-fikrah, uzlah dengan tafakur dan penuh perenungan. Karena tanpa itu, kata Ibnu Ajibah, uzlahmu hanya menyepi biasa, tanpa menghasilkan efek apa-apa bagimu sendiri, apalagi buat sekitarmu.”

“Apa maksud sampean, proses khumul saya; pelan-pelan dalam meniti karier, nggak keburu pengin viral dan terkenal itu, bakal sia-sia belaka jika tanpa saya barengi dengan perenungan, saya berkarya ini sebenernya buat apa dan untuk siapa?” respons Danang. “Proses khumul saya nggak akan ada hasilnya jika saya nggak mengikutinya dengan ketekunan, komitmen, dan kerja keras. Begitu, Kang?”

Kang Salim mengangguk membenarkan.

“Kamu pasti akan menikmati gemerlap popularitas kok, Nang, kalau udah melewati situasi khumul atau uzlah yang panjang itu,” sambung Kang Salim. “Tapi itu hanya bonus, jangan jadikan sebagai tujuan utama kamu berkarya. Mmmm, uzlah bi al-fikrah itu juga bisa dimaknai uzlah pikiran. Mengasingkan atau mengosongkan pikiran dari harapan-harapan duniawi yang kesemuanya itu sesaat belaka, yang sejatinya hanyalah fana.”

“Lantas, apa dong yang harus saya jadikan tujuan utama dalam berkarya?” Tanya Danang. “Dan, oh ya, bisa sampean perjelas lagi soal tafsir kedua dari uzlah bi al-fikrah tadi?”

“Dua pertanyaanmu itu, coba tanyakan saja pada Mustofa,” jawab Kang Salim. “Minggu lalu kami udah ngobrol banyak soal itu. Agak panjang kalau harus diulangi lagi sekarang, hahahaha.”

“Wooo, asem tenan sampean ini, Kang,” ujar Danang tidak terima. “Saya udah kadung sepaneng, je.”

Sementara Kang Salim dan Danang masih beradu mulut, di pojok cangkrung, diam-diam Misbah menandaskan sendiri rambutan di hadapannya yang tinggal tiga biji.

Disadur dari Menjadi Manusia Rohani karya Ulil Abshar Abdalla.

BACA JUGA Bekerja Kok untuk Duit, Aneh dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 September 2020 oleh

Tags: karierkhotbahkhumulsabarsukses
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Tips Apply CV via LinkedIn biar Nggak Cuma Ngetik "Interested" di Kolom Komentar terminal mojok.co

Tips Apply CV via LinkedIn biar Nggak Cuma Ngetik “Interested” di Kolom Komentar

30 April 2021
sudah lulus mau ngapain

Apa Saya Goblok Karena Belum Tahu Kalau Nanti Sudah Lulus Mau Ngapain?

2 Maret 2020
saya memang begitu orangnya, keburukan orang lain. teman lama ngontak lagi, orang datang pas butuh doang sifat teman menyebalkan bikin dijauhi teman suka ngomong sendiri suka cerita tanpa ditanya nggak mau dinasihati mojok.co

Betapa Sumpeknya Orang yang Hidupnya Cuma Nyari Kesalahan dan Keburukan Orang Lain

19 Juni 2020
Bootcamp Memang Mahal dan Tidak Menjaminmu Sukses, tapi Tak Berarti Tak Layak untuk Dicoba

Bootcamp Memang Mahal dan Tidak Menjaminmu Sukses, tapi Tak Berarti Tak Layak untuk Dicoba

25 Oktober 2024
Tips Menggunakan Linkedin Biar Keliatan Profesional dan Dihire Orang

Tips Menggunakan Linkedin Biar Keliatan Profesional dan Dihire Orang

31 Oktober 2019
baju lebaran

Yang Dianjurkan Rasulullah itu Beli Baju Lebaran untuk Anak Yatim Bukan buat Diri Sendiri

22 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.